Pencucian Ka'bah di Tengah Umrah dan Peranti yang Digunakan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penjagaan prosesi pencucian Ka'bah oleh Gubernur Makkah pada Senin (23/8/2021). Foto: gph.gov.sa
zoom-in-whitePerbesar
Penjagaan prosesi pencucian Ka'bah oleh Gubernur Makkah pada Senin (23/8/2021). Foto: gph.gov.sa

Pencucian Ka’bah merupakan proses rutin yang biasa digelar setiap tanggal 15 Muharam, telah dilakukan pada Senin (23/8/2021).

Prosesi berakhir dengan dikuncinya kembali pintu Ka’bah, bangunan paling suci yang dimuliakan umat Islam, oleh Saleh bin Zain Al-Abidin Al-Shaibi.

Upacara pencucian Ka’bah dimulai dengan kedatangan Gubernur Makkah Pangeran Khalid Al Faisal bersama deputinya, Bandar bin Sultan, Pjs Menteri Haji dan Umrah Dr. Issam bin Saad Bin Saeed dan Kepala Presidensi Urusan Umum Dua Masjid Suci Syeikh Abdulrahman As-Sudais.

Gubernur Makkah hadir untuk mewakili Raja Salman yang bergelar Penjaga Dua aAsjid Suci.

Di pintu Ka’bah yang dibuka oleh sang pemegang kunci, telah terpasang tangga mobile terbuat dari kayu berukir.

Gubernur Makkah dan rombongan lantas naik tangga dan memasuki area dalam Ka’bah. Lalu dimulailah proses pencucian.

Peralatan untuk mencuci dan membersihkan Ka'bah. Foto: Twitter/@ReasahAlharmain

Gubernur Makkah beserta tamu yang hadir mendapatkan selembar kain yang diberi cairan wewangian, kemudian menggosokkan kain itu ke bagian dalam Ka’bah. Proses ini berlangsung sekitar 25 menit.

Setelah pencucian selesai, rombongan keluar dari Ka’bah. Mereka lalu salat sunah di samping maqam Ibrahim (tempat berpijak Nabi Ibrahim saat membangun Ka’bah).

Prosesi berakhir dengan dikuncinya kembali pintu Ka’bah oleh Saleh bin Zain Al-Abidin Al-Shaibi.

Rombongan Gubernur Makkah Pangeran Khaled Al Faisal dan Syeikh as-Sudais menuruni tangga Ka'bah setelah pencucian selesai, Senin (23/8/2021). Foto: gph.gov.sa
Rombongan Gubernur Makkah Pangeran Khaled Al Faisal dan Syeikh as-Sudais menuruni tangga Ka'bah setelah pencucian selesai, Senin (23/8/2021). Foto: gph.gov.sa
Gubernur Makkah Pangeran Khaled Al Faisal (kedua kiri) menunaikan salat sunah dua rakaat setelah prosesi pencucian Ka'bah, Senin (23/8/2021). Foto: gph.gov.sa
Gubernur Makkah Pangeran Khaled Al Faisal menunaikan salat sunah dua rakaat setelah prosesi pencucian Ka'bah, Senin (23/8/2021). Foto: gph.gov.sa

Umrah Tetap Berlangsung

Komandan keamanan di Masjidil Haram, Mayjen Al-Bassami, menyatakan bahwa persiapan upacara pencucian Ka’bah telah dipersiapkan sejak pekan lalu.

“Dan saat upacara pencucian berlangsung, Tawaf tetap berlangsung, tidak berhenti,” ujarnya seperti disiarkan TV Alekbhariya.

Jemaah umrah tetap Tawaf pada saat prosesi pencucian Ka'bah. Foto: Youtube/Makkah Live

Dalam tayangan televisi, saat prosesi pencucian berlangsung memang jemaah umrah tetap melaksanakan Tawaf, yaitu memutari Ka'bah tujuh kali berlawanan arah jarum jam.

Sedangkan di bagian lainnya di Masjidil Haram, jemaah umrah melaksanakan Sa'i, yaitu berjalan/lari kecil dari Bukit Marwa ke Bukit Safa tujuh kali bolak-balik.

Jumlah jemaah yang umrah tidak seramai sebelum pandemi. Setiap hari, Masjidil Haram menerima 60 ribu jemaah umrah yang dibagi dalam 9 selot waktu sehingga tidak terjadi penumpukan jemaah pada jam tertentu.

Peralatan Pencucian Ka'bah

Peralatan untuk mencuci dan membersihkan Ka'bah. Foto: Twitter/@ReasahAlharmain

Di area Masjidil Haram juga ditampilkan lemari pajang terbuat dari kaca yang memperlihatkan peralatan yang digunakan untuk mencuci dan membersihkan Ka’bah. Misalnya, wadah tempat menyimpan wewangian yang terbuat dari air mawar, oud, dan parfum.

Juga wadah untuk mencampur wewangian kualitas nomor satu dengan air Zamzam. Terdapat juga peralatan penyedot elektronik.

Upacara pencucian Ka'bah merupakan sunah Nabi Muhammad SAW.

Petugas di Masjidil Haram memperlihatkan peralatan untuk upacara pencucian Ka'bah kepada tamu undangan. Foto: Dok. gph.gov.sa

Pada abad modern, pencucian Ka'bah melibatkan banyak pihak, misalnya duta besar/perwakilan dari negara muslim di Arab Saudi. Undangan itu sebagai simbol bahwa pencucian melibatkan kaum muslim di seluruh dunia.

Namun, karena saat ini pandemi, pencucian dilakukan dengan menerapkan prokes. Tidak ada surat undangan yang dibagikan sehingga kerumunan tidak tercipta.