Pendaki Asal Brasil yang Tewas di Rinjani Dievakuasi, Kini Menuju Pos Sembalun

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Juliana Marins, WN Brasil yang jatuh di Gunung Rinjani, Juni 2025 Foto: Instagram/@resgatejulianamarins
zoom-in-whitePerbesar
Juliana Marins, WN Brasil yang jatuh di Gunung Rinjani, Juni 2025 Foto: Instagram/@resgatejulianamarins

Tim SAR gabungan telah berhasil menarik dari jurang jenazah Juliana De Souza Pereira Marins (27 tahun), pendaki asal Brasil yang terjatuh di Gunung Rinjani.

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, mengatakan petugas menggunakan teknik lifting.

Petugas masih dalam perjalan membawa korban menuju ke puncak Gunung Rinjani, untuk terus menuju Pos Sembalun.

"Diputuskan bahwa untuk evakuasi korban dilaksanakan dengan tali dengan teknik lifting. Saat ini informasi dari SMC (SAR Mission Coordinator) yang ada di lapangan disampaikan bahwa korban alhamdulillah sudah berada di punggung dari LKP (last known position)," kata Syafii saat dikonfirmasi, Rabu (25/6).

Kepala Basarnas Marsekal Madya M Syafii memberikan update tentang Juliana De Souza Pereira Marins, WN Brasil yang jatuh di Gunung Rinjani, 24 Juni 2025. Foto: Dok: Basarnas

Akan ke Pos Sembalun, lalu ke RS Polri

Setelah itu, kata Syafii, petugas menuju ke Pos Sembalun Gunung Rinjani dan korban direncanakan dibawa ke Rumah Sakit Polri.

"Mudah-mudahan saat ini sedang dalam perjalanan menuju Pos Sembalun dan nantinya akan kita arahkan ke RS Polri," kata Syafii.

Operasi pencarian pendaki Brasil, Juliana, yang terjatuh di Gunung Rinjani. Foto: Dok: Basarnas

Syafii mengungkapkan, pada pencarian hari ini, Basarnas telah menyiapkan sejumlah pesawat untuk menyisir sejak pagi.

Namun, kondisi cuaca yang tidak memungkinkan akhirnya diputuskan evakuasi korban menggunakan tali.

"Begitu juga sarana atau alutsista yang juga dikerahkan juga ada beberapa pesawat yang sudah standby ada dua pesawat dari Basarnas itu sendiri dan juga dari PT Aman Mineral. Itu yang di standby-kan," ungkapnya.

"Namun karena memang kondisi cuaca sehingga penggunaan pesawat memang tidak efektif dan itu akan kita siagakan untuk melaksanakan evakuasi medis udara," lanjutnya.