Penderitaan Para WNI Saat Ditahan Israel: Hanya Diberi Sepotong Roti dan Disiksa

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konjen RI di Istanbul bersama 9 relawan WNI yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla 2.0. Foto: Instagram/ @menluri
zoom-in-whitePerbesar
Konjen RI di Istanbul bersama 9 relawan WNI yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla 2.0. Foto: Instagram/ @menluri

Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang ikut serta dalam pelayaran misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla akhirnya tiba di Indonesia pada Minggu (24/5) sore.

Salah satu relawan, Rahendro Herubowo, yang saat itu menumpangi kapal Ozgurluk menceritakan pengalaman yang ia alami selama berada dalam tahanan setelah kapal yang ditumpangi rombongan aktivis tersebut dicegat di perjalanan menuju Gaza pada Senin(18/5).

“Alhamdulillah akhirnya bisa sampai di sini, Alhamdulillah. Kondisinya sehat-sehat. Ya, alhamdulillah kita bisa tiba di tanah air dengan selamat ya. Masih sedikit terasa ya nyeri-nyeri di bagian dalam atau pun luar saya, dan nanti setelah ini kita melakukan medical check-up lagi di rumah sakit setelah ini,” kata Herubowo saat tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Minggu (24/5).

Ia menjelaskan bahwa sejak awal penangkapan, para relawan langsung mendapat perlakuan kasar. Menurutnya, kekerasan terjadi baik saat proses penahanan di kapal maupun dalam perjalanan ke ruang-ruang transisi.

Kapal angkatan laut Israel mencegat Armada Global Sumud yang sedang menuju Gaza, dalam upaya untuk mengirimkan bantuan pada Senin (18/5/2026). Foto: Global Sumud Flotilla

“Pertama kita ditelungkupkan, lalu tiba-tiba ada air mengalir sehingga badan kita basah kan. Nah terus, dari situ kita ke administrasi mereka. Nah, di ruangan transisi pertama itu kita mulai disiksa,” ungkapnya.

“Saya dipukul kepala ya, sudah nggak tahu berapa kali ya, terus badan depan, belakang, dan saya jatuh juga sempat diinjak. Terakhir saya disetrum sehingga akhirnya saya teriak cukup kencang, baru mereka akhirnya melepaskan,” lanjutnya.

Herubowo juga menyebut, perlakuan tersebut tidak hanya terjadi pada dirinya, tetapi juga dialami para relawan lain selama berada di kapal tahanan.

“Dari satu ruangan ke ruangan lain itu juga kita penuh physical treatment ya, diborgol dan dimainin tadi. Jalan nunduk jatuh ditendang, seperti itu kurang lebihnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi penahanan juga disertai keterbatasan makanan dan situasi yang tidak manusiawi selama beberapa hari.

Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono sambut anggota Indonesia dari Armada Sumud Global yang menuju Gaza tiba di bandara Soekarno-Hatta di Tangerang pada 24 Mei 2026. Foto: Dok. Kemlu RI

“Selama di tahanan di atas kapal itu kita cuma dibekali roti, sama air yang cukup terbatas ya. Dan teman-teman aktivis sepakat kita mogok makan di sana,” katanya.

Herubowo juga mengaku mengalami kondisi ekstrem menjelang pemindahan ke imigrasi, termasuk dijemur dan dipaksa dalam posisi tertentu selama berjam-jam.

“Bahkan pas terakhir sebelum kita dibawa ke imigrasi kita harus jongkok dijemur jam 12.00 siang itu, kita harus telungkup untuk menunggu antrean selama 2 jam. Jadi 4 sampai 5 jam lah kita telungkup terus di situ,” ujarnya.

Ia menyebut sebagian relawan mengalami luka dan memar di berbagai bagian tubuh, termasuk dugaan pelecehan seksual terhadap relawan perempuan.

“Teman-teman cederanya hampir sama ya semua di bagian punggung, kepala. Teman-teman aktivis perempuan juga kalau saya dengar kabar ada yang mengalami pelecehan juga,” ucapnya.

Terkait proses hukum, Herubowo menyebut dirinya tidak lagi memiliki akses komunikasi selama penahanan berlangsung. Ia juga menuturkan bahwa para relawan sempat menjalani pemeriksaan kesehatan setibanya di Turki.

“Setahu saya memang kemarin setelah kita dilepaskan kita sampai di Turki itu, kita diambil darah, diambil urine, lalu kita dimintai keterangan oleh polisi setempat,” katanya.

Meski mengalami perlakuan tersebut, Herubowo menegaskan dirinya tidak kapok untuk kembali terlibat dalam misi kemanusiaan serupa.

“Kalau dibilang kapok, ya enggak kapok karena apa yang kita alami ini jauh lebih ringan daripada penderitaan rakyat Gaza di Palestina. Kita akan berusaha terus untuk menjebol blokade Gaza apa pun caranya,” ujarnya.