Peneliti IPB: Status Ekologi Teluk Jakarta dan Pelabuhan Ratu Buruk

Peneliti dari IPB melakukan riset di Teluk Jakarta dan Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Hasilnya di dua lokasi itu, terdapat gangguan dan pencemaran pada ekosistem peraira.
Dalam keterangan pers Humas IPB, Senin (13/11) salah satu pendekatan yang dilakukan untuk monitoring lingkungan perairan adalah melalui Indeks Biotik AMBI (AZTI Marine Biotoc Index). Testing dan validasi harus dilakukan agar penggunaan AMBI sesuai untuk negara tropis seperti Indonesia.
Sembilan orang peneliti dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB) yaitu Yusli Wardiatno, Hefni Effendi, Majariana Krisanti, Ali Mashar, Mursalin, Reza Zulmi, Dwi Yuni Wulandari, Yuyun Qonita, dan Siti Nursiyamah, melakukan penelitian terkait testing aplikasi dan kesesuaian indeks biotik AMBI dalam penentuan kualitas ekologi sedimen perairan pesisir terbuka dan teluk daerah tropis.
"Penelitian ini bertujuan untuk menguji aplikasi dan kesesuaian penggunaan indeks AMBI dalam menentukan kualitas ekologi sedimen dasar perairan. Penelitian tersebut dilakukan di Teluk Jakarta dan Teluk Palabuhanratu pada Mei hingga November 2016," demikian keterangan Humas IPB.

Dan hasil penelitian menunjukkan bahwa makrozoobentos yang ditemukan di Teluk Palabuhanratu terdiri dari 102 taksa dengan kepadatan berkisar antara 59 hingga 4.806 ind/m2, sedangkan yang ditemukan di Teluk Jakarta terdiri dari 30 taksa dengan kepadatan antara 22 hingga 6.598 ind/m2.
Polychaeta adalah kelompok makrozoobentos yang mendominasi di kedua lokasi penelitian. Nilai AMBI makrozoobentos berkisar antara 0,5 hingga 3,5 di Teluk Palabuhanratu yang tergolong tidak terganggu hingga terganggu sedang. Dan antara 0,87 hingga 1,50 di Teluk Jakarta yang tergolong terganggu ringan hingga Ttrganggu Berat.
"Nilai M-AMBI makrozoobentos berkisar antara 0,31 hingga 0,87 di Teluk Palabuhanratu dengan status ekologi Buruk hingga Tinggi, dan antara 0,04 hingga 0,90 di Teluk Jakarta dengan status ekologi Sangat Buruk hingga Tinggi," demikian penjelasan Humas IPB.
Kondisi Sungai Kalibaru Timur Tercemar Berat
Terkait kondisi di Jakarta, salah satu penelitian lainnya di Sungai Kalibaru Timur yang membelah Jakarta Timur, Jakarta Pusat, dan Jakarta Utara. Sungai sepanjang ± 30,2 km, menarik minat Rahmat Pangestu dari program studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB), serta Etty Riani, danHefni Effendi, para peneliti dari departemen Manajemen Sumberdaya Perairan IPB untuk meneliti analisis daya tampung beban pencemaran sungai Kalibaru Timur provinsi DKI Jakarta.
“Penggunaan lahan di sepanjang sungai Kalibaru Timur didominasi oleh pemukiman penduduk, jasa, perdagangan, perkantoran serta industri dengan rataan 90%. Disadari atau tidak, serangkaian aktivitas tersebut telah banyak berkontribusi terhadap pencemaran Sungai Kalibaru. Apalagi Jakarta masih minim fasilitas pengolahan air limbah kota (sewerage system). Oleh sebab itu, maka perlu diketahui sebenarnya berapa Daya Tampung Beban Pencemaran (DTBP) Sungai Kalibaru Timur ini” ujar Rahmat.

Rahmat menjelaskan bahwa seluruh parameter dalam riset ini dihitung dengan menggunakan indeks pencemaran dan diklasifikasikan menjadi empat kelas berdasarkan PP Nomor 82 Tahun 2001. Parameter yang diamati dalam penelitian ini yaitu TSS (Total Suspended Solid), BOD (Biochemichal Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand), serta Total Coliform.
“Identifikasi sumber pencemar sungai berdasarkan wilayah administrasi maupun Sub DAS yang mengalir di Kota Jakarta, ataupun Wilayah Pengaliran Drainase setempat yang masuk ke badan sungai. Secara spasial dapat ditelusuri sumber pencemar yang masuk ke Sungai Kalibaru Timur adalah melalui anak sungai dan saluran terbuka dan atau langsung melalui run-aff. Potensi beban pencemaran ini bersumber dari limbah rumah tangga dan sampah. Kontribusi beban pencemaran terbesar berasal dari limbah rumah tangga yang berada pada kelas 3, karena memiliki kepadatan penduduk dengan 304 sampai 481 Ha/jiwa” papar Rahmat lagi.
Menurut Rahmat, kondisi kualitas air sungai Kalibaru Timur bervariasi dari cemar sedang hingga cemar berat. Total beban pencemar di sungai Kalibaru Timur sudah melampaui DTBP sehingga perlu penurunan beban pencemar agar kualitas air sungai memenuhi baku mutu kelas II.
“Kajian ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk menentukan mutu air Sungai Kalibaru Timur. Sebab, strategi dan prinsip-prinsip pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan merupakan landasan bagi penyusunan arah kebijakan serta pengelolaan yang sustainable, karena seperti yang kita ketahui bersama sungai sebagai tempat air yang mengalir mempunyai banyak fungsi bagi kehidupan” pungkasnya.


