Peneliti IPB Temukan Obat Antibakteri dari Kulit Batang Sawo Manila

Resistensi suatu bakteri terhadap sebagian besar jenis antibiotik, semakin meningkat terlihat dengan banyaknya beberapa jenis infeksi baru -- yang membutuhkan penanganan serius-- yang bermunculan. Obat antibakteri alternatif pun semakin dibutuhkan.
Berangkat dari temuan itu, tiga orang peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan riset aktivitas antibakteri fraksi metanol kaya kuersetin, dari kulit batang pohon Sawo Manila (Manilkara Zapota).
Adalah Swira Ekalina, Purwatiningsih Sugita, dan Irma Herwati Suparto yang meriset temuan itu. Ketiganya adalah peneliti dari Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Purwatiningsih mengatakan, Sawo Manila adalah tumbuhan kaya aktivitas biologis, salah satunya sebagai antimikrob. Bagian akar, bunga, daun dan kulit batang tumbuhan ini telah teruji memiliki aktivitas sebagai antibakteri.
“Berdasarkan hasil riset, tumbuhan Sawo Manila sangat efektif sebagai antibakteri untuk berbagai spesies bakteri gram positif dan negatif. Meskipun demikian, penelitian-penelitian tersebut hanya terbatas pada ekstrak kasarnya saja,” jelasnya dalam rilis Humas IPB, Kamis (28/9).
Purwatiningsih menjelaskan, sebanyak 13 senyawa triterpenoid telah diisolasi dari kulit batang sawo Manila. Senyawa tersebut terdiri dari 6 senyawa taraksastana triterpenoid dan 7 senyawa lupana triterpenoid. Pengujian aktivitas antibakteri 13 senyawa tersebut terhadap B. subtilis, S. aureus dan E. coli memiliki nilai konsentrasi hambat minimum lebih dari 1 mg/mL.
Sejumlah penelitian pada ekstrak tumbuhan Sawo Manila juga menunjukkan bahwa ekstrak kulit batang sawo tersebut sangat berpotensi sebagai agen antibakteri. Meskipun demikian, belum pernah dilaporkan kajian mengenai kelompok senyawa selain triterpenoid sebagai agen antibakteri dari Sawo Manila.
"Penelitian menyangkut tumbuhan Sawo Manila sebagai antibakteri di Indonesia, hanya terbatas pada ekstrak kasar buah dan kulit batangnya saja," papar Purwatiningsih.
"Penelitian untuk mengetahui senyawa aktif antibakteri dari kulit batang Sawo Manila belum pernah dilakukan di Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Barat. Padahal tanaman ini relatif mudah ditemukan di daerah tersebut,” imbuh dia.

Hasil pencirian senyawa fraksi metanol bebas tanin dari ekstrak pelarut terpilih (metanol), menunjukkan kulit batang Sawo Manila memiliki kromatogram spektroskopi massa dengan kelimpahan mendekati 100% pada Rt 16.83 menit.
"Senyawa tersebut diduga merupakan senyawa terpenting antibakteri dari kulit batang Sawo Manila," kata Purwatiningsih.
