Peneliti Ungkap Kronologi Penemuan Corona Delta Plus di Jambi dan Mamuju

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penampakan varian Corona Delta terungkap. Foto: Dok. Jason Roberts/VIDRL - Doherty Institute, 2021
zoom-in-whitePerbesar
Penampakan varian Corona Delta terungkap. Foto: Dok. Jason Roberts/VIDRL - Doherty Institute, 2021

Tiga kasus varian Delta Plus baru-baru ini dilaporkan ditemukan di Indonesia. Namun, nyatanya varian ini sudah lama teridentifikasi.

Satu kasus varian Delta Plus yang ditemukan di Mamuju,Sulawesi Barat sudah ditemukan pada Februari 2021. Sementara dua kasus lainnya ditemukan di Jambi pada April lalu, namun baru disubmit ke Global Initiative on Sharing Avian Influenza Data (GISAID) Juli ini.

“Varian Delta Plus atau AY.1 berdasarkan data genom SARS-CoV-2 dari Indonesia yang ditampilkan di data publik GISAID dan outbreak.info sudah masuk Indonesia pada bulan Februari 2021. Dari data tersebut, genom pertama yang ditemukan di Mamuju, Sulawesi Barat memiliki collection date 15 Februari 2021,” kata Peneliti Bioinformatika Independen, Sahal Sabilil Muttaqin, kepada kumparan, Rabu (28/7).

“Kemudian dua genom lain ditemukan di Jambi dengan collection date 2 dan 5 April 2021. Namun memang dua genom dari Jambi baru diunggah pada tanggal 25 Juli 2021 lalu. Jadi kita memiliki 3 genom varian Delta Plus saat ini,” imbuh dia.

Kendati demikian, Sahal tidak mengetahui lebih lanjut bagaimana cara pengambilan sampel maupun Whole Genome Sequencing (WGS) hingga varian Delta Plus bisa teridentifikasi di Indonesia. Artinya, ia tidak tahu apakan varian ini tidak sengaja ditemukan saat WGS, atau ada kasus yg memang menimbulkan kecurigaan varian Delta Plus sehingga dilakukan WGS.

embed from external kumparan

WGS sendiri adalah teknik pengetesan sampel kasus SARS-CoV-2 untuk memetakan varian baru. Tes ini biasa dilakukan di Litbangkes atau lembaga biomolekuler seperti Eijkman.

“Saya tidak tahu strategi sampling yang dilakukan sehingga mendapatkan sampel-sampel yang memiliki varian Delta Plus, akan lebih baik konfirmasi ke institusi yang mengunggah. Namun, kita akan dapat gambaran jika membaca Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/4842/2021,” jelas Sahal.

Istilah Delta Plus sendiri muncul dari Kementerian Kesehatan India. Varian Delta Plus pertama kali terdeteksi di Eropa pada Maret lalu, sebelum merebak di India dan diumumkan di sana pada akhir Juni 2021.