Peneliti Unpad Kembangkan Model Rantai Pasok Makanan dalam Situasi Bencana
ยทwaktu baca 3 menit

Bencana alam sering terjadi di Indonesia, negara yang berlokasi di cincin api Pasifik. Terbaru, gempa bumi yang juga mengakibatkan longsor terjadi di Cianjur, Jabar. Gempa dengan magnitudo 5,6 tersebut mengakibatkan ribuan rumah warga hancur dan ratusan orang meninggal dunia.
Setelah bencana tersebut, muncul sejumlah isu terutama soal warga terdampak yang tak tersentuh bantuan.
Berlatar belakang maraknya bencana, dosen dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Dr Tommy Perdana, mengembangkan penelitian dalam bidang food supply chain dan logistik pangan dalam situasi bencana.
Tommy mengatakan, penelitian itu dilakukan karena Indonesia layaknya "supermarket bencana alam" yang memerlukan antisipasi dari berbagai aspek.
Menurut dia, penelitian itu berfokus pada analisis desain jaringan pasokan pangan dalam situasi bencana. Dia pun memetakan tahap perencanaan, alokasi anggaran, dan bahan makanan prioritas.
"Misalnya, bahan makanan prioritasnya adalah beras dari mitra industri Bulog sebagai Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Alokasi anggaran beras itu nantinya harus berdasarkan tiga hal, yakni tujuan efisiensi biaya, jumlah kuantitas yang terpenuhi akan kebutuhan beras, dan terakhir mengenai waste yang harus diminimalisir jumlah sampahnya jangan sampai menumpuk," kata Tommy melalui keterangan tertulis, Selasa (29/11).
Selain mencakup ketahanan pangan dan kebencanaan, kata Tommy, penelitian yang dilakukannya pun berupaya menuntaskan permasalahan dan konflik bantuan sosial yang acap kali tertahan di tengah jalan sebelum berhasil didistribusikan kepada masyarakat.
"Hal ini merujuk pada proses pengembangan food safety dan trust ability system," ucap dosen Sistem Agribisnis, Rekayasa Rantai Pasok, dan Manajemen Logistik ini.
Menurut Tommy, penelitian yang dilakukannya telah dipublikasikan di sejumlah jurnal ilmiah. Selain itu, dia bakal mempublikasi hasil riset yang telah dilakukannya ke BNPB. Diharapkan, nantinya dia juga dapat mendapatkan masukan dari BNPB.
Tommy sudah merencanakan riset sejak 2003. Sembilan tahun kemudian atau tepatnya pada 2018, dia menemukan mitra untuk mendukung gagasannya yakni Prof Stephan Onggo dan Prof Christine dari Southampton Business School di Inggris.
"Kemitraan ini membuka peluang mendapat pendanaan riset dari Agricultural and Food Research Council (AFRC) UKRI (United Kingdom Research and Innovation) yang mengusung tema Global Challenges Riset Fund, tema tersebut mengarah kepada peran matematika dalam mengatasi pembangunan global," kata Tommy.
Ke depan, Tommy berharap penelitian yang dilakukannya dapat memperkuat sistem pangan di Indonesia menjadi lebih tangguh terutama ketika terjadinya suatu bencana.
"Tangguh dalam arti bisa beradaptasi dalam segala situasi, bisa cepat recovery sampai bertransformasi ke hal yang lebih baik. Jika semua aspek pangan di dalam Global Security Index sudah dirasa ideal, maka ketahanan pangan secara berkelanjutan bisa diwujudkan secara nyata baik dilihat dari sisi ekonomi, maupun sisi lingkungan," ungkap Tommy.
