Pengakuan Pembunuh Mahasiswa UI: Kripto, Pinjol, hingga Dihantui Korban
ยทwaktu baca 3 menit

Altafasalya Ardnika Basya menyatakan penyesalannya sudah membunuh mahasiswa Sastra Rusia UI, Muhammad Naufal Zidan. Bisnis kripto yang merugi membuatnya terjerat pinjol hingga akhirnya membunuh adik kelasnya sendiri itu.
Dihadirkan langsung saat konferensi pers di Polres Depok, Altafasalya, menyampaikan rasa penyesalannya itu.
"Ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada Ibu korban, Bapak korban, keluarga korban, kerabat-kerabat korban, teman-teman, pihak-pihak yang dirugikan, dan semua orang yang sudah saya kecewakan, saya akan menjalankan hukuman ini dan menerima konsekuensinya dengan kooperatif," kata Altafasalya, Sabtu (5/8).
Naufal dibunuh di kamar kosnya di Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok. Pembunuhan terjadi pada Rabu (2/8) sekitar pukul 18.30 WIB.
Saat itu, korban dan pelaku sama-sama baru pulang dari kampus. Dengan menggunakan motor miliknya, pelaku mengantarkan korban ke kosnya.
Turun dari motor, korban dan pelaku menuju kamar. Namun, pelaku sempat kembali ke motor untuk mengambil pisau yang kemudian disembunyikannya di kantong celana.
Pengakuan pelaku, ia memang menyimpan pisau di jok motornya. Dalihnya, berjaga-jaga bila bertemu begal di jalan.
"Saya sudah taruh di situ lama karena di Kukusan banyak begal," ujar dia.
Pembunuhan terjadi ketika belakangan pelaku pura-pura pamit pulang. Dalam posisi membuka pintu, korban ditendang pelaku yang kemudian menusuknya.
"Saya tidak ada masalah dengan korban, tidak ada masalah pribadi, tidak ada dendam karena saya sudah putus asa juga, itu rencana baru muncul pas saya nganter pulang di hari Rabu sebelum kejadian," ungkap dia.
Korban sempat melawan dengan menggigit tangan pelaku. Pelaku kemudian mendorong tangannya yang sedang digigit itu hingga korban terjungkal. Cincin pelaku tertelan korban dan nyangkut di tenggorokan.
Setelah itu, pelaku melakukan penusukan berulang, hingga 10 kali.
"Saya enggak tahu di situ saya gelap," ucapnya.
Jenazah Naufal baru ditemukan pada Jumat (4/8). Kondisinya, terbungkus dalam trash bag di kolong kasur. Tangan dan kakinya diikat lakban.
Kripto Berujung Pinjol
Altafasalya diduga tega membunuh Naufal karena ingin menguasai hartanya. Sebab, ia mengaku terlilit utang yang tak mampu dibayarnya.
Korban dan pelaku disebut teman dekat meski berbeda angkatan di kampus. Keduanya bahkan disebut sama-sama bisnis kripto.
Altafasalya disebut sempat menikmati keuntungan dari bisnis tersebut. Namun sejak awal tahun 2023, ia merugi hingga puluhan juta.
"Total kerugian saya ada Rp 80 juta di aset kripto saya," ujar Altafasalya.
Ia kemudian meminjam ke Naufal sebesar Rp 200 ribu yang kemudian dikembalikannya. Namun, ia juga meminjam ke pinjol dan pihak lain dengan nilai Rp 15 juta.
"Untuk pinjol, sedikit, Rp 3 juta," ujar dia.
Ia mengaku sudah meminta bantuan orang tua soal utangnya. Namun, ia kemudian mencoba menyelesaikannya sendiri.
"Saya mencoba menyelesaikan masalah saya sendiri berbagai cara, dari cara-cara yang bener sampai terakhir ini yang merugikan banyak orang," papar dia.
Ia membunuh Naufal dan kemudian mengambil barang-barangnya seperti laptop, hp, dan kartu ATM. Menurut dia, hal itu dilakukannya karena sudah putus asa.
"Saya sudah hopeless, saya sudah enggak nemu jalan yang terang untuk menyelesaikan masalah saya sendiri," ujar Altafasalya.
Dihantui Korban
Usai membunuh korban, Altafasalya malah dihantui rasa bersalah. Bahkan, ia mengaku pernah didatangi korban di dalam mimpi.
"Saya sangat percaya mimpi itu adalah pertanda, beberapa waktu lalu saya pernah mimpi ditangkap. Setelah kejadian, saya mimpi dibunuh sama korban dan disaksikan banyak orang," ungkap dia.
Altafasalya bahkan mengaku pernah terpikir untuk bunuh diri. Saat korban melawan ketika akan dibunuh, Altafasalya pun mengaku sudah siap bila dirinya ikut terbunuh.
"Korban juga sempat melawan dan saya sudah memberikan kesempatan korban biar melawan, biar hari itu selesai semua, [mati] berdua," ujar dia.
Saya beri kesempatan untuk korban bunuh saya juga
- Altafasalya
Namun, apa pun yang dikatakannya, korban tetap meninggal dengan 10 luka tusukan. Saat ini, Altafasalya sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. Ia terancam hukuman maksimal pidana mati.
