Pengakuan SYL di Sidang: Beri Rp 1,3 M untuk Firli; Klaim Menteri Paling Miskin

25 Juni 2024 7:53 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Terdakwa kasus pemerasan dan gratifikasi di Kementerian Pertanian yang juga mantan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (tengah) usai menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (12/6/2024). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Terdakwa kasus pemerasan dan gratifikasi di Kementerian Pertanian yang juga mantan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (tengah) usai menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (12/6/2024). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Eks Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menjadi saksi mahkota dalam lanjutan persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (24/6). Sejumlah perbuatan dia akui di depan majelis hakim.
ADVERTISEMENT
Mulai dari pemberian uang kepada Firli Bahuri saat masih menjadi Ketua KPK hingga mengeklaim sebagai menteri paling miskin. Berikut rangkuman pengakuan dari eks Gubernur Sulawesi Selatan itu.
Tahu Istri Terima Rp 30 Juta Per Bulan dari Kementan
Eks Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) bersama istri, anak, dan cucunya jelang persidangan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (29/5/2024). Foto: Fadhil Pramudya/kumparan
SYL mengaku tahu bahwa istrinya, Ayun Sri Harahap, menerima uang bulanan dari Kementerian Pertanian sebesar Rp 30 juta per bulan. Namun, dia meyakini uang itu resmi dan dianggarkan.
"Itu uang Rumah Tangga, kemudian uang Dharma Wanita, ini semua protap semua menteri, protap pejabat termasuk gubernur, ada uang Rumah Tangga," kata SYL.
Soal uang bulanan ini, sempat diungkap seorang saksi bernama Muhammad Yunus. Dia adalah staf pada Biro Umum Pengadaan Kementan. Ia salah satu pihak yang menyediakan uang itu.
ADVERTISEMENT
Yunus mengaku sudah menyiapkan permintaan dana itu sejak 2020. SYL dilantik sebagai Mentan pada 23 Oktober 2019.
Menurut Yunus, awalnya uang yang disiapkan untuk istri SYL adalah Rp 15 juta per bulan. Kemudian naik menjadi Rp 25 juta, hingga akhirnya menyentuh Rp 30 juta.
Menurut Yunus, ia menyediakan dana tersebut selama hampir 2 tahun bekerja. Rutin setiap bulan.
Sangkal Minta Anak Buah Kumpulkan Dana Sharing
SYL menyangkal pernah memerintahkan anak buah mengumpulkan dana urunan dari para eselon I Kementan.
Dalam dakwaan, SYL mengumpulkan uang pungli itu melalui Kasdi Subagyono selaku Sekjen Kementerian Pertanian dan juga M. Hatta selaku Direktur Alat dan Mesin Pertanian. Ketiganya terdakwa di kasus ini.
"Nauzubillah, saya sudah terlalu lama jadi pejabat, dan saya tidak biasa seperti itu, pasti tidak Yang Mulia," kata SYL.
ADVERTISEMENT
SYL mengaku baru tahu adanya pengumpulan dana tersebut setelah terungkap dalam persidangan. Politikus NasDem itu bahkan mengaku tak tahu saat penyelidik KPK mengusut hal tersebut.
"Yang pasti tidak. Saya terlalu lama jadi birokrat tidak pernah sampaikan hal-hal seperti itu," ujar SYL.
Marah saat Tahu Anak Dibelikan Mobil
Anak SYL, Indira Chunda Thita, salah satu pihak yang disebut mendapat keuntungan dari uang hasil urunan pejabat Kementan. Dia mendapat mobil Toyota Innova Venturer.
SYL mengaku memarahi ajudannya, Panji, karena membelikan Thita mobil itu. Sebab, SYL mengaku hanya memerintahkan untuk menyediakan mobil, bukan membeli.
"Saya minta kepada Panji bahwa kasih mobil Thita agar jangan pakai mobil dinas, karena kadang-kadang dipakai oleh Garnita. Oleh karena itu, carikan mobil di mana untuk itu, bukan untuk membeli," kata SYL.
ADVERTISEMENT
"Sehingga waktu saya tahu itu dibeli saya marah sama Panji, untuk apa, siapa yang mau pakai mobil itu," papar SYL.
Namun, hakim merespons lain.
"Akhirnya dipake juga oleh anak Saudara, walaupun Saudara marah tapi ndak ada usaha untuk mengembalikan atau sekalian dijual lagi dan dikembalikan," kata Hakim.
SYL: Saya Tak Pernah Jadi Bapak yang Baik
SYL sempat tersedu-sedu ketika membahas keluarganya di persidangan. Dia mengaku belum menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya.
Dalam persidangan, terungkap bahwa istri, anak, hingga cucu SYL menerima sejumlah fasilitas yang kemudian dibayarkan oleh Kementan. Seperti mobil, tiket perjalanan, hingga biaya untuk ulang tahun serta khitanan.
"Saya sudah 30 tahun lebih menjadi pejabat dan nanti setelah akhir-akhir ini saya merasa bahwa saya bukan suami yang baik bagi istri saya. Saya bukan kakek yang baik bagi cucu saya. Saya tidak pernah jadi bapak yang baik..." kata-kata SYL terhenti.
ADVERTISEMENT
"...bagi anak-anak saya," lanjut SYL dengan nada sendu.
"Oleh karena itu, di akhir-akhir ini, kadang-kadang saya ajak mereka, ayok, saya mau senangkan mereka, kan harganya juga tidak seberapa, katakanlah seperti itu, membelikan dia jaket," sambungnya.
Minta Cucunya Jadi Honorer Kementan
SYL mengakui meminta ke Kasdi Subagyono untuk memasukkan cucunya, Andri Tenri Bilang Radisyah Melati alias Bibi, sebagai tenaga magang di Kementan.
“Cucu saya, saya yang minta Pak Kasdi ‘tolong Pak Kasdi, kasih magang dia’ dia baru selesai di Unhas [Universitas Hasanuddin],” kata SYL.
"Saya sebagai kakek lah, saya mau berjasa sedikit sama anak-anak yang besok, mungkin dengan magang dia punya referensi untuk mendaftar sebagai pegawai ASN, itu aja tujuannya,” ungkap dia.
ADVERTISEMENT
Namun dia mengaku tak pernah mencampuri urusan gaji Bibi di Kementan yang mencapai Rp 10 juta per bulan itu.
Akui Beri Uang Rp 1,3 Miliar ke Firli Bahuri
Ketua KPK Firli Bahuri saat memimpin konpers penahanan OTT Pj Bupati Sorong, Selasa (14/11/2023). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Dalam persidangan juga, SYL mengakui pernah memberikan uang Rp 1,3 miliar kepada Firli Bahuri saat menjabat Ketua KPK. Uang itu diberikan bertahap.
Pertama pemberian di sebuah GOR Bulu Tangkis sebesar Rp 500 juta. Kemudian ada pemberian lainnya sebesar Rp 800 juta. SYL tak merinci pemberian kedua itu.
Hakim lalu mendalami tujuan pemberian uang tersebut.
"Itu intinya apa itu? Untuk penyerahan itu intinya apa? Untuk tidak melanjutkan perkara atau gimana?” tanya hakim.
“Tidak disebut apa-apa, saya merasa bahwa kenapa saya dipanggil terus ini, dan yang proaktif mem-WA saya adalah Pak Firli,” kata SYL.
ADVERTISEMENT
'Hadiah' SYL untuk Biduan Nayunda
SYL juga mengakui sejumlah pemberiannya untuk seorang biduan bernama Nayunda Nabila. Pertama, soal honor manggung. SYL menilai bayaran Nayunda terlalu rendah, sehingga dia meminta kepada Kasdi dan Hatta untuk menambahnya.
“Saya jelaskan, supaya tahu, ini bukan pemberian seperti apa-apa, dia [Nayunda] habis kerja,” imbuh SYL.
Dalam persidangan sebelumnya, terungkap ada sejumlah penerimaan Nayunda. Mulai dari emas, tas, hingga uang. Ia bahkan pernah menjadi honorer dengan gaji total Rp 45 juta, meski dalam setahun hanya masuk dua kali.
Nayunda juga disebut pernah menerima honor menyanyi dalam acara yang diadakan oleh Kementan. Nilainya Rp 30 juta.
Kedua, benarkan Nayunda dapat pekerjaan di Kementan. SYL menyebut Nayunda menjadi honorer dengan memasukkan lamaran ke Kementan. Dia membantah mencampuri agar Nayunda lolos seleksi.
ADVERTISEMENT
“Saya begitu saja tahu bahwa dia harus melamar dan setelah melamar dia dapat pekerjaan di situ dan tentu saja saya tidak ikuti dan tidak mencampuri seperti itu,” ungkap SYL.
Ketiga, SYL mengakui pernah membayari uang cicilan apartemen Nayunda. Dia mengeklaim sebagai sosok pengayom.
"Sebenernya cuma satu kali [bantu cicilan], cuma dua kali penyampaiannya," ujar SYL.
Pedangdut Nayunda Nabila bersiap menjadi saksi dalam sidang lanjutan kasus pemerasan dan gratifikasi di Kementerian dengan terdakwa Syahrul Yasin Limpo di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (29/5/2024). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO
SYL mengaku membantu karena Nayunda disebut hampir diusir dari apartemennya.
"Karena begini, saya sebagai tokoh Sulawesi Selatan, saya sebagai pengayom, orang tuanya orang semua orang Bugis Makassar di sini. Itu pada waktu pada saat COVID, dia sudah mau diusir dari apartemennya, saya niat baik saja," ucap SYL.
"Tidak ada niat apa-apa di situ," lanjutnya.
ADVERTISEMENT
Kirim Rp 2 Miliar ke Rekening KPK
SYL juga disebut mengirim uang senilai Rp 2 miliar ke rekening KPK. Tapi tidak jelas statusnya untuk apa.
"Adakah Terdakwa ingat yang di nomor rekening Terdakwa yang pernah Terdakwa titipkan kepada KPK?" tanya jaksa.
"Uang apa itu?" jawab SYL.
"Uang, baik bentuk pengembalian maupun penitipan. Terdakwa punya Bank Mandiri?" tanya jaksa.
"Saya tidak paham persis apa Bank Mandiri atau apa," jawab SYL.
Dia mengaku tak tahu terkait uang titipan Rp 2 miliar yang dipindahkan ke rekening KPK tersebut. Dia tidak merasa pernah menyetorkan uang itu.
SYL: Saya Menteri Paling Miskin
Dalam kesempatan itu pula, SYL mengaku sebagai menteri paling miskin. Dia mengatakan, rumah pribadinya di Makassar masih dicicil.
ADVERTISEMENT
“Saya ini termasuk menteri yang paling miskin. Rumah saya itu, di BTN di Makassar waktu saya gubernur. Ini baru saja saya mau mencicil karena saya berharap di akhir perjalanan umur saya yang 70 tahun saya berada di sini, dan ini dicicil,” kata SYL menutup kesaksiannya.
Dalam perkaranya, SYL dkk didakwa melakukan korupsi dengan pungli dan pemerasan di lingkungan Kementan. Total pungli yang mereka kumpulkan mencapai Rp 44,5 miliar.