Pengalaman Screening Corona di RSUP dr Kariadi Semarang

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana IGD RSUP Kariadi, Semarang. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana IGD RSUP Kariadi, Semarang. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan

Perkenalkan, saya biasa dipanggil Seli atau Afiati, wartawan kumparan yang bertugas di Semarang. Saya akan berbagi pengalaman saat mengikuti screening corona di RSUP dr Kariadi.

Tepatnya, 23 Maret 2020 menjadi hari yang penuh ketidakpastian bagi saya. Kenapa? Hari itu saya beranikan diri mendatangi RSUP dr Kariadi Semarang, yang juga rumah sakit rujukan pertama penanganan corona di Jawa Tengah.

Saya datang dengan keluhan flu dan batuk. Tanpa demam, tanpa riwayat perjalanan ke negara terjangkit atau wilayah lain yang terjangkit. Tapi saat itu, Kota Semarang sudah memiliki 5 kasus positif. 4 Di antaranya dirawat di rumah sakit yang saya datangi itu.

Saya memutuskan datang ke sana, setelah selama 4 hari cukup intens berkomunikasi dengan sejumlah dokter. Pekerjaan saya, memudahkan saya untuk bisa berkomunikasi dengan ahlinya.

Dua dokter saya hubungi, mereka adalah dr Nurdopo Baskoro (Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUP dr Kariadi, Semarang) dan dr Tri Kuncoro (Direktur RSUD Prof Dr Margono Soekarjo, Purwokerto). Mengapa mereka? Karena keduanya ramah dan tidak sungkan memberi informasi.

Mulanya saya mengirim pesan lewat WhatsApp ke dokter Baskoro, Jumat 20 Februari sekitar pukul 12.11 WIB. Saat itu, hanya dijawab dengan stiker yang memberitahu bahwa beliau akan Salat Jumat dulu.

Kira-kira begini bunyi pesan saya ke dokter Baskoro, "Assalamualaikum dokter Bas, selamat siang. dok mau nanya, gejalanya COVID-19 sama flu biasa itu mirip? Saya dua hari ini flu, agak was-was juga... kemarin masih kerja, hari ini izin kantor untuk stay di kos. Tapi malah makin kepikiran wkwk baiknya gimana ya dok?".

Selang 1,5 jam, tepatnya pukul 13.31 WIB, dokter Baskoro membalas dengan jawaban yang membubat saya tenang "Kalau meler biasanya enggak mbak.. batuknya kering," katanya disambung dengan, "Banyak makan ga usah mikir diet-dietan".

Setelah itu, ada satu dua obrolan santai dan saya kembali bertanya apakah perlu saya screening corona? Dokter Bas memberi saya support.

Hati saya sedikit ayem. Tapi belum cukup rasanya. Saya putuskan untuk bertanya ke Dokter Tri. Inti pesannya sama, namun beliau sempat mengiyakan saat saya bertanya apa saya tetap perlu periksa atau tidak.

Hari itu saya dilanda gundah. Tidak periksa, tapi paranoid. Mau periksa, tapi takut. Apa bedanya? hehehe. Akhirnya diputuskan untuk menunda. Namun, malam itu malah batuk menyusul.

Sampai Minggu 22 Maret, batuk dan flu tak kunjung reda. Saya panik. Beberapa teman jurnalis yang bertemu saya juga terlihat tidak nyaman dengan kondisi saya di dekat mereka. Saya maklum.

Hari itu saya putuskan untuk mengabarkan ke dokter Baskoro, perkembangan kondisi klinis saya. Akhirnya beliau mengiyakan saat saya bertanya apa bisa saya screening di RSUP dr Kariadi.

Self assesment form COVID-19 di RSUP Kariadi, Semarang. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan

Senin, 23 Maret, sekitar pukul 09.15 WIB saya berangkat dari tempat tinggal menuju RSUP dr Kariadi. Sekitar pukul 09.30 WIB, saya menerima form setelah menunggu dua orang ibu-ibu yang tampak sehat namun ngeyel meminta dilakukan pemeriksaan. Saya kemudian mengisi form 'Self Assessment COVID-19".

Tak lama, seorang perawat laki-laki memanggil saya dan memegang form yang sudah saya isi, "Mbak demam? Flu? Batuk?" Saya jawab, "Tidak demam, tapi flu dan batuk sudah 4 hari. Diobati belum kelihatan perbandingannya,".

Perawat itu kemudian mengambil thermo gun dan mengujinya ke saya. Suhunya 36 sekian, saya lupa persisnya. Perawat itu tanya lagi, "Ada riwayat perjalanan ke mana?".

Suasana IGD RSUP Kariadi, Semarang. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan

Lalu saya jelaskan, saya seorang pewarta. Sejak Semarang ada Corona saya aktif ke sana ke mari. Berjabat, bertemu dan berkumpul dengan banyak orang. Saya tidak pernah tahu kalau-kalau, di antara yang saya temui ada yang ditempeli virus itu.

Sejurus kemudian perawat itu menulis 'stempel' PDP alias Pasien Dalam Perawatan. Kaget bukan main. Tapi itu yang saya lihat. Kemudian perawat itu bilang, "Setelah ini nunggu dipanggil untuk cek Lab dan foto thorax ya, ditunggu saja agak jauh dari lokasi ini. Di sini terlalu rawan" katanya.

Rawan yang dimaksud adalah, lokasi screening di RSUP dr Kariadi berada di pintu masuk pasien IGD. Di mana lokasi itu lalu lalang pasien sakit, entah sakit yang lain, atau yang sakit corona.

Saya menunggu dengan sabar, satu jam dua jam. Pada jam selanjutnya saya mulai bingung, kok belum juga dipanggil. Kemudian saya bertanya pada salah satu perawat, kapan saya akan dipanggil.

"Mbak masuk jam berapa? kalau di atas jam 9, nanti tesnya setelah jam 12.00 WIB," katanya singkat.

Singkat cerita, Pukul 13.00 saya dipanggil untuk diambil darahnya. Saya masuk ke sebuah ruangan di depan ruang IGD, sudah ada petugas ber-APD lengkap menunggu. Setelah diambil sampel darah, saya kembali harus menunggu.

Kali ini, lebih tidak jelas lagi. Awalnya saya diam saja, saya berusaha maklum para perawat itu pusing mengatur antrian periksa Corona, belum kalau ada pasien yang masuk ke IGD. Kondisinya cukup ruwet.

Saya diam dan memperhatikan, ada sejumlah perawat dan dokter muda datang. Tampaknya mereka juga akan tes Corona.

Akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya. "Mas, saya nunggu dipanggil untuk foto thorax, kapan ya?" saat itu, jam tangan saya menunjukkan pukul 15.00 WIB.

Perawat itu bilang, sebentar lagi akan dimulai. Saya disarankan untuk ke kantin dulu membeli minum. Mungkin si perawat sadar saya tidak makan dan minum selama menunggu panggilan.

Sekitar 15.30 WIB, saya kembali ke depan ruang IGD. Seorang satpam memegangi nama-nama yang akan dipanggil, saya bertanya, adakah nama saya dalam antrean yang dipegangnya. Saya kecewa karena nama saya tidak ada.

Diam-diam saya menyadari, rombongan perawat dan dokter muda yang datang tadi sudah selesai melakukan rangkaian pemeriksaan. Duh! Saya tidak berani protes. Akhirnya saya maju, dan saya minta untuk disegerakan. Sebab saya harus bekerja.

Dalam kondisi menunggu, saya membunuh waktu dengan membuat berita. Tentu dari teman yang bisa saya titip-i rekaman karena saya tidak bisa berangkat liputan.

Selama itu, saya juga terus berkomunikasi dengan Korda saya, mas Reza. Beliau sempat kaget saat saya cerita saya dikategorikan PDP oleh perawat Kariadi.

Setelah lama menunggu, sekitar pukul 18.30 WIB, akhirnya saya dipanggil untuk mengikuti pemeriksaan rontgen atau foto thorax. Selesai pengambilan rontgen, saya bertanya pada perawat, harus menunggu berapa lama sampai hasil lab dan rontgen selesai.

"Kalau ditunggu ya lama, masih berjam-jam. Saran saya mbaknya pulang dulu saja. Langsung pulang. Ganti baju, mandi, bajunya dicuci." Saya pun mengikuti sarannya.

Sesampai di kost, saya mandi dan merendam pakaian yang saya gunakan seharian di Kariadi. Kemudian saya mengontak Dokter Baskoro. Mengabarkan bahwa sudah selesai mengikuti rangkaian test.

Saya sempat bertanya mengapa saya dilabeli PDP pada form saya. Beliau menjelaskan, bahwa itu hanya stempel. Paling penting, kata dokter Bas, pulang kemudian istirahat dan mengurangi interaksi dengan banyak orang.

Kemudian dokter Baskoro bertanya pada saya, tes apa saja yang saya ikuti. Setelah saya menjawab salah satunya foto thorax, beliau menanyakan nama lengkap saya dan membantu melihat hasilnya.

Sekitar dua jam, beliau memberikan kabar baik. Hasil rontgen saya normal. Jantung dan paru saya normal. Hanya tulang belakang saya ternyata agak bengkok, skoliosis.

"Alhamdulillah saya lega" kata saya membalas pesan membahagiakan dari dokter Baskoro.

Sayangnya, dokter Baskoro tak bisa membantu saya untuk melihat hasil lab dari sampel saya.

Saya bersyukur, leganya bukan main. Artinya batuk dan flu saya tidak ada kaitannya dengan corona. Keesokan harinya, saya percaya diri menuju ke RSUP dr Kariadi untuk mengambil hasil tes COVID-19 saya.

Suasana IGD RSUP Kariadi, Semarang. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan

Tapi saya kaget, karena yang semula saya mendapat informasi bila screening COVID-19 di sana gratis ternyata berbayar. Totalnya Rp 373.609 yang harus saya bayarkan. Petugas kasir mengatakan, screening COVID-19 di RSUP dr Kariadi memang berbayar.

"Kalau yang gratis di RSUD Tugu," ujarnya singkat.

Pesan saya, terutama pada yang sehat, tidak perlu memeriksakan diri. Jangan egois. Jangan biarkan petugas dan perawat kelelahan karena harus menjelaskan bahwa anda sehat dan membuat orang yang semestinya mendapat perawatan jadi tertunda.

Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan Semoga Tuhan segera mengambil virus corona ini dari Bumi Pertiwi. Aamiin.

****

kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!