Pengamat Bicara Rapor Kinerja Purbaya Merah, Soroti Daya Beli hingga Utang

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pejabat lama Purbaya Yudhi Sadewa menyapa karyawan Kementerian Keuangan yang disaksikan Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kanan) seusai serah terima jabatan Menteri keuangan di Kemenkeu, Jakarta, Selasa (15/9/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pejabat lama Purbaya Yudhi Sadewa menyapa karyawan Kementerian Keuangan yang disaksikan Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kanan) seusai serah terima jabatan Menteri keuangan di Kemenkeu, Jakarta, Selasa (15/9/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Pengamat politik Adi Prayitno menanggapi keputusan Presiden Prabowo Subianto yang mereshuffle Purbaya Yudhi Sadewa dari Menteri Keuangan.

Adi menilai, kinerja Purbaya selama menjabat Menteri Keuangan memiliki sejumlah catatan yang membuat rapornya merah. Ia menyoroti persoalan daya beli masyarakat, lapangan kerja, nilai tukar rupiah, hingga pertambahan utang negara.

Purbaya dicopot dari jabatan Menteri Keuangan dalam reshuffle Kabinet Merah Putih pada Senin (14/9). Posisinya kemudian digantikan Suahasil Nazara yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan.

Menurut Adi, alasan substantif di balik pergantian Purbaya dapat dilihat dari sejumlah indikator ekonomi yang dinilainya belum sesuai dengan harapan.

"Secara rasional, secara substantif alasan Purbaya diganti tentu banyak faktor. Misalnya ada klaim pertumbuhan ekonomi naik secara signifikan atau pertumbuhan ekonomi itu positif, itu kan statement yang disampaikan oleh pemerintah melalui menterinya. Tapi pada saat bersamaan daya beli masyarakat itu semakin menurun," kata Adi dalam keterangannya dikutip Kamis (17/9).

Ia juga menyoroti akses masyarakat terhadap lapangan pekerjaan, khususnya di sektor formal. Menurutnya, persoalan tersebut menjadi salah satu catatan karena Menteri Keuangan memiliki tanggung jawab besar terhadap kondisi keuangan negara.

"Jadi wajar hal-hal seperti ini menjadi faktor penting bahwa Menteri Keuangan punya tanggung jawab besar dengan situasi keuangan yang ada di negara kita," ujarnya.

Direktur Eksekutif Parameter Politik, Adi Prayitno saat diskusi dengan tema "Wajah Islam Politik Pasca Pilpres 2019" di Kantor Parameter Politik, Jakarta. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Soroti Rupiah hingga Pertumbuhan Ekonomi

Selain daya beli dan lapangan kerja, Adi menilai nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga menjadi catatan dalam kinerja Purbaya.

Menurutnya, rupiah belum menunjukkan penguatan yang signifikan terhadap dolar AS.

"Itu tentu menjadi catatan yang sifatnya minus," tegas Adi.

Adi kemudian mengingat kembali pernyataan optimistis Purbaya mengenai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia sebelum menjabat Menteri Keuangan.

"Purbaya yang dalam banyak hal kalau dulu kita dengarkan pidato politiknya, ceramah politiknya, penuh dengan optimisme. Dia sebut gampanglah kalau sekadar pertumbuhan ekonomi di Indonesia 6 persen di depan mata, 7 persen itu tinggal menghitung waktu dan seterusnya," tuturnya.

Menurut Adi, optimisme tersebut belum sepenuhnya terwujud selama Purbaya menjabat Menteri Keuangan.

Pejabat lama Purbaya Yudhi Sadewa berjalan keluar gedung seusai serah terima jabatan Menteri Keuangan di Kemenkeu, Jakarta, Selasa (15/9/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Utang dan MBG Jadi Catatan

Adi juga menyoroti pertambahan utang negara serta persoalan dalam pelaksanaan program strategis pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Utang kita terus bertambah dan program strategis misalnya MBG itu yang justru telah melahirkan sejumlah praktik korupsi," kata Adi.

Menurut dia, berbagai persoalan tersebut menjadi catatan kritis terhadap kinerja Purbaya selama menjabat Menteri Keuangan.

"Dan itulah yang kemudian menjadi catatan-catatan kritis kenapa kinerja Menteri Keuangan itu dinilai punya rapor merah dan sangat layak untuk diganti dengan yang baru, yaitu Suahasil Nazara," pungkasnya.

Adi juga menilai pencopotan Purbaya tidak terlepas dari dinamika politik pemerintahan. Namun, ia menyebut faktor kinerja tetap menjadi salah satu alasan yang dapat dilihat secara substantif.