Pengamat: Golkar Bisa Pecah di 2019, Ulangi Pilpres 2014

kumparanNEWSverified-green

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengamat Politik UIN Jakarta, Adi Prayitno. (Foto: Dok. Adi Prayitno)
zoom-in-whitePerbesar
Pengamat Politik UIN Jakarta, Adi Prayitno. (Foto: Dok. Adi Prayitno)

Eks politikus Partai Golkar Fadel Muhammad memprediksi bahwa pada Pilpres 2019, Golkar bisa kembali pecah dan sebagian kadernya bakal mendukung Prabowo-Sandi.

Pengamat Politik UIN, Adi Praytino, menilai perpecahan Golkar di Pilpres memang sudah biasa terjadi. Menurutnya, di tahun 2014 saja Golkar terpecah antara kubu Aburizal Bakrie dengan kubu Jusuf Kalla. Adi melihat potensi tersebut bisa kembali terjadi di Pilpres 2019.

“Ya kalau Golkar terpecah itu memang biasa dalam Pilpres ya, 2014 lalu juga pecah 2009 juga pecah kan antara kubu JK dan Ical. Nah potensi itu juga akan bisa terjadi di Pilpres 2019,” ucap Adi saat dihubungi kumparan, Selasa (28/8) malam.

Menurutnya, gejolak politik di tubuh Golkar cukup terbuka. Apalagi, lanjutnya, kedekatan Ical dengan Prabowo tak bisa dinafikan. Ia juga melihat gejolak tersebut juga sudah mulai terlihat disaat Ical beberapa kali mengkritik pemerintahan Jokowi.

“Dinamika dan gejolak di Golkar cukup terbuka di Pilpres 2019. Nah yang kedua ketegasan Ical dengan Prabowo memang tidak dinafikan apalagi misalnya Ical yang mengkritik pembubaran deklarasi 212 itu juga dianggap sebagai sinyal bahwa Ical sebenarnya mempunyai kecenderungan politik dan tidak ke pemerintah,” ujarnya.

Aburizal Bakrie (Foto: Ferio Pristiawan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Aburizal Bakrie (Foto: Ferio Pristiawan/kumparan)

“Kalau Ical kan dekatnya dengan Prabowo sudah lama sejak sama-sama di Golkar Prabowo juga kan Golkar juga waktu itu jadi kedekatan ini tidak bisa dinafikan bahkan Ical rela berseberangan dengan pengurus yang lain karena ingin mendukung Prabowo kan di Pilpres 2014 lalu, jadi kedekatan ini yang dibaca oleh publik cara linear dengan cara Ical mengkritik membubarkan aksi ganti presiden,” sambungnya.

Adi juga menilai elektabilitas Prabowo-Sandi yang semakin bergerak mendekati Jokowi bisa menjadi pemicu para elit Partai Golkar saling berseberangan.

“Kalau saya melihat sepertinya sikap Partai Golkar yang terpecah itu biasa terutama macam elit tadi ya statment-statment tapi di luar itu saya membaca kalau elektabilitasnya Prabowo-Sandi bergerak dinamis terus mendekati Jokowi kemungkinan Golkar pecah iya,” terangnya.

Adi mengatakan banyaknya kubu atau faksi-faksi yang ada di tubuh Golkar membuat potensi saling berseberangan dalam sikap politik merupakan hal yang biasa ditubuh partai berlambang beringin itu.

"Ya karena dari dulu memang Golkar ini memang terbiasa terbela karena banyak elit dan faksi-faksi di dalamnya itu suka berseberangan ada faksi JK ada faksi Ical ada faksi Setnov ditambah lagi faksinya Airlangga jadi faksi-faksi ini memang cukup mengeras," katanya.

Menurut Adi saking banyaknya kubu ditubuh Golkar membuat kepentingan politik di dalam partai tersebut tidak saling ketemu, sehingga sikap politik Golkar yang sudah mendukung Jokowi di Pipres 2019 bisa terbela. Ia juga menyebut meskipun sudah secara resmi mendukung Jokowi, bukan tak mungkin jajaran elit di Golkar akan berseberangan dan bahkan mendukung Prabowo.

"Karena saking banyaknya faski di Golkar dan kadang kepentingan politiknya tak saling ketemu ya akan terbela sikap politiknya, tapi memang secara formal Golkar akan mendukung Jokowi karena dukungannya kan udh diberikan ke KPU. Dukungan yang sudah diberikan ke KPU tidak serta merta ditarik kembali itu aturannya, paling mungkin dilevel elit yang berbeda, akan ada satu perahu, nakhodanya bisa dua, perahunya mungkin ke Jokowi tapi penumpangannya bisa ke lain tempat," tutupnya.