Pengamat Politik Ujang Komarudin Soroti Bahaya Kooptasi Kekuasaan terhadap NU

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengamat Politik, Ujang Komarudin, dalam Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU, di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (24/8/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pengamat Politik, Ujang Komarudin, dalam Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU, di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (24/8/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), ancaman kooptasi kekuasaan terhadap organisasi menjadi salah satu isu yang dibahas dalam mencari sosok ideal Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Pengamat politik, Ujang Komarudin, menilai posisi NU perlu dijaga agar tidak berada di bawah bayang-bayang kekuasaan. Rais Aam juga dinilai harus mampu menjaga NU dari kepentingan politik praktis.

Pandangan itu disampaikan Ujang dalam Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU bertajuk Mencari Sosok Ideal Rais Aam PBNU di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (24/8).

Ujang mengatakan, sosok Rais Aam yang ideal bukanlah pihak yang menjadi sumber konflik, melainkan mampu mengelola konflik yang ada di dalam organisasi.

“Saya melihat sosok figur Rais Aam itu, dia bukan dari pemecah atau sumber konflik. Tapi mampu me-manage konflik atau menyelesaikan konflik yang ada. Jadi tidak bisa Rais Aam itu, dalam bayangan saya, dalam perspektif saya, dia itu bagian daripada konflik itu. Tapi adalah sosok figur atau kiai sepuh, yang memang mampu mendesain konflik, ya agar apa? Agar bisa selesai. Bukan menciptakan konflik itu,” jelas Ujang.

Dia kemudian mencontohkan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang dinilainya memiliki kemampuan dalam mengelola konflik.

“Bahkan Gus Dur, saya banyak baca pikiran-pikirannya, beliau adalah seorang ulama yang ahli manajemen konflik,” tambah dia.

Ujang menilai, konflik dalam organisasi tidak selalu harus berujung pada kerugian. Jika dikelola dengan baik, konflik justru dapat memperkuat organisasi.

“Jadi bagaimana konflik misalkan di NU, konflik di PKB, itu tidak menjadi, mohon maaf, kerugian bagi NU. Tetapi bisa membesarkan NU sebagai bagian dari organisasi yang mestinya sama-sama kuat dari negara itu,” terang dia.

Selain kemampuan mengelola konflik, Ujang menekankan pentingnya menjaga NU agar tidak masuk ke politik praktis.

“Yang ketiga, adalah menjaga NU tidak berpolitik praktis,” ujarnya.

Menurut Ujang, NU perlu menjaga jarak dengan kepentingan politik dan kekuasaan. Posisi NU, kata dia, harus tetap dibutuhkan masyarakat sekaligus memiliki peran dalam kehidupan bernegara.

“Jadi posisi negara di sini, posisi NU di sini. Agar apa? Agar NU betul-betul menjadi organisasi yang bukan hanya tadi, kehadirannya diharapkan oleh publik, tapi kehadirannya juga dibutuhkan oleh negara. Bukan ada dalam bayang-bayang negara atau dalam bayang-bayang kekuasaan,” beber Ujang.

Lebih lanjut, Ujang menilai Rais Aam memiliki peran dalam menjaga moral organisasi. Hal itu dinilai penting di tengah persoalan moral dalam kehidupan politik dan sosial.

“Selanjutnya, yaitu menjaga moral organisasi. Kelebihan NU adalah organisasi yang di dalamnya banyak katakanlah kiai-kiai yang kredibilitasnya bisa kita uji dan tidak bisa diragukan lagi,” jelasnya.

Dia kemudian menekankan peran Rais Aam dan para kiai NU dalam menghadirkan moralitas bagi bangsa.

“Oleh karena itu, kalau kita hari ini bangsa ini, mohon maaf, kehilangan moral, dalam konteks berpolitik. Kehilangan moral dalam konteks sosial, maka kehadiran Rais Aam itu, termasuk tokoh-tokoh kiai yang ada adalah betul-betul yang mampu menghadirkan moralitas bangsa,” ujarnya.