Pengasuh Ponpes Daarul Rahman, KH Syukron Ma’mun, Wafat

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
KH Syukron Ma'mun. Foto: Instagram/@daarulrahman_official
zoom-in-whitePerbesar
KH Syukron Ma'mun. Foto: Instagram/@daarulrahman_official

Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman, KH Syukron Ma’mun, wafat pada Minggu (18/10) pagi. Kabar duka tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi Pondok Pesantren Daarul Rahman, @daarulrahman_official.

Dalam unggahannya, keluarga besar Pondok Pesantren Daarul Rahman menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Prof. KH Syukron Ma’mun bin KH Ma’mun Nawawi. Almarhum dikenal sebagai pengasuh pesantren sekaligus mubalig yang berdakwah di berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah negara.

"Terima kasih telah menjadi cahaya dalam hidup kami. Namamu akan selalu kami kenang, ilmumu akan terus kami amalkan, dan doa untukmu insyaallah tak akan pernah putus kami panjatkan,” tulis akun tersebut.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta juga menyampaikan belasungkawa melalui akun Instagram @muijakarta. MUI menyebut almarhum sebagai pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman dan ayahanda KH Muhammad Faiz.

"Semoga Allah SWT menerima amal ibadah beliau, mengampuni segala khilaf, serta memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin yaa Rabbal 'alamiin,” tulis MUI DKI Jakarta.

Sekretaris Jenderal DPP PPP periode 2011–2014 sekaligus Ketua Umum DPP PPP periode 2014–2019, M. Romahurmuziy, juga menyampaikan belasungkawa. Ia menyebut Syukron sebagai ulama yang berperan dalam dakwah Islam dan perjalanan politik Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Romahurmuziy mengatakan Syukron wafat pada usia 84 tahun dalam perjalanan dari kediamannya menuju Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, sekitar pukul 09.00 WIB.

“Sebagai pengasuh pondok pesantren Darul Rahman, almarhum adalah muballigh lintas Nusantara dan lintas negara. Almarhum memiliki forum pengajian rutin setiap tahun di Singapura, Malaysia, dan Brunei,” kata Romahurmuziy dalam keterangan yang diterima kumparan.

Romahurmuziy juga menyebut Syukron sebagai Ketua Forum Ulama dan Habaib (FUHAB) yang aktif mendorong persatuan mubalig dan habib. Menurut dia, Syukron kerap menjadi tempat berkonsultasi dalam berbagai persoalan, termasuk ketika partai harus mengambil keputusan penting terkait pemilihan presiden, pemilihan kepala daerah, dan isu penodaan agama di DKI Jakarta menjelang 2018.

Romahurmuziy mengatakan pemakaman Syukron dijadwalkan berlangsung pada Minggu (18/10) setelah salat Zuhur di pesantren yang diasuhnya di Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Sandi tiba Menjenguk K.H Syukron Ma’mun di Ponpes Daarul Rahman, Jakarta Selatan. Foto: Ferry Fadhlurrahman/kumparan

Perjalanan pendidikan dan dakwah

KH Syukron Ma’mun lahir di Sampang, Madura, pada 21 Desember 1941. Berdasarkan profil resmi Pondok Pesantren Daarul Rahman III, ia tumbuh dalam keluarga dengan tradisi pendidikan agama yang kuat. Kakek, ayah, dan sejumlah anggota keluarga besarnya merupakan kiai. Ibunya juga mengajar Al-Qur’an dan kitab kuning.

Syukron mengawali pendidikan formal di Sekolah Rakyat selama enam tahun. Pada siang hari, ia melanjutkan pendidikan agama di Madrasah Miftahul Ulum.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMP, ia melanjutkan pendidikan pesantren di Sidogiri, Pasuruan, sebelum menempuh pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, selama sekitar enam tahun. Di Gontor, ia mendalami pendidikan agama hingga menyelesaikan pendidikan Kulliyatul Mu’allimin.

Sekitar 1966, Syukron melanjutkan pendidikan di Institut Pendidikan Darussalam Gontor, yang kini dikenal sebagai Institut Studi Islam Darussalam. Ia tercatat sebagai salah satu lulusan awal dengan gelar Bachelor of Arts (B.A.).

Aktivitas dakwah Syukron dimulai ketika masih menjadi santri di Gontor. Pada awal 1967, ia mulai berdakwah di sejumlah wilayah di Jawa Timur, termasuk Madiun, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, dan Magetan.

Perjalanan dakwahnya kemudian berlanjut ke Jakarta. Di ibu kota, ia mengaji kepada sejumlah ulama, termasuk Habib Ali bin Husein di Bungur dan Habib Abdurrahman Al-Habsyi di Kwitang. Ia juga mulai mengajar di sejumlah perguruan tinggi serta mengisi pengajian di masjid dan majelis taklim.

Syukron kemudian dikenal dengan julukan “Singa Podium” karena aktivitasnya sebagai mubalig. Dakwahnya menjangkau berbagai wilayah di Indonesia, dari Sumatera hingga Maluku, serta sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Sekitar 1975, Syukron mendirikan Pondok Pesantren Daarul Rahman setelah sebelumnya menjabat sebagai direktur Pondok Pesantren Daarul Ma’arif.

Pesantren tersebut berkembang dengan pusat kegiatan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, serta sejumlah cabang di wilayah Bogor. Syukron tetap menjalankan aktivitas dakwah di tengah kesibukannya mengelola lembaga pendidikan tersebut.

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (kiri) mencium tangan pengasuh Ponpes Daarul Rahman KH Syukron Makmun (kanan) pada pertemuan di Ponpes Daarul Rahman, Jagakarsa, Jakarta, Kamis (15/8/2024). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Karya dan kiprah organisasi

Selain berdakwah melalui mimbar, Syukron menuangkan pemikirannya dalam sejumlah buku. Beberapa karyanya antara lain Risalah Pemantapan ASWAJA yang terbit pada 1988, Riba dan Bank pada 1995, serta Apakah Bid’ah Itu? pada 2007. Karya-karya tersebut membahas persoalan akidah, fikih, dan pemikiran Islam dalam perspektif Ahlussunnah wal Jamaah.

Syukron juga aktif dalam organisasi Islam sejak muda. Berdasarkan profil resmi pesantren, ia pernah menjabat sebagai Ketua Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ketua Umum Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), dan Wakil Ketua Rabithatul Ma’ahid.

Dalam perjalanan politiknya, ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia dan menjadi Dewan Penasihat PPP.

Syukron juga pernah memimpin Forum Ulama dan Habaib serta menjadi Dewan Syuro Majelis Ilmu dan Dakwah Ahlussunnah wal Jamaah (MAIDAH).

Melalui dakwah, pendidikan pesantren, karya tulis, dan aktivitas organisasi, Syukron Ma’mun menjalani perjalanan panjang sebagai ulama yang berkiprah di bidang keagamaan dan kemasyarakatan hingga akhir hayatnya.