Pengelola Tol Konfirmasi ke Warung di Rest Area yang Dikomplain Mahal
·waktu baca 2 menit

Pihak Tol Cipali angkat suara terkait komplain harga makanan di rest area yang mahal. Peristiwa itu dialami oleh Ketua DPP PSI, Sigit Widodo, saat mudik.
Ia menjadi korban nuthuk atau menaikkan tarif sewenang-wenang saat membayar makanan di rest area KM 86A Cipali. Pengalaman tak menyenangkan tersebut ia bagikan di Twitternya.
"Buat yg sedang istirahat di rest area KM 86A Cipali dan ingin ngirit, saya sarankan jgn makan di sini. Dua porsi nasi ayam dan teh dalam kemasan harganya Rp 155.000 dan penjualnya ngotot dibayar setelah makan," tulis Sigit.
"Tapi kalau sdg mau beramal saat lebaran, ya boleh aja. 🤗," tambah dia.
Terkait hal ini, humas Tol Cipali, Asri Fajarwati Ridwan, mengatakan pihaknya saat ini tengah melakukan konfirmasi ke penjual yang dimaksud.
"Kami sedang konfirmasi ke pihak tenant, ya," kata Asri saat dikonfirmasi, Minggu (23/4).
Ia belum menyampaikan tindakan apa yang akan diambil.
"Nanti kami kabari kalau sudah ada info update-nya," kata Asri.
Rumah Makan Getok Harga
Peristiwa tak menyenangkan ini dialami Sigit saat hendak mudik ke Purwokerto. Di tengah perjalanan ia beristirahat Rest Area km 86A. Awalnya ia akan makan di restoran cepat saji namun penuh sehingga memilih ke food court.
"Anak saya memilih RM Hadea, modelnya prasmanan mengambil sendiri. Saya mengambil nasi, sepotong ayam, telur dadar, dan tahu. Anak saya nasi, dua potong ayam, telur dadar, dan tempe. Kami sama-sama minum Teh Pucuk botol kecil," ucap Sigit.
Setelah selesai mengambil makan, Sigit hendak melakukan pembayaran. Namun saat akan membayar, penjualnya meminta untuk dibayar belakangan.
"Waktu mau bayar, oleh penjualnya dibilang makan saja dulu bayarnya belakangan. Saya sudah agak curiga, pasti akan digetok. Tapi malas juga berdebat, apalagi sudah cukup malam. Jadi kami makan," kata Sigit.
Ternyata dugaan Sigit benar. Penjual makanan, menggetok harga. "Benar saja, saat bayar kami ditagih Rp 155.000 tanpa diberi bon tanda terima," kata Sigit.
"Saya bayar saja, tapi saya cuit di Twitter agar pemudik lain yang mau makan di sana lebih waspada," tutur dia.
