Pengguna Transportasi Umum di Jakarta Masih Rendah, Angkanya Cuma 21,7%

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang penumpang melakukan pembayaran menggunakan kartu Jaklingko saat akan menaiki angkutan kota Mikrotrans di Terminal Pulo Gadung, Jakarta, Selasa (4/10/2022).  Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Seorang penumpang melakukan pembayaran menggunakan kartu Jaklingko saat akan menaiki angkutan kota Mikrotrans di Terminal Pulo Gadung, Jakarta, Selasa (4/10/2022). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Indonesia didapuk sebagai negara paling malas berjalan kaki di dunia oleh Standford University pada 2022. Selain malas menggunakan kakinya, masyarakat Indonesia juga rupanya malas naik angkutan umum.

Berdasarkan data Pemprov DKI Jakarta 2019, modal share angkutan umum di Jakarta hanya mencapai 21,7 persen. Cuma ada 5.735.712 penumpang yang melakukan perjalanan dengan angkutan umum.

Sementara itu, total seluruh perjalanan orang-orang di Ibu Kota mencapai 26.424.851. Sebanyak 20.689.139 atau 78,3 persen di antaranya memilih membawa kendaraan pribadi di Jakarta.

Table Embed

Menampilkan 10 data dari 13 data

No
Jenis Angkutan Umum
Jumlah (penumpang/hari)
1
MRT
95.197
2
LRT
4.486
3
KRL
1.154.080
4
Transjakarta
974.125
5
Bus Reguler
346.800
6
Ojek
1.096.631
7
Taksi & Bajaj
285.000
8
Angkutan Sewa Khusus
1.746.900
9
Kapal
870
10
Bus Sekolah
31.623

1 - 10 dari 13 baris

Pengamat Transportasi INSTRAN, Deddy Herlambang, menilai laporan pemprov tersebut masih lebih besar dari yang seharusnya. Ia justru merujuk pada survei Jabodetabek Urban Transportation Policy Integration Project Phase (JUTPI-2). Survei tersebut melibatkan pemerintah pusat dan Jepang sebagai bentuk kerja sama bilateral.

"Saya lebih percaya data JUTPI 2018 yang 9 persen. Jauh lebih parah. Walau saat itu MRT memang belum jalan. Karena MRT kan jalan 2019, tapi kan juga tidak signifikan MRT," ujar Dedi saat dihubungi kumparan, Jumat (18/8).

Pengamat transportasi Deddy Herlambang. Foto: Aji Cakti/ANTARA

Dedi lalu menyinggung soal dokumen Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (Peraturan Presiden No 5/2018). Dalam peraturan itu disebutkan sejumlah poin tentang penggunaan angkutan umum untuk melayani masyarakat. Salah satunya adalah angkutan umum perkotaan harus diisi 60 persen dari total pergerakan orang pada 2030.

"Sekarang masih jauh dari target 60 persen. Tambah macet sekarang. Mobil motor tambah banyak. Saya ingin survei independen lagi," katanya.

Menurut Dedi, maraknya penggunaan kendaraan pribadi disebabkan oleh murahnya harga kendaraan. Hal itu pun, kata dia tak lepas dari kebijakan pemerintah terhadap dunia otomotif pada pandemi lalu.

"LCGC kan mobilnya murah. Istilahnya juga disubsidi pemerintah. Kemudian 2022 subsidi lagi pemerintah untuk COVID 2021. Beli mobil tanpa pajak PPNBM. Kemudian korting diskon pajak lagi. Itu kan membuat orang beli mobil tanpa pembatasan. Sekarang 2023 ini semua sudah lepas dari COVID, mobil yang mereka dulu beli keluar semua," tandasnya.