Pengunjuk Rasa Tinggalkan Gedung Pemerintah Usai Presiden Sri Lanka Mundur
ยทwaktu baca 3 menit

Ketentraman yang rapuh kembali pulih seiring para pengunjuk rasa turut mundur dari gedung-gedung pemerintah di Sri Lanka, usai Gotabaya Rajapaksa mengundurkan diri dari jabatan presiden pada Kamis (14/7/2022).
Protes berbulan-bulan itu mencapai puncak hiruk pikuk selama akhir pekan lalu. Mengadang pasukan keamanan, para demonstran menduduki rumah dan kantor presiden.
Mereka juga menyerbu kediaman resmi Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe. Para pengunjuk rasa kemudian menyita kantor Wickremesinghe pada Rabu (13/7/2022).
Warga Sri Lanka mengantre untuk menyesaki gedung-gedung itu. Mereka bersantai di sofa dan tempat tidur mewah, berpose di meja pejabat, dan berkeliling di kompleks megah tersebut.
Para demonstran awalnya bersumpah akan mempertahankan tempat-tempat itu sampai pemerintahan baru terbentuk. Namun, gerakan tersebut mengubah taktiknya menyusul bentrokan di luar Parlemen.
Kerusuhan itu menyebabkan puluhan orang terluka. Para pengunjuk rasa lantas mengkhawatirkan, eskalasi kekerasan dapat merusak pesan mereka.
"Kekhawatirannya adalah akan ada keretakan pada kepercayaan yang mereka pegang untuk perjuangan," jelas seorang pemimpin protes, Nuzly, dikutip dari Associated Press, Jumat (15/7/2022).
"Kami telah menunjukkan apa yang dapat dilakukan oleh kekuatan rakyat, tetapi itu tidak berarti kami harus menduduki tempat-tempat ini," imbuhnya.
Pemimpin lainnya, Devinda Kodagode, mengatakan bahwa mereka akan mengosongkan gedung-gedung resmi setelah mendengar pengumuman dari Ketua Parlemen Sri Lanka, Mahinda Yapa Abeywardana.
Abeywardana mengatakan, dia sedang menelusuri opsi hukum untuk negara tersebut setelah kepergian Rajapaksa.
"Mengambil alih kediamannya adalah momen yang luar biasa. Itu menunjukkan betapa kami ingin dia mundur. Tetapi juga sangat melegakan bagi kami untuk akhirnya pergi," ujar seorang demonstran, Visaka Jayaweer.
"Kami khawatir orang-orang akan merusuh, banyak yang marah melihat kemewahan yang dia [Rajapaksa] miliki ketika mereka berada di luar, berjuang untuk membeli susu untuk anak-anak mereka," sambungnya.
Abeywardana menerima pengunduran diri Rajapaksa pada Jumat (15/7/2022). Kelegaan lantas menyelimuti para pengunjuk rasa yang telah berkemah di luar kantor presiden.
Kerumunan orang berkumpul di dekat kompleks itu untuk merayakan kabar tersebut. Puluhan warga terlihat menari dan bersorak, sedangkan yang lainnya mengibarkan bendera Sri Lanka.
"Divalidasi seperti ini adalah hal yang sangat besar," ungkap seorang insinyur yang telah mengikuti protes sejak April, Viraga Perera.
"Dalam skala global, kami telah memimpin gerakan yang menggulingkan seorang presiden dengan kekuatan dan kekerasan minimal. Ini adalah perpaduan antara kemenangan dan kelegaan," tambah dia.
Kendati demikian, Sri Lanka tetap menjadi titik nyala. Militer memperingatkan pada Kamis (14/7/2022), pihaknya akan merespons bila terjadi kekacauan.
Pasukan berseragam hijau dan rompi kamuflase tiba dengan kendaraan lapis baja untuk memperkuat barikade di sekitar Parlemen. Sementara itu, pengunjuk rasa bersumpah untuk terus mengadakan aksi di luar kantor presiden sampai pembentukan pemerintahan baru.
Sebagian demonstran juga mengabaikan jam malam yang sempat diberlakukan. Tetapi, banyak orang lainnya menolak meninggalkan rumah lantaran kekurangan bahan bakar.
Kekurangan pasokan dasar telah menjerumuskan 22 juta penduduk negara itu dalam kesengsaraan. Krisis tersebut mengejutkan sebab ekonomi sedang berkembang baik sebelumnya.
Para pengunjuk rasa menuduh Rajapaksa dan keluarganya telah merampas uang dari kas negara. Mereka mengatakan, kesalahan pemerintah dalam mengelola ekonomilah yang meruntuhkan negara.
Keluarga Rajapaksa telah membantah tudingan korupsi. Namun, Rajapaksa mengakui, sejumlah kebijakannya berkontribusi melumpuhkan Sri Lanka.
Parlemen Sri Lanka lantas akan memilih presiden baru pada 20 Juli. Presiden tersebut akan menjalani sisa masa jabatan Rajapaksa yang berakhir pada 2024.
Tetapi, keretakan dan kebingungan dalam pemerintahan menunjukkan bahwa solusi atas krisis itu tampaknya tidak kian mendekat bahkan setelah kepergian Rajapaksa.
Rajapaksa semakin menyulutkan amarah lantaran menyerahkan posisi presiden sementara kepada Wickremesinghe. Para pengunjuk rasa telah mendesak keduanya untuk mengundurkan diri.
