Pengurus PBNU Kompak Pakai Syal Palestina, Gus Kikin Ungkap Maknanya

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengurus PBNU 2026-2031 foto bersama di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pengurus PBNU 2026-2031 foto bersama di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026–2031 kompak mengenakan syal bernuansa Palestina saat pengumuman struktur kepengurusan baru di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (30/9).

Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menyebut, dukungan terhadap Palestina bukan isu baru bagi NU.

"Ya, ini sebetulnya ini memang isu yang belakangan itu belakangan, tetapi ini isu yang sudah sangat lama," kata Gus Kikin kepada wartawan.

Sejak Era Pendiri NU

Menurut Gus Kikin, perhatian NU terhadap perjuangan Palestina sudah muncul sejak masa para pendiri organisasi.

"Ini sejak dari tahun-tahun 38, 39 itu zaman Kiai Hasyim Asy'ari," ucapnya.

Ia juga menyebut KH Wahid Hasyim sebagai salah satu tokoh NU yang sejak awal menyuarakan dukungan bagi kemerdekaan Palestina.

"KH Wahid Hasyim sebagai muassis NU dulu sudah menyuarakan untuk memerdekakan Palestina. Nah, kita lanjutkan lagi," kata dia.

Selain syal Palestina, PBNU juga menggelar istigasah dan santunan anak yatim menjelang pengumuman struktur kepengurusan.

Pengurus PBNU 2026-2031 foto bersama di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Pesan Kiai Musthofa: Siap Berkhidmat

Dalam acara yang sama, Wakil Rais Aam PBNU KH Muhammad Musthofa Aqiel Sirodj mengingatkan bahwa menjadi pengurus NU bukan sekadar kebanggaan, tetapi harus disertai kesiapan menjalankan tugas.

"Detik ini kita ada dua, ada perasaan bangga menjadi pengurus, ada perasaan siap jadi pengurus. Antara bangga dan siap itu kadang berbeda. Bangga tanpa siap, tapi kadang siap tanpa bangga," kata Musthofa.

"Oleh karena itu yang diperlukan adalah kesiapan. Kesiapan apa? Kesiapan berkhidmat," ucapnya.

Ia menyebut NU sejak awal didirikan dengan semangat pengabdian kepada agama dan bangsa.

"Didirikannya NU adalah untuk berkhidmat, baik dari awal muassis itu tidak ada lain niatnya khidmat. Khidmat kepada bangsa, khidmat kepada agama, terutama menjaga akidah kita, akidah Ahlussunnah wal Jama'ah, baik secara lokal atau secara global," kata dia.

Singgung Palestina dan Serukan Sikap Anti-Yahudi

Dalam sambutannya, Kiai Musthofa juga menyinggung Palestina dan Zionisme. Dalam pernyataannya, ia tidak membedakan antara Yahudi sebagai umat beragama dan Zionisme sebagai gerakan politik.

"Di mana kita sudah barang tentu mempunyai adawah yang paling resmi adalah latajidanna asyaddan-nasi 'adawatan lilladhina amanu al-Yahud. Paling mengkhawatirkan adalah bagaimana kita mempunyai hal yang mengerikan adalah genosida, adalah Yahudi, adalah zionis. Oleh karena itu tidak boleh sekecil apa pun kita lupa pada perjuangan itu," ujarnya.

Ia lalu meminta jajaran pengurus baru, baik dari unsur Syuriyah maupun Tanfidziyah, terus menghidupkan semangat perjuangan tersebut.

"Oleh karena itu kepada rekan-rekan baik yang Syuriyah atau yang non-Syuriyah, non-Syuriyah apa non-Syuriyah? Nyebutnya kok repot amat, non-Syuriyah saja lah. Baik semuanya, tolong hal ini disegarkan, ditajdid, dikobarkan bagaimana kita anti-Yahudi, bagaimana NU murni untuk memperjuangkan Ahlussunnah wal Jama'ah," terang dia.

Kiai Musthofa berharap kepengurusan baru tetap berpijak pada prinsip yang diwariskan para pendiri NU.

"Insyaallah di bawah kepemimpinan yang baru, baik yang stok lama atau stok baru, ini Kiai Saifullah ini stok lama atau stok baru? Insyaallah kita berpijak kepada titah-titah muassis kita yakni li i'la'i kalimatillah 'ala thoriqoti Ahlissunnah wal Jama'ah," tandas dia.