News
28 Mei 2021 20:54
waktu baca 2 menit

Penjelasan BPPTKG soal Kilatan Cahaya Diduga Meteor di Puncak Merapi

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Penjelasan BPPTKG soal Kilatan Cahaya Diduga Meteor di Puncak Merapi (416523)
searchPerbesar
Guguran lava pijar Gunung Merapi terlihat dari Turi, Sleman, D.I Yogyakarta, Minggu (28/3/2021). Foto: Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTO
Media sosial Twitter diramaikan dengan foto kilatan cahaya di puncak Gunung Merapi. Momen tersebut diunggah oleh akun @merapi_undercover.
ADVERTISEMENT
"Meteor Jatuh di Puncak Gunung Merapi, Kali Adem, Cangkringan, Yogyakarta(27 Mei 2021) 馃摳: Gunarto_song," tulis akun tersebut.
Terkait hal ini, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida menjelaskan soal foto yang beredar di media sosial tersebut. Menurutnya kilatan cahaya sempat teramati kamera CCTV.
"Kami sampaikan bahwa kamera CCTV yang berada di Deles (sisi timur Gunung Merapi) sempat merekam kilatan cahaya pada tanggal 27 Mei 2021 pukul 23.08.10 WIB," kata Hanik dalam keterangan tertulisnya, Jumat (28/5).
Meski kilatan cahaya terekam CCTV tetapi tidak ada sinyal yang signifikan dari data kegempaan. Artinya tidak terdengar suara atau terlihat kilatan cahaya dari pos-pos pemantauan Gunung Merapi.
Dengan begitu BPPTKG sejauh ini menyimpulkan tidak ada benda yang jatuh ke kawah Merapi.
ADVERTISEMENT
"Terlihat dari CCTV tapi tidak ada tanda-benda jatuh dari stasiun-stasiun kegempaan di Merapi," katanya.
Peristiwa tersebut pun tidak mempengaruhi aktivitas vulkanik Gunung Merapi.
"Kejadian tersebut sampai saat ini tidak mempengaruhi aktivitas Merapi," katanya.
Sementara soal apakah kilatan cahaya itu meteor atau benda langit, BPPTKG mengaku tidak bisa memberikan jawaban lantaran di luar kewenangannya.
"BPPTKG-PVMBG-Badan Geologi adalah melakukan mitigasi Gunung Merapi, namun kami tidak memiliki tugas untuk mengamati benda langit sehingga kami tidak bisa memastikan benda apa yang terlihat dalam gambar tersebut," katanya.
Saat ini Gunung Merapi masih berstatus Siaga. Aktivitas vulkanik di sana pun masih cukup tinggi seperti aktivitas erupsi efusif yang ditandai dengan aktivitas pertumbuhan kubah lava, guguran, serta awan panas guguran.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020