Penjelasan Ilmiah soal Anies Negatif Corona Lewat Swab Antigen, tapi PCR Positif

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tiba di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/11). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tiba di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/11). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dinyatakan positif corona pada Senin (30/11). Padahal ia sebelumnya dinyatakan negatif melalui swab antigen pada Minggu (29/11).

"Saya secara rutin melakukan swab test dan terakhir Rabu 25 November yang hasilnya negatif. Namun setelah mendengar kabar Pak Wagub positif, bahwa kita ada interaksi cukup dekat, maka sesuai protokol kesehatan saya kembali lakukan tes. Pada hari Minggu 29 November saya mulai dengan jalani antigen swab dan hasilnya negatif," jelas Anies melalui video resminya, Selasa (1/12).

Pada Senin (30/11) Anies melakukan tes usap PCR dan hasilnya positif.

Lalu, bukankah swab antigen secara akurasi terhitung baik? Bagaimana penjelasannya sampai bisa menghasilkan false negative?

Pertama-tama, mari kita bahas apa itu antigen. Menurut penjelasan Eugene Wu dari University of Richmond, AS, antigen adalah protein pemicu antibodi. Antigen itu sendiri adalah kepanjangan dari "antibody generator."

Adapun antibodi adalah protein pelindung yang diproduksi sistem kekebalan tubuh untuk merespon protein tak dikenal seperti penyakit atau racun. Antibodi ini memiliki bentuk seperti huruf Y, bagian lengannya berfungsi untuk mengikat protein asing yang tak dikenal tubuh manusia.

Jika penyakit baru muncul, sel darah putih akan membentuk antibodi baru. Untuk merespons jenis penyakit baru yang tidak dikenal masuk ke tubuh, antibodi mengubah bentuk perangkap mereka sedemikian rupa agar cocok mengikat protein penyakit tersebut.

"Protein asing yang memicu proses ini disebut sebagai "anti-gen" karena merupakan generator antibodi," jelas Wu dalam tulisannya di The Conversation.

Ilustrasi corona. Foto: Maulana Saputra/kumparan

Nah, seperti namanya, rapid test antigen itu bertujuan untuk mendeteksi keberadaan antigen di dalam sampel partisipan. Dalam hal ini, rapid test antigen ditujukan untuk mendeteksi kulit protein dari virus corona.

Jika dibandingkan dengan tes swab PCR, rapid test antigen punya proses yang lebih sederhana.

Sebagai gambaran, tes swab PCR itu punya banyak tahapan proses. Sebab, berbeda dengan antigen yang hendak mendeteksi corona lewat permukaan kulitnya, tes swab PCR bertujuan mendeteksi corona lewat material genetik di sampel.

Material genetik itu sendiri umumnya terdiri dari DNA dan RNA. Keduanya adalah material pembawa informasi genetik yang dimiliki setiap makhluk hidup. Perbedaannya, DNA adalah material genetik rantai ganda, sedangkan RNA material genetik rantai tunggal.

Ilustrasi swab antigen. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Karena virus corona adalah virus RNA (ribonucleic acid), peneliti perlu mengubah RNA virus menjadi DNA (deoxyribonucleic acid) agar bisa dibaca di mesin PCR. Untuk mengubah RNA virus corona jadi DNA agar bisa dianalisis mesin PCR, peneliti memakai enzim reverse-transcriptase.

Menurut penjelasan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat, nantinya mesin PCR akan melakukan amplifikasi (perbanyakan) jutaan salinan DNA untuk dibaca. Jika mesin PCR mendeteksi keberadaan material genetik dari sampel, maka hasilnya akan dikatakan positif.

Tetap Perlu Tes PCR, Sensitivitas 50 Persen

Dengan sederet kelebihan itu, bukan berarti rapid test antigen bisa menggeser status tes swab PCR sebagai standar emas diagnostik corona. Sebab, akurasi rapid test antigen masih di bawah PCR.

Secara garis besar, ada dua aspek indikator dalam menilai akurasi suatu tes diagnostik, yakni sensitivitas dan spesifisitas.

Sensitivitas adalah kemampuan tes untuk mendeteksi keberadaan virus secara akurat, jika memang ada. Semakin kurang sensitif suatu tes, semakin besar kemungkinan untuk memberikan negatif palsu (false-negative).

Adapun spesifisitas adalah kemampuan tes untuk secara akurat mengesampingkan keberadaan virus jika tidak ada. Semakin tidak spesifik suatu tes, semakin besar kemungkinan untuk memberikan hasil positif palsu (false-positive).

Dalam hal akurasi, rapid test antigen punya spesifisitas yang cukup baik di kisaran 90-an persen. Namun, sensitivitas tes ini umumnya cuma berkisar 50 persen, berdasarkan laporan Harvard Health Publishing.

Ilustrasi swab antigen. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Oleh karena itu, tes antigen sangat mungkin menunjukkan hasil false-negative alias orang yang positif corona justru dianggap tak terinfeksi corona.

Untuk mengatasi ini, tenaga medis bakal merekomendasikan orang negatif tes antigen untuk melakukan tes PCR, jika orang tersebut mengalami gejala corona.

Jika dibandingkan dengan rapid test antigen, PCR punya tingkat akurasi yang jauh lebih baik.

Mesin ekstraksi dan reagen untuk pemeriksaan corona dengan teknik PCR. Foto: Dok. Humas Pemprov Jabar

Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan lembaga riset nirlaba Foundation for Innovative New Diagnostics (FIND), tes PCR punya sensitivitas mencapai 100 persen dan spesifisitas 96 di lingkungan terkontrol.

Meski demikian, di dunia nyata sensitivitas tes ini cuma sekitar 66-80 persen saja. Penurunan ini disebabkan oleh sejumlah faktor, mulai dari sampel yang diambil sedikit, hingga keberadaan virus yang sedikit karena waktu tes yang terlalu cepat atau terlalu lambat.

Analisis Ahli Wabah UI

Pandu Riono. Foto: Dok. Pandu Riono

Sementara itu menurut epidemiolog UI Pandu Riono, false negative pada swab antigen memang mungkin terjadi. Tergantung pula dengan jumlah virus yang ada di tubuh seseorang.

"Kalau baru kontak, ya, virusnya masih sedikit. Riwayat waktu kontak erat itu penting untuk menentukan jenis tesnya," ungkap Pandu kepada kumparan.

Kata Pandu, kemungkinan besar Anies baru saja terpapar. Jadi, swab antigen belum mendeteksi virus.

"Bila virusnya belum banyak, ya, hasilnya masih negatif," tutur Pandu.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Foto: Pemprov DKI Jakarta