Penjelasan Kabasarnas soal Jenazah Surakman Ditemukan di Bengkulu

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menjelaskan alasan jenazah Surakman, salah satu anak buah kapal (ABK) kapal yang membawa lima jurnalis, ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu.
Padahal, kapal yang membawa Surakman dan 5 jurnalis itu terakhir dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda dekat Gunung Anak Krakatau.
Menurut Syafii, posisi jenazah yang ditemukan jauh dari lokasi hilangnya speedboat dapat dipengaruhi oleh perbedaan arus laut.
“Yang pasti pengaruh bahwa posisi korban ditemukan di mana-mana pasti secara teori itu relevan dengan mungkin ada hal-hal yang mungkin tidak kita tahu, ternyata mungkin ada kecepatan arus,” kata Syafii usai Rapat Kerja bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (24/9).
“Arus kan juga ada arus permukaan, arus tengah, ada arus dasar. Yang terjadi di KMP Virgo ini hanya 30 meter. Tapi arus permukaan, arus tengah, dan arus dasar laut berbeda dengan kecepatan yang berbeda,” lanjutnya.
Syafii mengatakan, saat jenazah tersebut ditemukan di wilayah Bengkulu, Basarnas awalnya tidak meyakini bahwa jasad itu merupakan bagian dari korban speedboat yang membawa lima jurnalis.
Sebab, berdasarkan pemeriksaan awal terhadap pakaian yang dikenakan korban, baik pemilik kapal maupun keluarga tidak mengenalinya.
“Mulai dari pakaian waktu itu sudah dikonfirmasi ke pihak mulai dari pemilik kapal, kepada keluarga, tidak ada yang mengakui pakaian-pakaian itu,” ujar Syafii.
Jenazah tersebut kemudian sempat dimakamkan oleh masyarakat setempat.
Namun, Basarnas tetap membuka kemungkinan bahwa jenazah tersebut berkaitan dengan pencarian lima jurnalis yang hilang. Basarnas kemudian berkoordinasi dengan Kapolda Banten, yang selanjutnya berkoordinasi dengan Kapolda Lampung untuk melakukan penggalian kembali.
Jenazah kemudian diambil sampelnya untuk dilakukan pemeriksaan DNA.
“Dilaksanakan lah penggalian lagi pada saat itu untuk mengambil DNA. Dan setelah dicocokkan sekian lama, baru diyakinkan itu adalah salah satu awak dari speedboat tersebut,” kata Syafii.
Dengan hasil identifikasi tersebut, Basarnas memastikan Surakman merupakan salah satu ABK speedboat yang sebelumnya membawa lima jurnalis dan hilang di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.
Pencarian Tetap Dilakukan
Syafii menegaskan, pencarian lima jurnalis tersebut belum sepenuhnya dihentikan. Operasi khusus gabungan berskala besar memang telah dihentikan, tetapi pencarian dialihkan menjadi operasi rutin oleh sejumlah Kantor SAR.
“Kantor SAR Banten tetap melaksanakan operasi, Kantor SAR Lampung tetap operasi, bahkan pada saat ditemukan di Pulau Enggano, Kantor SAR Bengkulu juga sedang melaksanakan operasi,” ujarnya.
Menurut Syafii, Kantor SAR Bengkulu tetap melakukan pencarian meski tidak lagi dalam bentuk operasi khusus gabungan yang melibatkan seluruh potensi SAR.
“Bukan operasi bentukan khusus gabungan melibatkan seluruh potensi, tidak. Tapi kita laksanakan operasi rutin yang dilaksanakan oleh Kantor SAR,” katanya.
Hingga Kamis (24/9) sore, Syafii mengatakan belum ada laporan tambahan mengenai penemuan jasad yang mengapung di pantai Bengkulu.
“Sampai sekarang belum ada tambahan lagi,” ujar Syafii.
