Penjelasan Pemprov DKI Tentang Perekrutan Tenaga Kesehatan dari Luar Daerah

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tenaga kesehatan memeriksa ambulans di Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19, Wisma Atlet Kemayoran, di Jakarta, Rabu (16/9). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Tenaga kesehatan memeriksa ambulans di Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19, Wisma Atlet Kemayoran, di Jakarta, Rabu (16/9). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Perekrutan tenaga kesehatan oleh Pemprov DKI dari berbagai wilayah di Indonesia dilakukan pada bulan September lalu. Hal ini dilakukan karena tenaga kesehatan di DKI tak mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan SDM di rumah sakit, sehingga diperlukan perekrutan tenaga kesehatan dari daerah lain.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) DKI Jakarta, Widyastuti mengatakan, awalnya ada 4.859 tenaga kesehatan yang mendaftar. Dia menambahkan tak sedikit dari para pendaftar itu berasal dari luar Pulau Jawa.

"Tenaga profesional yang mengikuti seleksi rekrutmen ini ada sebanyak 4.859. Berasal dari sebagian kecil Pulau Jawa, sebagian besar dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Bengkulu, NTT, NTB, bahkan ada dari Papua," kata Widyastuti pada 8 September lalu.

Seorang dokter membetulkan posisi kacamata pelindung saat berada di salah satu ruang modular di Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Jakarta, Senin (6/4). Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga meminta para tenaga kesehatan yang baru itu untuk bekerja dengan hati. Jadi, tujuannya menyelamatkan sesama.

"Pesan kami, datangi itu dengan semangat untuk menyelamatkan sesama, datangi dengan hati, saya tadi lihat salah satu poster yang ada di layar, ada salah satu faskes backdrop-nya datangi dengan hati, datangi sepenuh hati, maka Insyaallah anda semua akan mendapatkan untuk berpahala," ujar Anies pada 8 September lalu.

Kini jumlah tenaga kesehatan yang telah direkrut Pemprov DKI dari luar Jakarta berjumlah 132 orang, dari keseluruhan relawan yang saat ini berjumlah 1.097 orang.

embed from external kumparan

Dengan jumlah ini, Pemprov DKI belum berencana lagi untuk menambah relawan tenaga kesehatan dalam waktu dekat. Pemenuhan tenaga kesehatan akan dilakukan dengan redistribusi tenaga kesehatan internal dan tenaga dokter internship.

Seorang tenaga kesehatan yang mengenakan alat pelindung diri lengkap melakukan tes usap (swab test) COVID-19 pada warga di kawasan Pasar Keputran, Surabaya, Jawa Timur. Foto: M Risyal Hidayat/Antara Foto

Untuk diketahui, tenaga kesehatan di Indonesia yang gugur karena virus corona masih terus bertambah. Baik dokter maupun perawat.

Disampaikan Tim Mitigasi IDI pada Jumat (16/10), tercatat sudah 136 dokter meninggal dunia karena corona. Data ini bertambah 4 orang dari update terakhir pekan lalu.

“Pekan ini 4 dokter meninggal akibat COVID-19. Dalam dua pekan Oktober, sudah 9 dokter yang meninggal dunia. Sehingga total 136 dokter wafat akibat COVID-19,” kata Wakil Ketua Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dalam keterangannya 16 Oktober lalu.

Tak kalah memprihatinkan, jumlah perawat yang wafat karena tertular corona juga terus bertambah. Selama 8 bulan pandemi COVID-19 di Indonesia, dilaporkan ada 2.800-an perawat terinfeksi virus corona, 104 di antaranya meninggal dunia.

embed from external kumparan

"Sampai hari ini perawat yang terinfeksi saja 2.890-an, di mana 104 meninggal dunia. Semua itu yang by name, by address yang masuk ke sistem," ujar Ketua Umum DPP Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadhilah dalam diskusi virtual, Jumat (30/10).

Menurutnya angka tersebut bisa bertambah karena pekerjaan profesional perawat kian hari makin berat, di tengah angka kasus positif COVID-19 yang belum melandai.

"Perawat bertugas di depan paling berat tugasnya. Jika ada yang terinfeksi maka ada efek dominonya, ada yang double shift, over time, atau bisa dipinjam untuk ruangan orang lain, makin besar tingginya angka infeksi," jelasnya.

embed from external kumparan