Penjelasan Surya University soal Utang Rp 16 Miliar ke Bank Mandiri

Surya University terlilit utang macet hingga Rp 16 miliar kepada Bank Mandiri. Sekolah tinggi yang digagas Yohanes Surya, seorang fisikawan Indonesia itu disebut mengalami krisis keuangan.
Rektor Surya University, Yohanes Surya memberikan penjelasan soal masalah ini. Melalui keterangan tertulis yang diterima kumparan (kumparan.com) Kamis (27/7) Yohanes membenarkan perihal utang tersebut.
Surya University saat ini memiliki 1.211 mahasiswa yang tersebar dalam 10 program studi dengan 3 program studi baru. Jumlah tenaga pengajar terdiri dari 53 dosen tetap dan 40 dosen tidak tetap.
Menurut Yohannes selama ini proses belajar mengajar berjalan dengan lancar. Bila ada dosen yang tidak mengajar, maka akan ada dosen pengganti.
Sebanyak 434 mahasiswa tingkat akhir semuanya magang di berbagai instansi. Mereka juga saat ini tengah mempersiapkan tugas akhir.
"Rencana angkatan pertama akan diwisuda tanggal 14 Oktober 2017. Banyak mahasiswa Surya University meraih penghargaan dalam berbagai lomba," kata Yohanes.

Krisis keuangan mulai melanda Surya University sekitar tahun 2015, bahkan pernah beberapa kali gaji dosen telat dibayar. Yohanes menjelaskan awal mula krisis keuangan terjadi di kampusnya. Berikut tanya jawab soal dengan Yohanes tentang masalah keuangan Surya University.
Mengapa terjadi krisis keuangan?
Ide mendirikan Surya University berawal dari Prof. Yohanes Surya. Tahun 2012 Prof. Yohanes Surya mengundang puluhan doctor (Ph.D) yang tinggal di luar negeri, untuk bergabung dengan Surya University.
Tahun 2013 bergabung sekitar 200 doktor, ini merupakan beban biaya yang sangat tinggi.
Tahun 2013 untuk mendapatkan mahasiswa yang berkualitas, semua mahasiswa baru diberikan beasiswa. Untuk menutupi biaya operasional universitas meminjam dana ke bank lewat program student loan. Ada sekitar 250-an mahasiswa yang ikut program student loan dari Bank Mandiri ini.
Harapan Surya University adalah tahun 2014 ada 1000 mahasiswa baru di mana 500 mahasiswa baru berbayar dan 500 mahasiswa beasiswa. Tahun 2015 diharapkan 1000 mahasiwa baru, di mana 800 mahasiswa berbayar dan 200 mahasiswa beasiswa. Namun ini tidak menjadi kenyataan.
Tahun 2014 Surya University hanya menerima sekitar 400-an mahasiswa, tidak mencapai sasaran. Di sinilah mulai terjadi krisis keuangan. Cost (beban biaya) terlalu tinggi dan pemasukan terlalu sedikit
Untuk mengatasi ini Prof Yohanes Surya menjual aset pribadi berupa tanah dan bangunan senilai Rp 200 milyar. Dana ini dipakai untuk membayar hutang-hutang. Krisis kian berlarut, beberapa kali gaji dosen terlambat/tertunggak dibayarkan.
Untuk mengatasi krisis ini universitas melakukan perampingan jumlah dosen dan melakukan restrukturisasi gaji. Dalam 8 bulan teakhir krisis keuangan sudah mulai teratasi. Pembayaran gaji yang tertunggak sedikit demi sedikit mulai dicicil sesuai dengan kemampuan universitas.
Mengenai student loan, bagaimana prosesnya?
Prosesnya adalah bank memberikan persyaratan untuk para penerima student loan. Tidak semua mahasiswa diterima sebagai penerima student loan. Kemudian universitas mempertemukan orangtua/wakil mahasiswa yang terpilih dengan petugas bank.
Petugas bank memberikan penjelasan pada penerima student loan dan mengadakan perjanjian kerjasama. Jika mahasiswa mendapat beasiswa maka yang membayar cicilan adalah universitas atau pihak yang ditunjuk.
Apa yang menyebabkan terjadinya masalah student loan?
Ketika universitas atau pihak yang ditunjuk itu lancar membayar cicilan student loan, maka ini tidak menimbulkan masalah. Masalah muncul ketika terjadi keterlambatan pembayaran ini.
Bank menganggap orangtua/wakil mahasiswa yang terlambat membayar, sehingga orangtua/wakil mengalami masalah dalam Bl checking.
Bagaimana penyelesaian masalah student loan ini?
Saat ini masalah sedang diselesaikan. Jumlah pinjaman yang diterima sekitar Rp 45 miliar, dan sudah dikembalikan lebih dari Rp 43 miliar. Sisanya plus bunga pinjaman sedang dicarikan solusi dengan cara mencicil. Kami sudah mengirim surat ke direksi bank yang bersangkutan, saat ini sedang dalam taraf penyelesaian.
Di konfirmasi terpisah, Bank Mandiri sebagai pemberi kredit mengungkapkan kronologi macetnya utang tersebut. Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas mengatakan pada tahun 2015, Surya University mengajukan kredit kepada Bank Mandiri senilai total Rp 43 miliar. Kredit Tanpa Agunan (KTA) itu dipakai untuk memberikan beasiswa kepada para mahasiswa.
Pinjaman tersebut mengatasnamakan orang tua mahasiswa yang menerima beasiswa. Ada 280 orang tua yang menandatangani perjanjian utang tersebut. Istilahnya student loan.
Meski ditandatangani orang tua, pihak kampus menyebut akan bertanggungjawab membayar utang tersebut sebagai wujud beasiswa.
Di tahun pertama, pembayaran kredit lancar. Namun, memasuki akhir tahun 2016, pembayaran kredit mulai macet. Pihak Surya University sudah mulai tidak sanggup membayar tagihan sehingga Bank Mandiri menagihnya lewat para orang tua mahasiswa yang namanya tercantum.
Rohan mengungkapkan, sebagian orang tua mahasiswa secara sukarela membayar tagihan kredit macet tersebut, namun sebagian lagi enggan membayarnya karena merasa bukan kewajibannya. Dari total pinjaman Rp 43 miliar dari atas nama 280 orang tua mahasiswa ini, jumlah kredit macetnya mencapai Rp 16 miliar dari 44 orang tua.
