Pentingnya Jaga Imunitas saat Pandemi COVID-19: Olahraga hingga Makanan Seimbang

kumparanNEWSverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja membersihkan layar iklan pesan layanan masyarakat terkait penggunaan masker untuk penanganan COVID-19 di Jakarta, Minggu (27/9). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja membersihkan layar iklan pesan layanan masyarakat terkait penggunaan masker untuk penanganan COVID-19 di Jakarta, Minggu (27/9). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Pandemi virus corona tak sedikit membuat masyarakat Indonesia terganggu kondisi psikisnya. Padahal, imunitas menjadi salah satu faktor penting menjaga kesehatan tubuh agar tidak terpapar COVID-19.

Sekretaris Tim Mitigasi Dokter dalam Pandemi COVID-19 PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Ekasakti Octohariyanto, mengungkapkan ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga sistem imun. Bahkan, ditingkatkan jadi lebih tinggi lagi.

"Sebenarnya tubuh kita adalah konstruksi yang paling cerdas. Jadi tanpa vitamin pun jika kita melakukan aktivitas yang sesuai. Semisal olahraga itu minimal 3 kali seminggu durasi 30 menit, ada peningkatan denyut nadi," kata Eka dalam diskusi di YouTube BNPB, Jumat (2/10).

Tenaga medis, relawan dan pasien yang terinfeksi virus corona mengikuti senam pagi di Rumah Singgah Karantina, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (28/5). Foto: REUTERS/WIlly Kurniawan

Selain itu, Eka mengingatkan untuk menghindari junk food dan makanan minuman terlalu banyak gula atau protein. Termasuk mengurangi konsumsi teh dan kopi jika sudah banyak asupan karbohidrat, seperti nasi.

Konsumsi makanan juga harus diimbangi dengan protein dan lemak yang seimbang, serta ditambah dengan susu atau suplemen.

"Selain itu juga ada lemak. Kita butuh lemak, tapi jangan kebanyakan gorengan, itu asam lemak jenuh susah diurai dan malah jadi sumber penyakit. Asalkan masih seimbang, kalau perlu tambah susu dan vitamin suplemen itu enggak masalah, itu malah bagus," tuturnya.

"Makan makanan junk food, banyak gula, terlalu banyak protein, akan mengakibatkan kelainan metabolisme. Harus sesuai ada dietnya juga," lanjut Eka.

Hikmah Pandemi Corona Bagi Penderita Komorbid

Petugas medis menggunakan APD memimpin senam pagi bersama pasien COVID-19 berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG) di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Senin (28/9). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

Di sisi lain, Eka mengungkapkan hikmah yang muncul bagi orang komorbid yang berjuang agar tidak tertular corona. Menurutnya, dengan mengetahui statusnya memiliki komorbid, maka orang itu bisa beraktivitas secara lebih berhati-hati.

Selain itu, tubuhnya juga bisa menyesuaikan diri sehingga tak perlu memaksakan aktivitas fisik untuk meningkatkan imunitasnya.

"Tidak harus semua paksakan aktivitas fisik. Makanan juga ada porsinya. Dengan dia tahu punya komorbid, dia lebih hati-hati dan mengenal penyakitnya," ujar Eka.

embed from external kumparan

Ia menunjukkan kondisi di lapangan juga banyak pasien COVID-19 yang bukan komorbid, namun kondisinya bisa parah juga bahkan meninggal. Maka dari itu, menjaga pola hidup dan tetap berpikir positif harus selalu dijaga di tengah pandemi corona, yang belum diketahui kapan akan berakhirnya.

"Yang paling penting, terlebih kalau punya komorbid, adalah preventif dan aktivitas fisik, olahraga, makanan dijaga, dan berpikir positif," tutup dia.

=====

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona