Penyebab Banjir Bandang Nepal-Tibet: Gletser Himalaya Runtuh Sempat Dikira Gempa

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Citra satelit yang memperlihatkan lembah-lembah di perbatasan Nepal dan Tibet sebelum (atas) banjir bandang pada 25 Agustus 2026 dan sesudah banjir bandang (bawah) pada 26 Agustus 2026. Foto: Planet Labs PBC/viaREUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Citra satelit yang memperlihatkan lembah-lembah di perbatasan Nepal dan Tibet sebelum (atas) banjir bandang pada 25 Agustus 2026 dan sesudah banjir bandang (bawah) pada 26 Agustus 2026. Foto: Planet Labs PBC/viaREUTERS

Banjir bandang yang melanda wilayah perbatasan Himalaya di Nepal dan Tibet (Tiongkok) pada Rabu (27/8) telah menewaskan sedikitnya 157 orang, sebagaimana diberitakan Reuters.

Pihak berwenang dari kedua negara khawatir jumlah akhir korban jiwa akan jauh lebih tinggi di tengah kerusakan yang masif ini.

Berikut adalah ulasan mengenai penyebab bencana tersebut dan situasi saat ini:

Petaka Rabu Pagi

Kondisi lumpur yang menutupi permukiman warga pascabencana banjir bandang di Trishuli, Distrik Nuwakot, Nepal, Kamis (27/8/2026). Foto: Stringer/REUTERS

Pada Rabu pagi (27/8), bagian bawah gletser di Himalaya runtuh dan jatuh ke dasar lembah. Besarnya energi akibat runtuhnya gletser tersebut sempat dikira gempa.

Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) pertama kali mendeteksi sinyal energi pada pukul 08.37 waktu setempat di sebuah titik 55 km sebelah barat laut Kodari, Nepal.

USGS awalnya mengumumkan sinyal energi tersebut sebagai gempa bumi bermagnitudo 4,4, kemudian mengoreksinya dengan menyatakan bahwa "sinyal energi tersebut berasal dari tanah longsor, bukan gempa bumi."

Hal ini dapat dipahami bahwa alih-alih gempa yang memicu tanah longsor, sebuah gletser runtuh dengan sendirinya dan getaran yang ditimbulkan oleh bebatuan dan es menghasilkan guncangan yang menyerupai gempa bumi.

Longsoran es dan batu menyapu sungai Lhende Khola, yang mengalir di sepanjang pegunungan perbatasan Nepal dan Tibet.

Tanah longsor tersebut menghantam pelabuhan Gyirong di Tibet dan wilayah Nepal, memicu banjir bandang berarus deras yang menyapu habis jalan-jalan serta proyek pembangkit listrik, dan menenggelamkan desa-desa.

Data Jumlah Korban

Pihak berwenang sejauh ini telah menemukan 157 jenazah, namun jumlah korban tewas diperkirakan akan meningkat tajam. Belum diketahui secara pasti berapa jumlah keseluruhan korban yang hilang.

Mereka yang hilang dilaporkan mencakup lebih dari 400 pengunjung asing, termasuk:

  • 133 warga negara India yang sedang berziarah;

  • 47 warga Amerika;

  • 34 warga Australia;

  • 33 warga Inggris;

  • 24 warga Kanada;

  • 9 warga Korea Selatan yang bekerja di sebuah proyek pembangkit listrik tenaga air belum ditemukan.

Juga dilaporkan hilang:

  • Warga Malaysia;

  • Warga Afrika Selatan.

Sekitar 5.000 orang dievakuasi di negara bagian Bihar, India, setelah peringatan banjir dikeluarkan.

Situasi Saat Ini

Citra satelit yang memperlihatkan lembah-lembah di perbatasan Nepal dan Tibet sesudah banjir bandang pada 26 Agustus 2026. Foto: Planet Labs PBC/viaREUTERS

Personel kepolisian dan militer tengah melakukan upaya penyelamatan, meskipun para pejabat menyatakan bahwa helikopter penyelamat tidak akan bisa mendarat di beberapa daerah terdampak sampai air surut. Sebagian besar wilayah tersebut terputus dari aliran listrik dan endapan lumpur (sedimen) banjir menjadi tantangan tersendiri.

Penduduk yang tinggal di daerah dataran rendah telah dipindahkan ke tempat yang lebih aman, dan mereka yang berada di sepanjang aliran sungai diimbau untuk tetap waspada.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa mereka sedang memobilisasi pasokan logistik dan personel untuk mendukung masyarakat yang terdampak. India mengatakan pihaknya berkoordinasi erat dengan Kathmandu untuk upaya penyelamatan dan pemberian bantuan, sementara Korea Selatan telah mengirimkan tim respons cepat.