Penyebab Dingin di Pagi Hari hingga 'Salju' Bromo: Suhu Dingin di Musim Kemarau

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Salju muncul di kawasan Gunung Bromo. Foto: Dok. Humas Balai Besar TNBTS
zoom-in-whitePerbesar
Salju muncul di kawasan Gunung Bromo. Foto: Dok. Humas Balai Besar TNBTS

Sejumlah wilayah di Indonesia belakangan ini mengalami suhu udara yang terasa lebih dingin pada pagi hari. Fenomena tersebut bahkan memunculkan embun beku atau yang kerap disebut “salju” di kawasan Bromo, Jawa Timur.

Plh. Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardhani, menjelaskan bahwa suhu dingin pada pagi hari memang umum terjadi di sejumlah wilayah Indonesia yang telah memasuki musim kemarau, terutama di dataran tinggi dan wilayah Indonesia bagian selatan.

"Lebih tepat disebut suhu dingin pada musim kemarau," Ida kepada saat dihubungi, Kamis (11/6).

“Tidak semua wilayah Indonesia terasa dingin pada pagi hari. Suhu dingin pagi hari lebih sering terasa di wilayah yang sudah memasuki musim kemarau, terutama Indonesia bagian selatan dan daerah dataran tinggi atau pegunungan, seperti Bromo, Dieng, wilayah selatan Jawa, Bali, NTB, NTT, serta sebagian Sumatera bagian selatan,” jelas Ida

Menurut Ida, kondisi tersebut dipengaruhi oleh minimnya tutupan awan, kelembapan udara yang relatif rendah, curah hujan yang mulai berkurang, serta pengaruh angin timuran yang membawa massa udara kering dan relatif dingin dari Australia.

“Faktor pendukungnya adalah minimnya tutupan awan, kelembapan udara yang relatif rendah, curah hujan berkurang, dan pengaruh angin timuran yang membawa massa udara kering dan relatif dingin dari Australia akibat aktivitas Monsun Australia,” ujarnya.

Fenomena suhu dingin ini juga menjadi salah satu penyebab munculnya embun beku atau embun upas di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ida menegaskan bahwa fenomena yang terlihat seperti salju tersebut sebenarnya bukan salju sebagaimana yang terjadi di negara-negara subtropis.

“Fenomena ‘salju’ di Bromo sebenarnya bukan salju seperti di negara subtropis, melainkan embun beku atau embun upas,” kata Ida.

Ilustrasi air embun Foto: Dok. Thinkstock

Embun beku itu terbentuk akibat pendinginan radiasi, yaitu ketika panas yang tersimpan di permukaan bumi cepat terlepas ke atmosfer pada malam hingga dini hari. Kondisi tersebut terjadi saat langit cerah, udara kering, angin lemah, dan wilayah berada di dataran tinggi.

“Kondisi ini diperkuat oleh masuknya massa udara kering dan relatif dingin dari Australia pada musim kemarau,” lanjutnya.

Ida menjelaskan, fenomena embun beku bukanlah kejadian yang baru dan dapat muncul berulang setiap musim kemarau. Namun, intensitas dan frekuensinya tidak selalu sama setiap tahun karena sangat bergantung pada kondisi cuaca.

“Biasanya peluangnya meningkat mulai Juni, lalu dapat lebih terasa pada Juli hingga Agustus, terutama saat malam cerah dan udara sangat kering,” ujar Ida.

Ia menambahkan, di kawasan Dieng, Jawa Tengah, fenomena embun es umumnya dapat terjadi selama musim kemarau, yakni sekitar Juni hingga Oktober apabila syarat cuacanya terpenuhi.

Ida menilai fenomena yang terjadi belakangan ini adalah suhu dingin pada musim kemarau.

“Pada musim kemarau, siang hari bisa tetap panas, tetapi malam hingga pagi hari dapat terasa sangat dingin karena langit cerah membuat panas permukaan cepat hilang ke atmosfer,” tuturnya.

Oleh karena itu, Ida mengatakan, masyarakat yang berada di wilayah dataran tinggi maupun daerah yang telah memasuki musim kemarau diperkirakan masih akan merasakan udara dingin pada pagi hari dalam beberapa waktu ke depan, terutama saat kondisi cuaca cerah tanpa banyak awan.