Penyebab Erupsi Gunung Semeru: Ketidakstabilan Lidah Lava
·waktu baca 2 menit

Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, erupsi pada Sabtu (4/12) sore. Aktivitas dari gunung ini masih terus dipantau hingga saat ini, demi antisipasi tindakan selanjutnya.
Dalam konferensi pers usai erupsi, Sabtu (4/12) malam, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono menjelaskan penyebab dari erupsi Gunung Semeru karena ketidakstabilan lidah lava.
“Letusan Gunung Semeru umumnya bertipe vulkanian dan strombolian. Berupa penghancuran kubah dan lidah lava, atau pembentukan kubah dan lidah lava baru,” papar Eko.
Penghancuran kubah atau lidah lava ini menyebabkan pembentukan awan panas hingga guguran, yang merupakan karakter dari gunung ini.
Hasil pengamatan secara visual hingga 30 November menunjukkan, gunung api terlihat jelas hingga tertutupi kabut. Embusan gas dari kawah utama berwarna putih-abu dengan tinggi kurang lebih 100-600 meter dari puncak. Cuacanya cerah dan hujan, dengan angin lemah dan situasi suhu mencapai 30-32 derajat celsius.
“Erupsi yang terjadi tidak menerus, mengeluarkan kolom erupsi 300-600 meter di atas puncak kawah,” paparnya.
Kemudian pada hari ini, Sabtu (4/12), terjadi luncuran awan panas 1.700 meter dari puncak, atau 700 meter dari ujung lava dengan arah luncuran ke tenggara.
Mulai pukul 13.30 WIB, terekam getaran banjir dari seismogram dan pada pukul 14.50 WIB, awan panas guguran teramati dengan jarak luncur 4 kilometer dari puncak, atau 2 kilometer dari ujung aliran lava ke arah tenggara.
“Dari sisi kegempaan, ini yang terekam selama 1-30 November 2021 didominasi dengan gempa letusan dengan rata-rata 50 kejadian per hari. Sedangkan pada 1-3 Desember terekam gempa guguran masing-masing 4 kali,” jelasnya.
“Amatan visual ini menunjukkan pemunculan awan panas guguran disebabkan ketidakstabilan lidah lava dan interaksi batuan yang bersuhu relatif tinggi dengan air hujan,” lanjutnya.
Ia menerangkan, kegempaan Gunung Semeru pada 1-3 Desember memang relatif rendah. Menurut Eko, ini menunjukkan tidak adanya peningkatan suplai magma atau batuan gunung ke permukaan.
“Tapi, kejadian kemarin kaitannya ada faktor dari luar, terkait dengan ketidakstabilan dari endapan atau lidah lava. Di mana ini mungkin disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, sehingga memicu lava yang ada di sana itu menyebabkan erupsi atau guguran dari awan panas,” jelasnya.
