Penyelenggaraan Haji 2025 Gunakan 8 Syarikah, ini Penjelasan Kemenag

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Hilman Latief mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VIII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta pada Senin (19/5/2025). Foto: YouTube/ TVR Parlemen
zoom-in-whitePerbesar
Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Hilman Latief mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VIII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta pada Senin (19/5/2025). Foto: YouTube/ TVR Parlemen

Arab Saudi menggunakan perusahaan swasta penyedia layanan haji atau yang disebut syarikah. Syarikah berlaku untuk semua jemaah haji, termasuk jemaah haji Indonesia.

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag, Hilman Latief, menyebut syarikah yang dirancang untuk penyelenggaraan haji tahun ini ada delapan perusahaan. Delapan syarikah itu hasil seleksi dari beberapa layanan syarikah.

“Kita melakukan seleksi, ada lebih dari 25 perusahaan datang ke kita,” ujar Hilman kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (19/5).

“Kita persyaratan seleksinya, pengalamannya, kapasitasnya, kapasitas pegawainya, kapasitas layanannya, sebelum kita pernah melayani berapa ribu orang, negara mana saja, hasil mana saja, keunggulannya apa, dan lain-lain,” tambahnya.

Hilman mengatakan, adanya syarikah ini diharapkan bisa melayani jemaah haji dengan lebih baik. Sebab, setiap syarikah harus memberikan pelayanan kontrak sebagaimana yang disepakati.

"Orang Indonesia itu, petugas kita menjaga. Menjaga agar tenang, agar aman. Tapi semuanya itu di bawah tanggung jawab perusahaan yang ditunjuk. Dari berangkat keluar pesawat, sampai ke puncak haji, sampai pulangnya nanti. Jadi sistem syarikah itu yang dimaksud," terangnya.

Jemaah haji gelombang 2 mulai tiba di Makkah. Foto: Moh Fajri/kumparan

Kendati begitu, sistem syarikah ini juga membuat beberapa kesulitan bagi jemaah Indonesia. Misalnya saja, jemaah menjadi tercecer atau terpisah dari kloternya.

Hilman mengungkapkan telah berkoordinasi agar jemaah yang terpisah ini bisa didekatkan, misalnya saja jemaah yang berasal dari satu kloter yang sama.

"Jadi kami mohon kerja samanya dengan semua pihak. Kita akan coba melakukan langkah-langkah teknis untuk menghubungkan keluarga terutama, agar komunikasi lebih lancar sebetulnya kan. Dan juga kita mengharapkan seluruh proses ke puncak haji bisa berjalan," tuturnya.

Pada haji 2025, ada 8 syarikah yang melayani jemaah haji Indonesia di Makkah, yaitu Al-Bait Tamu melayani 35.977 jemaah, Rakeen Mashariq 35.090 jemaah.

Ada juga Sana Mashariq 32.570 jemaah, Rehlat & Manafea 34.802 jemaah, Alrifadah 20.317 jemaah, Rawaf Mina 17.636 jemaah, MCDC 15.645 jemaah, dan Rifad melayani 11.283 jemaah.

Sistem ini berbeda dengan haji tahun-tahun sebelumnya yang menggunakan sistem pembagian jemaah berdasar kloter dan dilayani oleh satu muassasah (lembaga semi-pemerintah atau badan usaha milik pemerintah di Arab Saudi).

Tujuan perubahan dari muassasah ke multisyarikah ini, menurut Kemenag, adalah untuk mengoptimalkan mobilisasi dan pelayanan saat di Arafah, Muzdalifah, Mina (Armuzna), yang merupakan puncak ibadah haji pada awal Juni nanti.