Penyelidikan Ungkap Kelambanan Petugas Respons Penembakan Sekolah di Texas AS

18 Juli 2022 11:04 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Warga dan kerabat korban penembakan memberi penghormatan terakhir di luar Sekolah Dasar Robb di Uvalde, Texas, Kamis (26/5/2022). Foto: Chandan Khanna/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Warga dan kerabat korban penembakan memberi penghormatan terakhir di luar Sekolah Dasar Robb di Uvalde, Texas, Kamis (26/5/2022). Foto: Chandan Khanna/AFP
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Parlemen Negara Bagian Texas, Amerika Serikat (AS), pada Minggu (17/7/2022) mengecam tanggapan lambat penegak hukum terhadap penembakan di Sekolah Dasar Robb yang terjadi pada 24 Mei silam.
ADVERTISEMENT
Pihaknya merilis sebuah laporan penyelidikan setebal 77 halaman. Investigasi menunjukkan, kegagalan sistemik menewaskan 19 anak dan 2 guru dalam serangan tersebut.
Hingga 376 petugas penegak hukum bergegas menanggapi penembakan itu. Pasukan tersebut terdiri dari penjaga perbatasan, polisi negara bagian, polisi kota, hingga satuan elite.
Kendati demikian, kepemimpinan yang tidak memadai mengacaukan situasi. Anggota parlemen mengatakan, tindakan tegas seharusnya dapat menyelamatkan nyawa para korban.
Keluarga korban penembakan di Sekolah Dasar Robb di Uvalde, Texas, saat unjuk rasa "March for Our Lives", protes nasional terhadap kekerasan senjata, di Austin, Texas, AS, Sabtu (11/6/2022). Foto: Nuri Vallbona/REUTERS
Otoritas membutuhkan lebih dari satu jam untuk menaklukkan pelaku berusia 18 tahun itu. Sekitar 73 menit telah berlalu antara kedatangan petugas dan kematian penyerang.
Laporan itu mengakui, jangka waktu itu berkontribusi pada jumlah korban jiwa. Sebagian dari mereka tewas ketika dilarikan ke rumah sakit.
"Masuk akal bahwa beberapa korban bisa selamat bila mereka tidak harus menunggu 73 menit tambahan untuk penyelamatan," tulis laporan tersebut, dikutip dari AFP, Senin (18/7/2022).
ADVERTISEMENT
"[Penegak hukum] gagal mematuhi pelatihan penembak aktif mereka, dan mereka gagal memprioritaskan menyelamatkan nyawa korban yang tidak bersalah atas keselamatan mereka sendiri," lanjutnya.
Petugas penegak hukum diminta untuk tidak bergerak ketika tembakan terdengar di lorong saat polisi masuk ke ruang kelas Sekolah Dasar Robb di mana Salvador Ramos berada di Uvalde, Texas, AS 24 Mei 2022. Foto: Austin American-Statesman/Handout via REUTERS
Direktur Departemen Keamanan Publik Texas (DPS), Steve McCraw, telah melayangkan kritik serupa. Dia memusatkan kecamannya terhadap Kepala Kepolisian Distrik Uvalde, Pete Arredondo.
Arredondo menghadapi skorsing lantaran gagal memikul tanggung jawab komando selama insiden. Pemerintah Uvalde turut menskors Letnan Mariano Pargas. Dia merupakan kepala kepolisian kota saat hari penembakan.
Namun, laporan teranyar mencatat, ratusan petugas dari lembaga yang lebih terlatih juga gagal mengendalikan situasi.
"Terlepas dari kekacauan, petugas dari lembaga penanggap lainnya tidak mendekati [Arredondo] atau siapa pun yang dianggap memegang komando untuk menunjukkan kurangnya dan perlunya pos komando, atau untuk menawarkan bantuan khusus itu," jelas laporan itu, dikutip dari Reuters.
ADVERTISEMENT
"Tempat kejadian itu kacau, tanpa ada orang yang jelas-jelas bertanggung jawab atau mengarahkan respons penegakan hukum," tambahnya.
Polisi sebelum maju di ruang kelas di mana Salvador Ramos berada, setelah ia memasuki sekolah dasar Robb untuk membunuh 19 anak dan dua guru di Uvalde, Texas, AS, pada 24 Mei 2022. Foto: Austin American-Statesman/Handout via REUTERS
Parlemen Texas mempublikasikan temuan itu untuk kerabat para korban. Pihaknya mengusut insiden tersebut menyusul kecaman selama berminggu-minggu.
Kerabat korban mengkritik kurangnya transparansi dari pihak berwenang mengenai peristiwa itu. Mereka menuduh, otoritas berupaya menutupi kegagalan polisi.
Kritik publik terhadap otoritas negara bagian memuncak pada pekan lalu. Sebab, media lokal merilis rekaman kamera pengintai yang membuktikan dugaan tersebut.
Rekaman itu menunjukkan bahwa petugas penegak hukum menunggu lama di lorong sebelum akhirnya memasuki ruang kelas tempat pria bersenjata itu bersembunyi.
Anak-anak yang panik di dalam ruang kelas telah menelepon layanan darurat 911 setidaknya enam kali sementara petugas menunggu di lorong. Pelaku bahkan telah menembakkan 100 peluru sebelum petugas memasuki gedung sekolah.
ADVERTISEMENT