Penyerang Wiranto Spontan Bergerak Setelah Lihat Helikopter Mendarat

Dua penyerang Menko Polhukam Wiranto di Pandeglang, Banten, telah diperiksa Densus 88 Polri. Keduanya, Syahrial Alamsyah alias Abu Rara (51) dan Fitri Andriana (21), mengaku melakukan aksi secara spontan tanpa perencanaan yang matang.
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan Abu Rara awalnya penasaran dengan kerumunan warga di Alun-alun Menes, Pandeglang. Abu Rara bersama istrinya Fitri melihat helikopter turun.
“Jadi dia (Abu Rara) melihat kapal (helikopter), ada orang berbondong-bondong. Dia tak tahu siapa yang di lokasi itu, dia mengajak istrinya. Ini pejabat penting, begitu dia masuk (ke pendaratan helikopter), dia dihalau kepolisian,” kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (11/10).
Dedi menyebut, kedua pelaku saat itu sebenarnya tak tahu pejabat yang turun dari helikopter adalah Wiranto. Mereka menganggap, setiap pejabat yang turun dari helikopter merupakan pejabat lingkungan Istana Negara.
Pasangan suami istri tersebut pun langsung mengikuti agenda Wiranto. Syahril meminta Fitri ikut membantu apabila usahanya membunuh Wiranto gagal.
“Dia menceritakan ke istrinya, nanti saya akan menyerang bapak yang turun dari heli. Kamu nanti menusuk orang yang menghalangi penusukan (Polisi, anggota TNI, dan ajudan Wiranto),” ujar Dedi.
Para pelaku pun akhirnya mengikuti Wiranto hingga turun dari mobil. Abu Rara kemudian menyerang Wiranto dengan pisau. Sedangkan Fitri menyusul menyerang menggunakan gunting, namun mengenai Kapolsek Menes yang menghalau.
Selain Wiranto, dalam insiden tersebut, ada tiga orang lainnya yang terluka. Mereka adalah Kapolsek Menes Kompol Darianto, ajudan Danrem yang bernama Serda Yogi, hingga tokoh Ponpes Mathla'ul Anwar Fuad Sauki.
Polisi menyebut Abu Rara merupakan anggota JAD Bekasi. Abu Rara, kata Dedi, menyerang karena kesal Ketua JAD Bekasi Abu Zee ditangkap Densus 88 pada 23 September 2019.
