Penyintas Gempa Maroko Bermalam di Jalanan: Kami Hanya Bisa Mengandalkan Tuhan
·waktu baca 3 menit

Gempa bumi berkekuatan 6,8 magnitudo yang mengguncang Maroko telah menimbulkan luka dan kekhawatiran mendalam di benak warga terdampak.
Pada malam kedua sejak gempa, banyak di antara mereka berada di jalanan lantaran khawatir adanya gempa susulan — atau rumah mereka telah hancur diguncang gempa.
Dikutip dari Reuters, menurut laporan terbaru dari Kementerian Dalam Negeri Maroko pada Minggu (10/9) korban tewas mencapai 2.012 orang, 2.059 orang luka-luka, dan 1.404 di antaranya kritis.
Pusat gempa yang terjadi pada Jumat (8/9) terletak sekitar 72 km dari Marrakesh — kota dengan arsitektur mozaiknya yang indah dan kerap menjadi destinasi wisata lokal maupun asing.
Kerusakan akibat gempa paling dirasakan di desa-desa sekitar High Atlas, sebuah pegunungan terjal yang dihuni oleh permukiman warga terpencil.
Salah satu desa dengan kerusakan terparah adalah Desa Tansghart di daerah Ansi, yang terletak di lereng bukit dan sisi lembah jalan dari Marrakesh naik ke High Atlas. Rumah-rumah warga tampak retak, sementara dua menara masjid telah hancur.
Seorang penyintas gempa bernama Abdellatif Ait Bella tampak terbaring tak berdaya di tanah — hampir tidak bisa bergerak bahkan untuk berbicara. Kepalanya diperban akibat terkena reruntuhan.
"Kami tidak memiliki rumah untuk membawanya ke tempat yang aman dan tidak memiliki makanan sejak kemarin," kata istri Abdellatif, Saida Bodchich.
Saida mengaku khawatir atas masa depan keluarganya yang terdiri dari enam orang, sementara satu-satunya tulang punggung mereka mengalami luka parah.
Kami tidak bisa mengandalkan siapa pun kecuali Tuhan," ungkap Saida.
Situasi memilukan pun dirasakan oleh warga Marrakesh yang sedang mengkhawatirkan gempa susulan. Tampak warga berkerumun di jalanan pada Minggu (10/9) dini hari, menghabiskan malam kedua mereka di bawah langit tak beratap.
Sebagian besar warga merasa khawatir, rumah mereka tidak lagi dapat melindungi mereka. Hal itu dirasakan oleh Mouhammad Ayat Elhaj (51 tahun), yang mengarungi kepiluan akibat gempa ini bersama keluarganya di jalanan.
"Saya tidak bisa tidur di sana. Saya meminta pihak berwenang untuk membantu saya dan membawa seorang ahli untuk menilai apakah saya bisa kembali ke rumah atau tidak," ujar Mouhammad.
"Jika ada risiko, saya tidak akan kembali ke rumah," sambung dia.
Di sisi lain, tim penyelamat saat ini sedang bekerja keras mencari korban-korban hilang lainnya yang kemungkinan masih hidup dan tertimpa reruntuhan.
Menurut Direktur Operasi Global Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, Caroline Holt, harapan menemukan korban selamat masih ada.
"24 hingga 48 jam ke depan akan sangat penting dalam hal menyelamatkan nyawa," kata Holt.
Mengupayakan pencarian dan penyelamatan, sambung Holt, akan diprioritaskan seiring dengan memastikan para penyintas gempa mendapatkan perawatan medis.
