Peran Qatar di Balik Gencatan Senjata Hamas dan Israel

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani. Foto: Olivier Douliery/Pool via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani. Foto: Olivier Douliery/Pool via REUTERS

Qatar menjadi pihak berjasa pada kesepakatan gencatan senjata Israel-Hamas di Gaza. Hampir dua bulan perang sebanyak 13 ribu orang tewas akibat serangan Israel di wilayah kekuasaan Hamas tersebut.

Pada Rabu (22/11), Pemerintah Qatar mengumumkan kesepakatan gencatan senjata, yang akan diikuti pelepasan sandera baik dari Israel mau pun Palestina.

"Dimulainya waktu jeda akan diumumkan dalam waktu 24 jam dan berlaku selama empat hari yang bisa diperpanjang,"ucap Kemlu Qatar seperti dikutip dari AFP.

Warga Palestina mengendarai kereta yang ditarik keledai bergerak ke selatan setelah melarikan diri dari Gaza utara, ketika tank-tank Israel meluncur lebih jauh ke wilayah tersebut. Foto: Ibraheem Abu Mustafa/Reuters

Sejumlah sumber mengungkap selama beberapa pekan Qatar terlibat pada negosiasi tertutup dengan Israel dan Hamas. Tujuan negosiasi adalah pembebasan sandera, gencatan senjata sementara dan pembukaan akses kemanusiaan.

Terkait kesepakatan gencatan senjata, Qatar menyatakan selain Israel dan Hamas pihak lain seperti Amerika Serikat dan Mesir turut dilibatkan.

Lewat unggahan X Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman al-Thani berharap gencatan senjata ini adalah kesepakatan yang komperhensif dan berkelanjutan.

"Ini juga kami harap dapat mengakhiri perang dan pertumpahan darah dan membawa pada perundingan yang adil dan komperhensif," papar Al-Thani.

Jubir Kemlu Qatar, Majed Al-Ansari, menyampaikan optimismenya terkait gencatan senjata di Gaza akan diperpanjang.

"Gencatan senjata dimulai dan kemudian dalam empat akan ada sejumlah sandera dibebaskan, dan selama empat hari angkanya akan mencapai 50," papar dia.