Perdebatan soal Lafal Al-Fatihah Jokowi Dinilai Tak Substansial

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Jokowi di acara MTQ Nasional ke-27 di Medan, Sumatera Utara. (Foto: Dok. Biro Pers Setpres)
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Jokowi di acara MTQ Nasional ke-27 di Medan, Sumatera Utara. (Foto: Dok. Biro Pers Setpres)

Cara Presiden Joko Widodo melafalkan Al-Fatihah dengan sebutan Al-Fatekah jadi perbincangan. Sebagian pihak menilai, perbedaan pelafalan itu merupakan satu kesalahan besar.

Dosun Universitas NU Indonesia (UNUSIA) Jakarta, Muhammad Idris Masudi mengatakan, perdebatan soal pelafalan Al-Fatihah sangat tidak substansial. Seharusnya, warga lebih melihat niat baik Jokowi dalam mengajak semua warga untuk mendoakan para korban bencana di Sulawesi Tengah dan Lombok.

"Perdebatan itu tidak substansial karena pertama konteks itu adalah ajakan Presiden untuk mendoakan korban gempa yang ada di Palu dan Lombok," kata Idris saat dihubungi kumparan, Rabu (10/10).

Jokowi resmikan Pesantren di Sumbawa Besar. (Foto: dok. Biro Pers Setpres)
zoom-in-whitePerbesar
Jokowi resmikan Pesantren di Sumbawa Besar. (Foto: dok. Biro Pers Setpres)

Selain itu, pelafalan Al-Fatihah yang disebutkan Jokowi merupakan nama surat, bukan bagian dari ayat Al-Quran. Hal ini berbeda bila dibandingkan dengan cara Jokowi membacakan isi surat Al-Fatihah yang justru sangat fasih.

"Pembacaan fatihahnya saya yang mendengarkan berulang kali itu sudah fasih, sudah cukup fasih ada kemajuan yang saya lihat untuk belajar membaca Al-Quran dengan baik," jelas dia.

"Tapi yang digeret lagi-lagi nama suratnya, padahal nama surat itu bukan (isi ayat) Al-Quran, isinya. Kecuali Pak Presiden bacanya alkamdulillah itu baru mungkin akan jadi perdebatan yang fair," imbuh dia.

Kondisi ini diperparah dengan kesalahan yang ditarik-tarik ke ranah politik. Lagi pula, kurang pas rasanya calon presiden diuji bacaan Al-Qurannya.

"Kita juga enggak fair kalau pemilihan presiden diujinya dari baca Al-Quran kan enggak mungkin," ucap Idris.

Jokowi di Pesantren Al-Amien, Tegal. (Foto: Biro Setpres)
zoom-in-whitePerbesar
Jokowi di Pesantren Al-Amien, Tegal. (Foto: Biro Setpres)

Karena itu, Idris mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih bijak saat melihat satu masalah. Idris mengatakan, perdebatan soal perbedaan pelafalan Al-Quran sebenarnya sudah terjadi sejak zaman Nabi Muhammad.

"Orang Kuffah membaca di depan orang Madinah, loh pembacaannya ko tidak sesaui dengan yang saya terima. Akhirnya dibuat yang namanya mushaf Usmani itu yang hari ini inginnya menyatukan model pembacaan jadi maksudnya panjang pendek itu diseuaikan," tutur dia.

"Artinya itu dulu sejarahnya dalam komunitas Arab sendiri soal pelafalan itu memang beda-beda itu bahkan orang antara suku Kuffah dengan Madinah, apalagi penerimaan bukan orang Arab," imbuh dia.

Tak hanya itu, dalam Al-Quran Surat Al-Muzammil ayat 20 juga disebutkan Allah memberi kekeluasaaan untuk memudahkan bacaan Al-Quran.

"Karena itu Kiai Quran kita yang ngajar akan galak dengan santrinya, ketika dengan masyarakat beda lagi memakai pendapat yang meringankan. Itu konsep hukumnya ya," tambah dia.

Idris mengimbau kepada masyarakat untuk lebih berpikir positif dalam melihat sesuatu. Presiden sudah sangat tepat mengajak masyarakat untuk berdoa bagi keselamatan warga Sulteng dan Lombok.

"Saya mengajak masyarakat Indonesia untuk bersikap dewasa berpikir positif. Ini ajakan positif dari Presiden untuk mengajak berdoa untuk korban di Palu dan Lombok tapi ko tidak diapresiasi malah mengambil satu angle yang apa namanya. Presiden sudah berusaha memang ada kesalahan dalam pengucapan itu bisa memaklumi karena dialek orang Jawa memang begitu," tutup dia.