Perempuan Iran Ditangkap Polisi Karena Lepas Jilbab di Depan Umum

31 Januari 2018 23:58
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Aksi perempuan Iran lepas kerudung  (Foto: Twitter @NegarMortazavi)
zoom-in-whitePerbesar
Aksi perempuan Iran lepas kerudung (Foto: Twitter @NegarMortazavi)
ADVERTISEMENT
Sekelompok wanita melakukan aksi buka kerudung di depan publik, sebagai bentuk protes terhadap undang-undang yang mewajibkan wanita berpakaian tertutup dan mengenakan jilbab.
ADVERTISEMENT
Dilansir Independent, Rabu (31/1), sedikitnya ada enam wanita melepaskan jilbab sebagai bentuk protes mereka karena aturan pemerintah tersebut. Protes itu kian meluas sejak Vida Mohaved, seorang aktivis keseteraan gender, ditangkap oleh kepolisian Iran karena tidak mengenakan kerudung saat protes anti-pemerintah, yang terjadi pada Desember 2017.
Vida yang juga dikenal sebagai "Girl of Enghelab Street" ditahan selama beberapa minggu sebelum dibebaskan dari tahanan. Aksi Vida melepas kerudung pada Desember lalu, ditiru oleh seorang perempuan yang bernama Narges Hosseini.
Aksinya tersebut muncul di media sosial di mana juga menunjukkan sejumlah wanita, dengan rambut yang terurai memegang jilbab mereka di ujung tongkat dan berdiri di atas kotak utilitas di trotoar jalan.
Aksi perempuan Iran lepas kerudung  (Foto: Twitter @NegarMortazavi)
zoom-in-whitePerbesar
Aksi perempuan Iran lepas kerudung (Foto: Twitter @NegarMortazavi)
Menurut kuasa hukum Hosseini, Nasrin Sotoudeh, berdasarkan keterangan keluarga, Hosseini tak keberatan jika dirinya ditangkap.
ADVERTISEMENT
"Mereka mengaku ingin ditahan dan saya diminta untuk menjadi pengacaranya. Melihat bahwa hakim tahu kondisi keuangan keluarga, penetapan uang jaminan yang besar memperlihatkan mereka ingin menahannya," jelas Sotoudeh.
Dalam beberapa bulan terakhir, penegakan hukum – yang pertama kali diterapkan setelah Revolusi Islam pada 1979 – telah sedikit melunak.
Dahulu, wanita yang tanpa sengaja memperlihatkan rambut di balik kerudung, biasanya akan langsung dinasihati oleh polisi syariat. Namun, tindakan tersebut tidak lagi diberlakukan secara ketat oleh rezim pemerintahan Hassan Rouhani.
Belakangan aksi diwarnai unjuk rasa dengan jatuhnya korban sedikitnya 20 jiwa.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·