Kumparan Logo
jokowi meninjau RSUD Komodo
Presiden Jokowi meninjau RSUD Komodo untuk menunjang agenda Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-42 ASEAN di Nusa Tenggara Timur.

Perhatian Negara untuk Mantan Presiden yang Sakit, Mengapa ke Jokowi Beda?

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 11 menit

“Saya dan istri mendoakan secara khusus untuk kesembuhan beliau. Semoga Tuhan YME mengangkat segala penyakit beliau, dan memulihkan kondisi beliau agar dapat kembali beraktivitas dengan penuh semangat, seperti biasanya.”

Pesan mendalam itu disampaikan Luhut Binsar Pandjaitan saat mengunjungi Joko Widodo yang tengah sakit, awal Juli (2/7) lalu. Dalam pertemuan lebih dari satu jam, Luhut dan Jokowi juga mengenang masa-masa saat menjabat di pemerintahan.

Luhut merupakan mantan Menko Polhukam dan Menko Maritim semasa Jokowi menjabat Presiden periode 2014-2024. Kini ia didapuk sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto.

“Dalam kondisi yang belum sepenuhnya pulih, beliau tetap menyambut kami dengan hangat, bahkan sambil mengobrol santai dan bersenda gurau,” ucap Luhut dalam akun Instagramnya, Rabu (2/7).

Presiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan (kanan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (22/4/2019). Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Luhut tak menyebut di mana ia bertemu Jokowi. Foto yang diunggah Luhut bersama Jokowi juga foto lama. Namun menurut salah satu loyalisnya, Silfester Matutina, Jokowi tengah berlibur di Bali. Pada Kamis (3/7), Jokowi menunjukkan kebersamaan bersama cucunya di sebuah pantai di akun media sosialnya.

Kondisi kesehatan Jokowi memang jadi perhatian sebulan terakhir. Pertama kali fisik Jokowi nampak berbeda terlihat saat sesi doorstop di depan rumahnya di Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, pada 28 Mei. Saat itu Jokowi sedang menanggapi hasil survei Indikator Politik yang menyebut 66,9% responden tidak percaya isu ijazah palsu yang menerpanya. Kala itu nampak ruam-ruam pada beberapa bagian wajah dan leher Jokowi.

Jokowi baru menanggapi soal kesehatannya usai menjalani salat Idul Adha pada 6 Juni. Ia mengaku terkena alergi kulit sepulang dari Vatikan. Sedangkan menurut ajudan Jokowi, Kompol Syarif Muhammad Fitriansyah, pemicu alergi yakni pengaruh cuaca di Vatikan.

“[Badan] nggak ada masalah. Alergi biasa waktu ke Vatikan kemarin (akhir April-red)" ucap Jokowi di kediamannya, 6 Juni.

Rombongan dari Indonesia yang terdiri dari Jokowi, Ignasius Jonan dan Thomas Djiwandono di tempat persemayaman Paus Fransiskus. Foto: Dok. Istimewa

Kunjungan Jokowi ke Vatikan saat itu atas utusan Prabowo untuk menghadiri pemakaman Paus Fransiskus. Jokowi bersama rombongan seperti Menteri HAM Natalius Pigai hingga Wamenkeu Thomas Djiwandono berangkat pada 24 April dan kembali ke Indonesia pada 28 April. Kondisi cuaca di Vatikan pada periode itu sekitar 8-24 derajat celsius.

Bila melihat runutan waktu tersebut dibandingkan dengan pertama kali kondisi fisik Jokowi terlihat berbeda pada 28 Mei, artinya ada jeda sekitar sebulan antara serangan alergi dan kepulangannya dari Vatikan. Sebab pada 30 April saat melapor ke Polda Metro Jaya dan ketika diperiksa Bareskrim soal ijazah palsu pada 20 Mei, kulit Jokowi masih terlihat normal.

Kondisi kulit Jokowi makin memprihatinkan pada momen ulang tahunnya ke-64 yang dirayakan di depan kediamannya pada Sabtu (21/6). Ruam-ruam merah di wajahnya yang agak membengkak terlihat jelas. Jokowi pun memilih berdiri di bagian belakang di balik istrinya, Iriana. Di momen itu, warga yang hadir ikut mendoakan kesehatan Jokowi.

Presiden ketujuh Joko Widodo merayakan ulang tahun (ultah) ke-64 secara sederhana dikediaman dengan menggelar syukuran potong tumpeng bersama keluarga dan warga, Sabtu (21/6/2025). Foto: kumparan

Kompol Syarif menuturkan, bengkak di wajah Jokowi karena peradangan akibat alergi. Meski demikian, ia menyebut Jokowi dalam kondisi baik-baik saja dan tengah proses pemulihan. Wajah Jokowi yang agak membengkak masih terlihat saat ia hendak pergi berlibur bersama cucu-cucunya pada 26 Juni. Kondisi itu membuatnya absen menghadiri HUT ke-79 Bhayangkara di Monas, Jakarta, pada 1 Juli.

“Betul Pak Jokowi tidak hadir di acara Hari Bhayangkara. Beliau masih di luar kota bersama cucu dan keluarga. Walaupun beliau tidak hadir, beliau tetap mengucapkan selamat Hari Bhayangkara…melalui kiriman karangan bunga ke lokasi acara perayaan,” ucap Syarif pada kumparan, Kamis (3/7).

Mantan yang Terlupakan?

Walau sakit Jokowi sudah berlangsung sekitar sebulan lebih, sejauh ini belum diketahui pasti jenis penyakitnya. Keterangan soal penyakit yang menimpa Presiden ke-7 RI itu sejauh ini baru dari Jokowi sendiri maupun ajudannya. Tidak ada dokter yang memberi penjelasan, baik dokter pribadi maupun kepresidenan. Sehingga muncul isu liar yang menyebut Jokowi terkena sindrom Stevens-Johnson, autoimun, hingga perkara mistis.

kumparan sempat mengajukan permintaan wawancara kepada Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) mengenai jenis penyakit yang kemungkinan menimpa Jokowi. Namun Perdoski tidak bisa memberi keterangan apabila belum ada penjelasan dari dokter kepresidenan.

“Mohon dipastikan terlebih dahulu penyakit beliau apa ke tim dokter kepresidenan, kecuali sudah ada release resmi dari tim dokter yang menangani baru dari Perdoski bisa memberikan tanggapan,” kata Sekretariat Perdoski menjawab permohonan kumparan.

Ajudan Jokowi, Kompol Syarif Muhammad Fitriansyah, mengecek bunga anggrek pemberian Presiden Prabowo Subianto untuk ultah Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Foto: kumparan

kumparan pun mengonfirmasi kepada ajudan Jokowi, Kompol Syarif, apakah ada dokter kepresidenan yang merawat bosnya itu. Namun Syarif enggan memberi jawaban. Tetapi menurut Silfester, Jokowi ditangani dokter pribadi.

“Masih ada dokter pribadi beliau. Tapi intinya bukan perawatan yang kayak sampai diopname atau enggak bisa gerak, enggak. Beliau bergerak biasa aja. Ini kena alergi kulit, kayak kita juga kena cacar atau apa,” kata Silfester.

Padahal sesuai Pasal 3 ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2018, mantan presiden berhak mendapat fasilitas dokter kepresidenan. Bahkan menurut Pasal 27 di Perpres yang sama, biaya pengobatannya ditanggung APBN. Berikut bunyi Pasal 3 ayat (1) Perpres 18/2018:

Dokter Kepresidenan mempunyai tugas melaksanakan layanan pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan Presiden dan keluarganya, Wakil Presiden dan keluarganya, mantan Presiden dan istri/suaminya, dan mantan Wakil Presiden dan istri/ suaminya, serta Tamu Negara.

Presiden Jokowi meninjau RSUD Komodo untuk menunjang agenda Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-42 ASEAN di Nusa Tenggara Timur. Foto: Dok. Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden

Analis komunikasi politik Hendri Satrio pun heran mengapa sampai sekarang dokter kepresidenan belum menangani sakit Jokowi.

“Kenapa kemudian dokter kepresidenan enggak taker (ambil alih perawatan Jokowi) itu, kan malu dong Prabowo pasti,” ucap Hendri pada kumparan, Jumat (4/7).

Mengenai kepastian ada atau tidaknya dokter kepresidenan yang ditugaskan Istana merawat Jokowi, kumparan telah meminta keterangan ke Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Mensesneg Prasetyo Hadi, hingga Wamensesneg Juri Ardiantoro. Namun mereka tidak menjawab pertanyaan kumparan.

Soekarno hingga SBY Ditangani Dokter Kepresidenan

Kondisi Jokowi yang belum jelas apakah menerima fasilitas dokter kepresidenan atau tidak berbeda bila dibandingkan para mantan presiden sebelumnya ketika sakit.

Catatan kumparan, para mantan presiden mulai dari Soekarno, Soeharto, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Habibie, hingga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mendapatkan penanganan dokter kepresidenan ketika tengah sakit yang cukup serius.

Soekarno misalnya. Setelah lengser dan menjadi tahanan rumah di Wisma Yaso, Jakarta Selatan (kini Museum Satriamandala) sejak 1969, kesehatan Soekarno dipantau Ketua Tim Dokter Kepresidenan, Prof Mahar Mardjono.

Masuk pertengahan 1970, kesehatan Soekarno semakin merosot. Ini tak lepas dari riwayat Soekarno yang pernah mengalami sakit batu ginjal hingga gangguan peredaran darah pada jantung.

Presiden pertama Soekarno. Foto: AFP

Riwayat kesehatan itu diperparah dengan perlakuan Orde Baru terhadap Soekarno yang membuat hari-harinya sepi dan terasing, bahkan dari keluarganya yang hanya diizinkan menjenguk dalam waktu terbatas. Kepada Prof Mahar, Soekarno kerap mengeluhkan perlakuan Orde Baru itu kepadanya.

Pada 16 Juni 1970, kondisi Soekarno makin kritis dan dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Setelah dirawat selama 5 hari, Bapak Proklamator itu mengembuskan napas terakhirnya pada 21 Juni pukul 07.00 WIB di usia 69 tahun dan selanjutnya dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.

Melalui komunike medis, Prof Mahar melaporkan kondisi kesehatan Soekarno memburuk pada 20 Juni pukul 20.30 WIB, lalu tidak sadarkan diri pada 21 Juni pukul 03.50 WIB, hingga akhirnya wafat pukul 07.00 WIB.

Jenazah Presiden pertama RI Sukarno disemayamkan di Wisma Yaso. Foto: ARNI

Walau kesehatan Soekarno selama masa karantina politik dipantau tim dokter kepresidenan, namun perawatan yang diterima Putra Sang Fajar itu disebut-sebut tidak maksimal. Sebab beberapa resep obat yang ditulis Prof Mahar untuk Soekarno justru tak ditebus oleh rezim saat itu.

Penanganan dokter kepresidenan bagi mantan presiden juga diterima Soeharto. Setelah lengser dari jabatan presiden, Soeharto untuk pertama kali masuk rumah sakit pada 20 Juli 1999. Ia dirawat di RS Pusat Pertamina (RSPP).

Soeharto sedianya dijadwalkan "check up" di RSPP pada 24 Juli, tetapi pada 20 Juli pemimpin Orde Baru itu mengeluh pusing dan lesu. Tim dokter menemukan tanda-tanda stroke ringan. Sepuluh hari kemudian, 30 Juli 1999, Soeharto baru diizinkan pulang oleh tim dokter kepresidenan. Setelahnya, Soeharto kerap keluar masuk rumah sakit.

Mantan presiden Indonesia Soeharto, keluar dari rumah sakit "Harapan Kita" Jakarta pada 17 Juni 2000. Foto: Muhammad/AFP

Pada Jumat siang, 4 Januari 2008, Soeharto dilarikan ke RSPP. Kadar hemoglobinnya rendah, tekanan darah turun, dan ada penimbunan cairan sehingga tubuh membengkak. Soeharto menempati ruang ‘president suite’ nomor 536 di lantai lima gedung RSPP.

Perawatan Soeharto dipantau langsung Ketua Tim Dokter Kepresidenan, Dr. Mardjo Soebiandono. Tim dokter kepresidenan juga dibantu dokter-dokter lainnya dari RSCM, RS Jantung Harapan Kita, RS Pondok Indah, RS Cinere, MMC, RS Medistra, RS Persahabatan, dan rumah sakit lainnya, yang jumlahnya mencapai 40 orang.

Saat itu tim dokter menyatakan penyakit Soeharto sangat kompleks, mulai dari jantung, ginjal dan paru-paru. Selama dirawat, kondisi Soeharto naik turun. Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla sempat beberapa kali menjenguk. Setelah dirawat selama 23 hari di RSPP, Soeharto meninggal dunia pada Minggu, 27 Januari 2008, pukul 13.10 WIB. Soeharto yang wafat di usia 86 tahun dimakamkan di kompleks Astana Giribangun, Karanganyar, Jateng.

Sejumlah TNI membawa peti Presiden kedua RI Soeharto di pemakaman keluarganya di Astana Giribangun, 28 Januari 2008. Foto: AFP/DUDI ANUNG

Mantan presiden selanjutnya yang pernah menerima fasilitas dokter kepresidenan ialah Gus Dur. Saat kesehatan Gus Dur labil dan dirawat di RSCM pada Maret 2006, Presiden SBY langsung membentuk tim dokter kepresidenan untuk memantau kondisi mantan Ketum PBNU itu.

Tiga tahun berselang, tepatnya di akhir tahun 2009, Gus Dur dirawat di RSCM pada 26 Desember. Perawatannya diawasi langsung tim dokter kepresidenan yang dipimpin Prof. Jusuf Misbach.

Kondisi Gus Dur kritis pada 30 Desember siang dengan komplikasi penyakit stroke, diabetes, dan jantung. Hingga kemudian Gus Dur wafat di usia 69 tahun pada pukul 18.45 WIB. Ia kemudian dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, Jawa Timur.

Kandidat presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (kiri), bersama mantan presiden Abdurrahman Wahid (tengah) dan pemimpin partai Islam Hidayat Nurwahid (kanan) berpose di hadapan wartawan usai salat Jumat di Jakarta (17/9/2004) Foto: BAY ISMOYO / AFP

Habibie pun pernah mendapatkan fasilitas dokter kepresidenan, seperti di era Jokowi. Saat Habibie dirawat di Munchen pada Maret 2018, Jokowi mengirim dokter kepresidenan, Prof. dr. Lukman Hakim Makmun, ke Jerman untuk memantau kondisi Presiden ke-3 RI itu. Habibie dirawat karena ada kebocoran pada klep jantungnya. Setelah dirawat selama beberapa hari, kondisi kesehatan Habibie membaik.

Sekitar setahun berselang, kesehatan Habibie kembali menurun. Ia dilarikan ke RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, pada 1 September 2019 karena gangguan pada klep jantungnya. Penanganan Habibie berada di bawah Ketua Tim Dokter Kepresidenan Prof Azis Rani. Prof Azis menyebut Habibie dirawat tim dokter spesialis dengan berbagai bidang keahlian seperti jantung, penyakit dalam, dan ginjal.

Setelah menjalani perawatan selama 10 hari, Bapak Teknologi Indonesia itu wafat di usia 83 tahun pada 11 September pukul 18.05 WIB. Jenazah Habibie dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jaksel.

Presiden ke-3 RI BJ Habibie berziarah ke makam istrinya, Hasri Ainun Habibie, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, 5 Juni 2019. Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Terakhir, mantan presiden yang tercatat pernah dipantau langsung tim dokter kepresidenan adalah SBY. Pada November 2021, SBY menjalani perawatan di Mayo Clinic, Rochester, Amerika Serikat, karena mengidap kanker prostat stadium awal. Ketika itu, Presiden Jokowi menugaskan tim dokter kepresidenan untuk memantau dan mendampingi SBY.

Dalam proses tindakan, SBY menyebut didampingi dua dokter Indonesia yakni Prof Rainy Umbas dan Robertus Bebet Prasetyo. Selain itu, SBY mengatakan tim dokter kepresidenan di bawah pimpinan Letjen TNI Budi Sulistya juga terus merawat, membantu, dan berkomunikasi dengan pihak Mayo Clinic.

Presiden Joko Widodo (kanan) dan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY (tengah) bersiap menyampaikan keterangan pers seusai melakukan pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu (21/9/2024). Foto: Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO

Bagaimana dengan Jokowi?

Hingga kini belum ada kejelasan apakah Jokowi dirawat dokter kepresidenan atau tidak. Bahkan jenis penyakit yang diidap Jokowi pun belum jelas rimbanya. Meski demikian, menurut penilaian dokter spesialis kulit Cashtry Meher berdasarkan gambar yang beredar, Jokowi diduga mengalami Stevens-Johnson Syndrome (SJS) atau vitiligo.

“SJS biasanya dipicu karena ada reaksi alergi obat, yang di mana sebelumnya tidak diketahui apakah seseorang itu memiliki alergi atau tidak. Sementara vitiligo kondisi autoimun yang menghilangkan pigmen kulit. Makanya ciri khas dari vitiligo adalah bercak putih seperti susu. Kalau SJS juga bercak putih namun bersisik,” jelas Cashtry yang juga Kabid Humas PB IDI kepada kumparan, Jumat (4/7).

Cashtry menyebut penyebab utama SJS yakni alergi obat-obatan seperti antibiotik, anti-inflamasi non-steroid, dan anti-konvulsan. Ruam kulit yang dialami penderita SJS, kata Cashtry, biasanya sakit. Setelah itu bakal ada yang melepuh, penderita mengalami demam dan nyeri tubuh, serta luka pada selaput lendir.

Presiden ke-7Joko Widodo saat mengantarkan cucu-cucunya berlibur di Solo, Kamis (26/6/2025). Foto: kumparan

Ia menyatakan seseorang yang menderita SJS perlu observasi ketat. “Karena dapat mengancam jiwa,” ucapnya. Adapun cara perawatannya bisa dengan menghentikan obat yang mengakibatkan alergi hingga perawatan intensif luka yang melepuh agar tidak infeksi.

Sementara bagi penderita yang mengalami vitiligo, kata Cashtry, sistem kekebalan tubuhnya menyerang sel-sel penghasil pigmen atau melanosit. Sehingga kulitnya menjadi warna putih susu, baik itu di bagian tangan, wajah, maupun tubuh lainnya. Berbeda dengan SJS, tingkat keparahan vitiligo tidak mengancam jiwa, tidak menular, dan tidak mematikan. Cara pengobatannya bisa dengan krim atau salep, maupun terapi cahaya atau laser.

“Vitiligo tidak ada penanganan khusus. Hanya mungkin faktor penyebabnya stres, hindari stres, hindari kelelahan, dan betul-betul rileks,” jelas Cashtry. Dugaan Jokowi mengalami SJS maupun autoimun ini sebelumnya pernah dibantah ajudannya, Kompol Syarif. “Hoaks itu, [Pak Jokowi] alergi biasa," kata Syarif.

Ilustrasi terkena vitiligo. Foto: Shutterstock

Sementara itu salah satu loyalisnya, Silfester Matutina, meminta publik tidak berandai-andai mengenai kondisi Jokowi. Terpenting, kata dia, Jokowi merasa baik-baik saja dan bahagia. Ia menyebut Jokowi secara psikis juga tidak terganggu dengan masalah ijazah maupun isu pemakzulan putranya yang juga Wapres, Gibran Rakabuming Raka.

“Kepada para masyarakat [yang berprasangka macam-macam], kayak Tuhan saja mereka, bahkan lebih dari dokter. Jangan sok tahu, apalagi mengatakan itu karena kutukan, enggak ada,” tutup Silfester.