Perjalanan eFishery: Dari Startup Sederhana, Jadi Unicorn lalu Kolaps

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi e-fishery. Foto: e-fishery
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi e-fishery. Foto: e-fishery

Gibran Hufaizah punya cita-cita yang luhur, saat mengembangkan perusahaan eFishery. Ia punya mimpi, bahwa aquakultur adalah masa depan ketahanan pangan.

Dilansir Bloomberg, Gibran yang saat itu berkuliah di Institut Teknologi Bandung terkesima dengan penjelasan dosennya soal budidaya Ikan Lele.

Mengaplikasikan ilmu dari dosennya, ia segera menyewa sebuah kolam lele. Tiga tahun kemudian, pria yang lahir dari kawasan kumuh Jakarta Timur ini telah memiliki 76 kolam lele.

Dari pengalamannya beternak lele, ia mencatat sejumlah masalah dan tantangan. Antara lain kecilnya margin keuntungan akibat biaya pakan dan harga lele yang murah.

Ia menemui soal lain perihal pakan. Terkadang, para peternak lele ini kurang bisa menakar kebutuhan pakan lele.

Kadang, lele-lele itu kekurangan pakan hingga kelebihan pakan. Kelebihan pakan akan mencemari air dan membuat lele terkena penyakit, melemah, lalu mati.

Keberuntungan lain ia dapatkan. Seorang kawannya, yang punya latar belakang teknologi membuat sebuah prototype pemberian pakan otomatis.

Terobosan ini mengurangi tantangan kelebihan-kekurangan pakan ikan. Dari dasar ini, ia mendirikan eFishery.

eFeeder, alat pemberi makan ikan dan udang otomatis yang diciptakan eFishery sebagai penunjang keberlanjutan budidaya ikan nila salin Foto: Dok. Biro Pers Setpres

eFishery juga menjadi platform marketplace untuk jual beli ikan dan udang. Pertemuan antara para peternak-peternak dan pembeli.

Gibran juga piawai dan menarik hati sejumlah institusi untuk memberi dukungan biaya bagi para peternak ini.

Dari bantuan finansial itu, Gibran dan kawannya membuat eFishery berhasil mengumpulkan masing-masing uang sebesar U$D 100 juta.

Saat diwawancarai Bloomberg pada 2023, perusahaan agritech-nya telah mencapai nilai U$D 1,4 miliar. Di balik dana besar itu, berjajar para invest0r raksasa sebut saja Kumpulan Wang Persaraan dari Malaysia, lalu ResponsAbilityInvestments AG, 500 Global, hingga sejumlah bank besar seperti Northstar Group, Temasek Holdings Pte, dan Softbank Group Corp.

eFishery juga telah melayani 70.000 peternak ikan dan udang di seluruh Indonesia. Gibran menyebut, dana besar ini akan ia gunakan untuk mengembangkan perusahaannya di Indonesia bahkan India, sebelum melakukan penawaran umum di Indonesia atau AS dalam 2 tahun mendatang.

"Kami ingin jadi pemimpin global, paling tidak 5 tahun ke depan, dan mencapai IPO," ucap Gibran.

"Ya, paling lambat terjadi di awal 2025," ucapnya kepada Bloomberg.

Keruntuhan eFishery

Cita-cita Gibran hanya isapan jempol belaka. Pada akhir tahun 2024, seorang sumber internal kumparan dari eFishery menyebut bahwa perusahaan mereka sudah berhenti berfungsi.

Sebab, mereka mem-PHK 90 persen karyawannya.

“Ya, betul ada PHK yang kena dampaknya hampir 90 persen dari total. Sebelum PHK pun, sejak akhir Desember (2024), company sudah tidak beroperasi,” kata sumber tersebut kepada kumparan, Selasa, 11 November 2024.

Sementara, PHK dilakukan pada bulan berikutnya, Januari 2025. “(PHK) sejak Januari (2025),” imbuhnya.

Pendiri dan CEO eFishery, Gibran Huzaifah. Foto: Ema Fitriyani/kumparan

Dari 10 persen karyawan ini, si informan juga belum mendapat kejelasan masa depan perusahaan.

“Yang tersisa saat ini juga belum terlalu jelas arahnya karena operasional masih belum dimulai lagi. Kalau ini (rencana ke depan) masih belum tau,” jelasnya.

Lantas ke mana dana fantastis yang dikucurkan para investor itu?

Sampaikan Laporan Palsu Pada Para Investor

eFishery ternyata menggelembungkan pendapatan mereka. Kasus ini bermula dari bocornya FTI Consulting, penasihat bisnis yang ditunjuk eFishery untuk manajemen bisnis. Penunjukan ini terjadi pada 5 Februari 2025, setelah eFishery melakukan PHK besar-besaran.

Langkah ini dilakukan menyusul adanya tuduhan pelanggaran termasuk penipuan laporan keuangan oleh anggota manajemen tertentu di dalam grup perusahaan.

Dari laporan FTI, eFishery dilaporkan telah menggelembungkan pendapatan mereka sebesar Rp 9,75 triliun, selama periode Januari-September 2024 kepada para investor.

Artinya, mereka menggelembungkan 75% pendapatan dari pendapatan riil yang diterima.

Kasus ini bermula dari bocornya informasi ke media berupa draf laporan setebal 52 halaman yang dikerjakan oleh FTI Consulting, dan dilanjutkan oleh seorang whistle blower yang menginformasikan hal ini kepada seorang dewan pengawas perusahaan.

Ditemukan, laporan keuangan eFishery tidak akurat dan banyak dimanipulasi. Penyelidikan terhadap eFishery dimulai pada Desember 2024 dan berujung pemecatan CEO sekaligus pendiri eFishery, Gibran Huzaifah.

Pada 5 Agustus 2025, Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri telah menetapkan 3 orang tersangka dari kasus ini.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Pol Helfi Assegaf. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Mereka adalah Gibran, selaku CEO eFishery. Lalu Mantan Wakil Presiden eFishery Angga Hardian, dan Mantan Wakil Presiden Pembiayaan eFishery Andri Yadi.

Mereka ditetapkan sebagai tersangka karena melakukan penipuan dan penggelapan dana investor.

"Ketiganya berkolaborasi, bersama-sama melakukan penipuan dan penggelapan terhadap proses investasi pada PT eFishery dengan melakukan mark up investasi tersebut," kata Dirtipideksus Bareskrim Polri, Brigjen Helfi Assegaf, kepada wartawan pada Selasa (5/8).

Helfi mengatakan, penyidikan hingga ditetapkannya tersangka dilakukan Bareskrim atas laporan dari pihak eFishery sendiri.

"Laporan dari eFishery," kata Helfi.

Helfi mengatakan, berdasarkan penghitungan awal, total uang yang telah digelapkan oleh para pelaku yakni senilai Rp 15 miliar.

"Untuk yang awal yang sudah bisa kita buktikan Rp 15 miliar," ujar dia.

Angka itu kemungkinan akan terus bertambah seiring dilakukannya penghitungan atau audit lebih lanjut dengan melibatkan PPATK.

"Karena masih proses semua, masih proses pendalaman, kita sedang lakukan audit juga terhadap laporan keuangannya dan penggunaan uang itu sendiri," ungkap Helfi.