Perjalanan Satu Dekade Kampung Malahing Bontang Lepas dari Gulita

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana kampung nelayan Mahaling di Bontang, Kalimantan Timur  (Foto: Darin Atiandina/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana kampung nelayan Mahaling di Bontang, Kalimantan Timur (Foto: Darin Atiandina/kumparan)

Butuh waktu lebih dari satu dekade bagi warga Kampung Nelayan Malahing di Bontang, Kalimantan Timur untuk bisa menikmati terangnya sinar lampu di malam hari.

Menurut salah seorang warga, Sarli (23), sejak kampung ini berdiri pada tahun 2001 hingga tahun 2014 pancaran sinar pelita menjadi andalan warga untuk melihat di malam hari. Sebab, menurut pria yang berprofesi sebagai nelayan tersebut pada saat itu belum ada aliran listrik yang mengalir di kawasan ini.

“Dulu kampung ini mulai ada tahun 2001, mulai ramai tahun 2005,” kata Sarli, Selasa (30/10).

“Listrik waktu itu belum ada sampai 2014. Sebelum ada listrik, pakainya pelita buat penerangan,” tambahnya lagi.

Suasana kampung nelayan Mahaling di Bontang, Kalimantan Timur  (Foto: Darin Atiandina/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana kampung nelayan Mahaling di Bontang, Kalimantan Timur (Foto: Darin Atiandina/kumparan)

Sarli sendiri baru hijrah ke Malahing sejak tahun 2010 mengikuti ayahnya yang juga seorang nelayan. Ayah Sarli termasuk salah satu orang pertama yang menginjakkan kaki di Malahing. Dari ayahnya, Sarli banyak tahu tentang sejarah kampung ini.

Sarli bercerita aliran listrik sendiri baru mulai merambah ke kawasan Malahing ketika PT Pupuk Kaltim memberikan bantuan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di tahun 2014.

Sayangnya, PLTS berkapasitas 15 KWH yang menjadi satu-satunya sumber penerangan kampung tersebut dikabarkan rusak. Hal ini membuat warga kembali menggunakan pelita sebagai sumber penerangan.

Suasana kampung nelayan Mahaling di Bontang, Kalimantan Timur  (Foto: Darin Atiandina/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana kampung nelayan Mahaling di Bontang, Kalimantan Timur (Foto: Darin Atiandina/kumparan)

Dari awal memang tidak mudah untuk membangun kampung yang letaknya berada tengah-tengah laut Kota Bontang ini. Kendalanya bukan hanya akses listrik yang sulit, menurut warga lainnya, Jumal (23), pondasi utama tempat tinggal mereka yang berasal dari kayu sering kali terhempas ketika badai menerjang.

Berkat bantuan dari PT Pupuk Kaltim berupa generator listrik baru datang pada Oktober 2018. Listrik dapat mengalir normal kembali. Untuk itu, Jumal mengatakan, “Setiap warga iuran Rp 15 ribu per lima hari buat patungan beli bahan bakar."

“Uang tersebut nantinya akan dikumpulkan dan diserahkan kepada Ketua RT untuk dibelikan bahan bakar (untuk genset),” jelas Jumal.

Bantuan PLN untuk kampung nelayan Mahaling di Bontang, Kalimantan Timur  (Foto: Darin Atiandina/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Bantuan PLN untuk kampung nelayan Mahaling di Bontang, Kalimantan Timur (Foto: Darin Atiandina/kumparan)

Perlahan tapi pasti, Kampung Nelayan Malahing terus menunjukkan perkembangannya. Hadir tanpa listrik, kini Malahing mampu bersinar di malam hari. Berawal dari satu hingga dua kepala keluarga, kini terdapat lima puluh kepala keluarga yang mendiami kampung tersebut.

Tidak hanya itu, Malahing yang terkenal sebagai kampung adidaya rumput laut dan teripang ini juga mulai menunjukan eksistensinya tidak hanya ke kota namun hingga pulai seberang yaitu Makassar, Sulawesi Selatan.

Kampung Nelayan Malahing memiliki potensi sumber daya pesisir yang cukup melimpah untuk terus dikembangkan. Oleh karena itu, bersamaan dengan genset baru, PT Pupuk Kaltim juga memberikan bantuan RP 1,3 miliar untuk membantu pengembangan perkampungan menjadi wilayah konservasi wisata turis.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno turut pula hadir untuk menyaksikan penyerahan bantuan tersebut secara seremonial, Senin (29/10).

Suasana kampung nelayan Mahaling di Bontang, Kalimantan Timur  (Foto: Darin Atiandina/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana kampung nelayan Mahaling di Bontang, Kalimantan Timur (Foto: Darin Atiandina/kumparan)