Perjuangan Guru Honorer di NTT: Lintasi Hutan ke Sekolah, Digaji Rp 150 Ribu

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang guru honorer Yustina Yuniarti berjalan menuju SDK Wukur di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Flores, NTT. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Seorang guru honorer Yustina Yuniarti berjalan menuju SDK Wukur di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Flores, NTT. Foto: kumparan

Di balik indahnya pemandangan alam Kabupaten Sikka, Flores, NTT, tersimpan sebuah perjuangan keras demi mencerdaskan bangsa. Yustina Yuniarti, seorang guru honorer di SDK Wukur, Desa Sikka, Kecamatan Lela, membuktikan bahwa dedikasi sering kali jauh lebih besar daripada imbalan materi.

Setiap hari, perempuan yang telah mengabdi sejak tahun 2016 ini harus menempuh perjalanan yang luar biasa. Dari rumahnya, ia menumpang kendaraan roda dua milik warga hingga pinggiran kampung, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 6 kilometer.

Jalur yang ia lalui bukanlah jalan beraspal mulus, melainkan jalan setapak berbatu, menembus hutan, dan berkelok di pinggiran jurang. Medan yang terjal memaksanya sering berhenti untuk beristirahat, bahkan hanya beralaskan sandal jepit. Namun, tak satu pun hal itu mampu memadamkan semangatnya.

“Saya sudah mengabdi 11 tahun. Setiap pagi saya berjalan melewati jalan berbatu, rusak, hutan, bahkan pantai. Jaraknya sekitar 6 kilometer. Meski berat, saya lakukan ini demi anak-anak di sini,” ujar Yustina, Senin (4/5/2026).

Digaji Rp 150 Ribu per Bulan

Seorang guru honorer Yustina Yuniarti berjalan menuju SDK Wukur di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Flores, NTT. Foto: kumparan

Yang membuat perjuangan ini semakin luar biasa adalah besaran penghasilan yang diterima. Yustina hanya menerima gaji sebesar Rp 150 ribu per bulan yang berasal dari iuran komite sekolah. Angka ini jauh dari kata layak untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Ironisnya, ia dan rekan-rekannya tidak mendapatkan akses dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk gaji. Pada awal mengabdi, ia bahkan hanya digaji Rp 15 ribu per bulan. Kini, meski naik sepuluh kali lipat, nominal itu tetap sangat minim.

“Banyak orang tidak mau mengajar di sini karena kondisi jalan dan keuangan yang tidak memungkinkan. Namun, kami bertahan karena panggilan hati,” tuturnya.

Yustina bukanlah satu-satunya yang berjuang. Kepala Sekolah SDK Wukur, Tersiana Siti Rosa, membenarkan kondisi tersebut. Dari delapan tenaga pendidik yang ada, hanya satu orang yang berstatus ASN. Sisanya, tujuh guru honorer, semuanya menerima penghasilan yang sama.

“Honor tersebut tentu tidak mencukupi kebutuhan, terutama bagi yang sudah berkeluarga. Namun, karena semangat mengabdi, mereka tetap bertahan mengajar,” ungkap Tersiana.

Keterbatasan Fasilitas

Seorang guru honorer Yustina Yuniarti berjalan menuju SDK Wukur di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Flores, NTT. Foto: kumparan

Kendala tidak hanya soal perjalanan dan gaji. Sekolah yang menampung 34 siswa ini juga mengalami keterbatasan ruang kelas. Satu ruangan harus digunakan untuk dua tingkat kelas dengan pembatas sekat. Belum lagi minimnya fasilitas serta ketiadaan jaringan internet.

Saat pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), guru dan siswa harus berjalan jauh menuju sekolah lain di kampung utama hanya untuk mengakses komputer.

Di tengah segala keterbatasan itu, Yustina dan rekan-rekannya menyimpan harapan besar. Mereka berharap sekolah ini dapat dinegerikan agar nasib guru lebih terjamin, serta adanya perhatian pemerintah untuk perbaikan jalan dan pembangunan rumah dinas.

“Kami juga berharap, jika ada seleksi CPNS, guru-guru swasta di daerah terpencil seperti kami dapat diprioritaskan,” harapnya.

Kepada Presiden Prabowo Subianto, para pahlawan tanpa tanda jasa di pelosok Sikka ini berpesan agar pemerintah melihat lebih dekat kondisi pendidikan di daerah terluar. Mereka membuktikan, meski tanpa gaji besar, cinta terhadap anak bangsa mampu memanggul beban sejauh 6 kilometer setiap hari demi masa depan yang lebih cerah.

Seorang guru honorer Yustina Yuniarti berjalan menuju SDK Wukur di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Flores, NTT. Foto: kumparan

Respons Kepala Sekolah

Kepala Sekolah SDK Wukur, Tersiana Siti Rosa, menyebutkan bahwa sekolah tersebut memiliki 34 siswa dan delapan tenaga pendidik. Dari jumlah tersebut, hanya satu orang berstatus ASN, sedangkan tujuh lainnya merupakan guru honorer yang digaji Rp150 ribu per bulan dari iuran komite dan bantuan terbatas.

“Jumlah murid 34 orang dan tenaga pendidik 8 orang. ASN hanya satu orang, sedangkan tujuh lainnya honorer dengan gaji Rp 150 ribu,” jelasnya.

Ia mengakui bahwa honor yang diterima para guru tidak mencukupi kebutuhan hidup, terutama bagi mereka yang telah berkeluarga. Namun, karena dedikasi dan semangat mengabdi, para guru tetap menjalankan tugas mereka.

“Honor tersebut tentu tidak mencukupi kebutuhan mereka, tetapi karena semangat mengabdi, mereka tetap bertahan mengajar,” ujarnya.

Selain masalah gaji, sekolah juga mengalami kekurangan ruang kelas. Pihak sekolah harus membuat sekat agar proses belajar mengajar tetap berjalan, sehingga satu ruang kelas digunakan untuk dua kelas sekaligus.

Selain keterbatasan fasilitas, sekolah tersebut juga belum memiliki jaringan internet. Saat pelaksanaan ANBK, para guru harus membawa siswa ke Kampung Sikka untuk menumpang di sekolah lain.

Ia berharap adanya perhatian dari pemerintah terhadap kondisi pendidikan di pelosok Kabupaten Sikka, NTT.