Perjuangan Kartika dan Sindrom MRKH: Melawan Stigma, Didukung Support System

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kartika bersama suaminya Susanto menceritakan kondisinya yang mengidap penyakit MRKH saat ditemui di Medan, Senin (12/10/2026). Foto: Amar Marpaung/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kartika bersama suaminya Susanto menceritakan kondisinya yang mengidap penyakit MRKH saat ditemui di Medan, Senin (12/10/2026). Foto: Amar Marpaung/kumparan

Lontaran kalimat "kapan punya anak?" berkali-kali diterima Kartika (32), perempuan asal Medan yang hidup dengan Sindrom Mayer Rokitansky Kuster Hauser (MRKH). Kondisi langka yang dialaminya sejak lahir itu membuat rahimnya tidak berkembang secara sempurna sehingga sulit untuk hamil.

Bagi Kartika, pertanyaan tentang anak bukan sekadar basa-basi. Ada perjalanan panjang yang harus ia lalui sejak remaja, ketika tubuhnya menunjukkan sesuatu yang berbeda dari perempuan seusianya.

Kartika menceritakan, dirinya tidak mengalami menstruasi saat memasuki masa pubertas ketika duduk di bangku SMP. Kondisi itu membuatnya diliputi kegelisahan dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada tubuhnya.

"Jadi itu bermula dari usia masuk pubertas. Itu kan tidak mengalami menstruasi dari awal. Jadi, pasti untuk perempuan ada rasa was-was kan. Karena kok belum menstruasi, padahal umurnya sudah masuk umur pubertas," kata Kartika saat berbincang-bincang dengan kumparan, Senin (12/10).

Kartika saat menjalani pengobatan penyakit MRKH. Foto: Dok. Pribadi

Ia kemudian memeriksakan kondisinya ke rumah sakit terdekat hingga mencoba pengobatan tradisional. Namun, berbagai upaya tersebut belum membuahkan hasil. Kartika pun melanjutkan pendidikan hingga SMA dan kuliah, sembari menjalani pengobatan rutin di Jakarta.

Hingga akhirnya, pada 2017, Kartika menikah dengan seorang pria bernama Susanto (35). Setelah menikah, keduanya kembali memeriksakan kondisi Kartika ke rumah sakit untuk mengetahui penyebab dirinya tidak mengalami menstruasi.

Hasil pemeriksaan mengungkap bahwa Kartika mengalami sindrom MRKH. Kondisi tersebut membuat rahimnya tidak berkembang dan saluran vaginanya juga tidak berkembang secara sempurna, sehingga ia tidak bisa mengandung.

"Di situ baru ketahuan bahwasanya aku mengalami MRKH syndrom, yaitu tidak berkembangnya rahim dan jalur vagina," tutur Kartika.

Kabar itu menjadi kenyataan yang harus dihadapi Kartika. Perlahan, ia mencoba menerima kondisi tubuhnya sekaligus menghadapi ketakutan tentang kemungkinan dirinya tidak bisa hamil.

Di tengah pergulatan tersebut, stigma masyarakat tentang perempuan dan keibuan turut membebani pikirannya. Pertanyaan mengenai kapan memiliki anak menjadi salah satu hal yang terus menghantuinya.

Kartika tidak tinggal diam. Ia mencoba mencari pengobatan untuk memperbaiki kondisinya hingga ke Malaysia. Namun, sindrom MRKH merupakan kondisi bawaan sejak lahir.

Pada 2019, Kartika menjalani vaginoplasti untuk memperbaiki kondisinya.

Dukungan Suami di Tengah Stigma

Selama menjalani rumah tangga bersama Susanto, Kartika masih harus menghadapi pertanyaan orang-orang tentang kehamilan. Pertanyaan seperti kapan hamil, mengapa belum memiliki anak, hingga kekhawatiran usianya akan semakin bertambah menjadi bagian dari kesehariannya.

Namun, lontaran pertanyaan itu tidak membuat Kartika menyerah atau terus-menerus merasa bersalah. Ia bersyukur memiliki suami yang menerima dirinya apa adanya.

"Lebih ke pertanyaan-pertanyaan orang aja sih 'kapan hamil? Kenapa enggak hamil-hamil, sudah nikah berapa tahun? Jangan lama-lama nanti ketuaan', gitu. Tapi kalau ke hubungan rumah tangga aku sendiri baik-baik aja. Kebetulan suami menerima aku apa adanya," kata Kartika.

Ilustrasi Hamil. Foto: Shutterstock

Bagi Susanto, awalnya sedih terkait kondisi istrinya. Namun, seiring waktu, ia menyadari bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak hanya bergantung pada kehadiran seorang anak.

Ia memilih untuk menerima kondisi Kartika dan menjalani kehidupan bersama tanpa menjadikan keterbatasan tersebut sebagai penghalang kebahagiaan mereka.

"Jadi, bagi saya yang penting dia menerima kekurangan aku dan aku juga menerima kekurangan dia. Jadi kita bisa hidup harmonis juga," ucap Susanto.

Susanto dan Kartika kemudian perlahan menjelaskan kondisi tersebut kepada kedua belah pihak keluarga. Mereka juga menyampaikan masih ada pilihan lain untuk membesarkan anak, salah satunya melalui adopsi.

"Kalau dari keluarga awalnya juga sama, enggak nyangka. Tapi lama-kelamaan kita jelaskan bahwasanya kita masih ada opsi. Opsi lain itu adalah adopsi. Jadi, pelan-pelan kita jelaskan ke keluarga, dan keluarga lama-kelamaan juga mulai menerima gitu," kata Susanto.

Bagi Susanto, tidak ada gunanya terus-menerus menyesali keadaan. Ia memilih berfokus pada masa depan dan memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Bagaimanapun, kondisi yang dialami istrinya merupakan sesuatu yang sudah ada sejak lahir.

Ia juga memahami bahwa kemungkinan Kartika mengandung anak mereka secara medis sangat kecil karena rahimnya tidak berkembang. Meski begitu, Susanto menyerahkan segala kemungkinan kepada Tuhan.

"Kalau kita bilang mukjizat kan sesuatu yang keajaiban kan. Artinya, kekuasaan Tuhan lah. Tapi kalau kita bilang secara medis memang tidak mungkin ya, karena memang kasus ini rahimnya tidak berkembang," tutur Susanto.

Kini, Kartika dan Susanto menjalani kehidupan rumah tangga tanpa kehadiran anak kandung. Keduanya berusaha menerima keadaan dengan tabah sembari merencanakan kemungkinan mengadopsi anak pada masa mendatang.