kumparan
search-gray
News4 Februari 2018 10:09

Perjuangan Menyalurkan Logistik bagi Warga Asmat di Tanah Papua

Konten Redaksi kumparan
Pelepasan bantuan kemanusiaan ACT ke Asmat
Pelepasan bantuan kemanusiaan ACT ke Asmat (Foto: Ardhana Pragota/kumparan)
Menyalurkan bantuan kemanusiaan di Papua bukan perkara mudah. Tidak cukup bermodalkan niat baik, proses penyaluran bantuan harus berhadapan dengan masalah kualitas infrastruktur serta cuaca buruk.
ADVERTISEMENT
Papua tengah menyedot perhatian karena didera wabah campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat. Gelombang bantuan berdatangan merespons kejadian luar biasa yang telah menewaskan 71 warga ini.
Salah satu program distribusi bantuan oleh organisasi Aksi Cepat Tanggap (ACT) juga menghadapi tantangan yang sama.
Kapal Kemanusiaan ACT memberangkatkan logistik berisi 100 ton beras, roti, air mineral, dan susu sebagai pertolongan darurat akan diberangkatkan menggunakan kapal kayu kapasitas 120 ton lewat Kabupaten Merauke.
Merauke dipilih karena kedekatan geografis dengan area tujuan di Distrik Agats, Kabupaten Asmat. Merauke memiliki lahan pertanian 1,2 juta hektare dengan produksi sebanyak 30 ribu ton pada 2017.
“Rasa-rasanya mengirim bantuan beras untuk kegiatan sosial di Indonesia Timur akan selalu mengandalkan Merauke ini,” ujar Presiden ACT Ahyudin dalam acara pelepasan kapal kemanusiaan di dermaga pelabuhan Pintu Air, Merauke, pada Sabtu (3/2).
Penderita Gizi Buruk di Asmat
Penderita Gizi Buruk di Asmat (Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Meski memiliki suplai yang ideal, Merauke masih dihadapkan masalah infrastruktur.
ADVERTISEMENT
Yudi Wijoyo selaku Kepala Bulog Sub Wilayah Kabupaten Merauke mengatakan, penyaluran pangan mengalami kendala pada proses distribusi. Yudi mencontohkan pada penyaluran kali ini terhambat oleh kondisi cuaca yang kurang baik untuk berlayar.
“Sekarang faktor cuaca menjadi tantangan untuk membawa bantuan. Cuaca sedang kurang bersahabat, ombak di lautan tinggi,” ucap Yudi kepada kumparan di Merauke.
Hambatan lain terkait distribusi logistik adalah infrastruktur yang belum optimal. Kebanyakan proses distribusi mengandalkan kapal kayu seperti yang digunakan ACT kali ini.
Perwakilan Pelindo 4, Silas War Fando, menceritakan bahwa pengapalan di Papua harus menyesuaikan kondisi geografis. Untuk mencapai titik terdampak di Asmat, contohnya, kapal yang digunakan harus menyesuaikan kondisi geografis setempat.
Kehidupan masyarakat Asmat
Kehidupan masyarakat Asmat (Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Kapal harus mampu masuk ke sungai-sungai sempit untuk menuju ke daerah pedalaman. Begitu juga dalam menjangkau wilayah terdampak campak dan gizi buruk di Asmat.
ADVERTISEMENT
“Kenapa dipilih pakai kapal kecil? Di Asmat lokasi yang terkena bukan di kotanya, bukan di pelabuhan. Kalau lewat pelabuhan besar, logistik tidak sampai di tempatnya,” beber Silas.
Kapal pengangkut bantuan direncanakan akan tiba di Asmat selama 2 hari 3 malam. Cuaca pada saat pemberangkatan cerah setelah hujan mengguyur Merauke beberapa hari belakangan. Gelombang laut juga dilaporkan tidak tinggi.
Namun, melaut di perairan Papua selama tiga hari adalah sebuah perjuangan. Papua sedang mengalami musim barat saat angin berhembus dari Benua Asia ke Benua Australia.
Nakhoda kapal pengangkut KM Anugrah Jaya, Jamaluddin, berujar bahwa kondisi perairan Papua berbeda dibanding wilayah lainnya di gugusan kepulauan Nusantara.
Pelaut yang memiliki pengalaman selama 10 tahun berlayar di lautan Papua ini mengatakan melaut di wilayah ini wajib memiliki perhitungan matang.
Jamaluddin, nakhoda kapal pelabuhan Merauke
Jamaluddin, nakhoda kapal pelabuhan Merauke (Foto: Ardhana Pragota/kumparan)
“Tidak macam laut Kalimantan atau Jawa yang gelombang satu sampai dua meter masih bisa dilewati. Kalau di sini gelombang di atas satu meter saja sudah sulit,” cerita Jamaluddin ketika tengah mengawasi proses bongkar muat barang.
ADVERTISEMENT
Ia menuturkan gelombang di lautan Papua bisa datang dari semua arah dan mengepung kapal. Melewati kondisi tersebut tidak bisa asal terjang. “Perlu perhitungan yang benar-benar matang,” katanya.
Setelah berhasil melewati lautan, kapal-kapal di Papua masih harus berlayar menjangkau destinasi yang kebanyakan melewati sungai. Banyak warga Papua tinggal di daratan yang jauh dari pesisir. Mereka tidak bisa hanya mengandalkan jalur darat.
Menaklukkan sungai menjadi kemampuan wajib lainnya yang harus dimiliki pelaut Papua.
“Banyak muara kita lewati. Kalau kali besar bisa tiba-tiba dangkal. Tapi tetap saja kita lewati itu,” ujarnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white