kumparan
10 November 2018 14:02

Perjuangan Perempuan di Medan Perang 10 November

Peringatan Hari Pahlawan. (Foto: Dok. gahetna.nl)
Dalam surat kabar Times London tertanggal 13 dan 14 November 1945, pada Minggu malam perempuan-perempuan Indonesia di Surabaya diwartakan keluar dan menyelamatkan mayat-mayat kaum pria. Mereka bahu-membahu menyelamatkan siapa pun yang menjadi korban kebengisan Sekutu, dalam hal ini adalah Inggris.
ADVERTISEMENT
Kala itu perjuangan revolusioner tengah dilakukan arek-arek Suroboyo menumpas kedatangan Inggris yang dianggap membawa ancaman. Tercatat mulai 28 Oktober 1945, perang besar-besaran mulai berkobar.
Kontribusi perempuan Surabaya itu menjadi bukti bahwa revolusi bukan hanya milik kaum lelaki. Para mudi-mudi dan ibu-ibu bersatu dalam satu barisan di gugus belakang perjuangan. Mereka mengobati dan menyelamatkan para lelaki yang menjadi korban perang.
“Perempuan itu memang ada laskar wanita. Itu banyak perempuan yang bertugas menjadi anggota palang merah, termasuk perawat-perawat. Waktu beberapa rumah sakit masih aktif ya, termasuk RS simpang sebelum direbut Inggris,” urai Sejarawan Universitas Indonesia Didik Pradjoko saat bersua kumparan, Kamis (8/11).
Sejarawan UI, Didik Pradjoko (Foto: Nesia Qurrota A'yuni/kumparan)
Korban-korban yang harus dievakuasi mereka tangani. Lalu, kebanyakan dari mereka kemudian dikirim ke Malang serta Mojokerto supaya jauh dari jangkauan Inggris.
ADVERTISEMENT
Memang, para perempuan itu tak memegang senjata. Tetapi, perjuangan mereka tak bisa diabaikan begitu saja. Kemahiran para perempuan di bidang kesehatan ini bersangkut paut dengan giatnya Jepang membentuk barisan militer semasa pendudukannya.
Pada Agustus 1943, Jepang membentuk barisan semi-militer untuk perempuan yang bernama Fujinkai, berarti himpunan perempuan. Adapun tujuan Jepang membentuk himpunan ini adalah untuk membantu usaha perang Jepang di garis belakang sesuai dengan kedudukan perempuan.
Untuk menjadi anggota Fujinkai, para perempuan minimal harus berusia 15 tahun. Sementara, tidak ada batasan maksimal untuk bisa menjadi anggota ini.
Anggota Fujinkai mengadakan kursus-kursus dan ceramah dalam usahanya menggiatkan menabung, meningkatkan kesehatan dan makanan, serta kepalangmerahan.
Kegiatan tersebut adalah hal yang jamak dilakukan oleh Fujinkai di Surabaya. Oleh sebab itu, ketika perang kemerdekaan pecah di Ibu Kota Jawa Timur ini, para barisan perempuan sudah memiliki kemampuan yang andal dan gesit bekerja.
ADVERTISEMENT
Lemper yang berubah jadi pisang
Peran perempuan di gugus belakang pertempuran Surabaya nyatanya tak hanya terjadi di bidang kesehatan. Para perempuan ini juga mengerahkan segenap tenaganya di dapur umum. Mereka terus memasak untuk mengisi kebutuhan logistik yang dibutuhkan para laki-laki.
“Termasuk pasukan yang bertempur mereka istirahat sekali-kali dan pengin makan enak,” cerita Didik.
Pada suatu hari, para pejuang Surabaya ingin memakan makanan yang enak, yaitu lemper, ketan berisi daging cincang di dalamnya. Disampaikanlah keinginan tersebut kepada mereka yang bersiaga di dapur umum.
Selang beberapa saat, di tengah kerisauan menunggu lemper, kiriman yang datang justru tak sesuai harapan. Para perempuan di dapur umum malah mengirim pisang.
“Mereka marah-marah, kenapa yang dikirim pisang bukan lemper,” tutur Didik mengilustrasikan para pejuang laki-laki.
ADVERTISEMENT
Ternyata, melencengnya pesanan itu akibat persediaan ketan yang sudah habis dari barisan perempuan. Setelah mengetahui musabab itu, para pejuang di medan perang pun tak lagi naik pitam. Mereka terus berjuang menumpas pasukan Inggris meski harus menelan ludah karena tak bisa menyantap lemper.
--------------------------------------------------------------
Simak story menarik lainnya mengenai Pertempuran Surabaya dalam topik 10 November 1945 .
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan