Permintaan Tinggi di Musim Hujan, Jas Hujan Laris Manis di Pasar Asemka

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Roni (32), salah satu pedagang jas hujan dan payung di Pasar Asemka, Jakarta Utara, Jumat (23/1). Foto: Ryan Iqbal/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Roni (32), salah satu pedagang jas hujan dan payung di Pasar Asemka, Jakarta Utara, Jumat (23/1). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Hujan yang tak berhenti mengguyur Kota Jakarta belakangan ini menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat urban yang aktivitasnya terus bergerak. Hal ini membuat jas hujan jadi keperluan penting bagi setiap warga Jakarta.

kumparan mencoba menelusuri, bagaimana dampak nyata hari-hari yang basah dengan penjualan jas hujan di Pasar Asemka, yang berada di bawah Flyover Pasar Pagi, Jakarta Utara.

Kios-kios yang menjual jas hujan, meletakkan dagangannya di bagian paling depan, seolah difungsikan sebagai magnet bagi pembeli. Sementara itu, di sekitarnya terdapat produk lain seperti masker, sarung tangan, dan kaus kaki yang berperan sebagai pelengkap.

Pedagang payung dan jas hujan di Pasar Asemka mengaku saat ini permintaan terhadap jas hujan tinggi, Jumat (23/1). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Hal ini terbukti dari banyaknya orang yang singgah ke kios untuk membeli jas hujan. Tak hanya satuan, pembelian kerap dilakukan dalam jumlah banyak hingga bertumpuk-tumpuk dan diangkut di bagian belakang sepeda motor, menandakan tingginya permintaan.

Rizal (26), salah seorang pedagang di Pasar Asemka, mengaku bahwa jas hujan bukanlah produk utama yang ia jual. Ia hanya menjajakan barang tersebut saat musim hujan tiba.

"Kalau jas hujan memang produk saya juga. Cuma nggak setiap momen ada gitu. Paling momen musim penghujan aja baru saya jualan jas hujan," kata Rizal, Jumat (23/1).

Pedagang payung dan jas hujan di Pasar Asemka mengaku saat ini permintaan terhadap jas hujan tinggi, Jumat (23/1). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Rizal menyebutkan, pada momen seperti sekarang, jas hujan bisa terjual hingga berlusin-lusin setiap harinya.

"Sehari kurang lebih bisa laku 10 lusin lah. Ya, dari 5 sampai 10 lah. Bahkan kalau lagi emang hujannya lagi konsisten gitu dari pagi sampai malam gitu, bisa lebih dari 10," ujarnya.

Hal serupa disampaikan Roni (32), pedagang lainnya di Pasar Asemka. Ia membenarkan bahwa permintaan jas hujan meningkat signifikan. Menurutnya, di kios miliknya, jas hujan bisa terjual hingga berkarung-karung setiap hari.

Warga membeli payung dan jas hujan di Pasar Asemka, Jakarta Utara, Jumat (23/1). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

"Setiap hari ada. Setiap hari kita minimal kalau jas hujan ini sekitar 10 karung, 5 karung. Paling dikit 5 karung," kata Roni.

Roni pun tampak antusias merinci kuantitas penjualannya per hari.

"Kalau hitung aja per karungnya berarti 42 lusin ya. 12 dikali 42, berarti sekitar 480 pcs per karung. Dan sehari 5 karung," ungkapnya.

Ia menambahkan, sejak hujan kerap turun, jas hujan menjadi produk yang paling cepat terjual dibandingkan barang lain di kiosnya.

"Belakangan ini hujan, ya kita penjualan yang lebih cepat jas hujan," ucap Roni.

Dijual Reseller di Pinggir Jalan, Jas Hujan Plastik Jadi Favorit

Penjual payung dan jas hujan di Pasar Asemka, Jakarta Utara tampak ramai dikunjungi oleh para pembeli di tengah musim hujan yang terjadi, Jumat (23/1). Pedagang mengaku saat ini permintaan terhadap jas hujan tinggi. Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Roni menjelaskan, harga jas hujan di kiosnya dijual Rp 10 ribu per buah untuk pembelian satuan. Namun, mayoritas pembeli justru membeli dalam jumlah lusinan.

"Ya, kalau orang-orang pengecer itu ya Rp 10 ribu. Tergantung orang beli per lusin. Kalau orang pengecer ini ya kita ama kita belinya per lusin. Ya selusin ada yang harga Rp 45 ribu, yang harga Rp 55 ribu, yang ada harga Rp 30 ribu," ucap Roni.

Menurut Roni, pembelian dalam jumlah besar tersebut umumnya dilakukan untuk dijual kembali.

"Lebih banyak beli lusinan. Iya yang buat dijual lagi mereka, yang kayak jual pinggir-pinggir jalan itu,"

Dari berbagai jenis jas hujan yang tersedia di kiosnya, Roni mengatakan bahwa jas hujan berbahan plastik menjadi pilihan utama pembeli.

"Kebanyakan jas hujan plastik. Karena jas hujan plastik itu lebih simpel bagi mereka itu. Ya harga bagi mereka ya terjangkau lah," katanya.

Pedagang payung dan jas hujan di Pasar Asemka mengaku saat ini permintaan terhadap jas hujan tinggi, Jumat (23/1). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Roni yang telah berjualan di Pasar Asemka sejak era pandemi tampak cakap menjelaskan kualitas produk kepada para pembeli. Ia menyebutkan bahwa meski jas hujan plastik paling banyak terjual, jenis tersebut bukanlah yang paling berkualitas.

"Ya, perbedaannya kan kalau yang itu kan, kalau yang murah itu kan plastik bahannya. Kalau yang bagus itu kan dari bahan parasut. Jadi kalau dari bahan parasut itu dia lebih awet bahannya. Jadi untuk kena sinar matahari pun juga masih kokoh," paparnya.

Ia juga menjelaskan persoalan rembes yang kerap dialami pengguna jas hujan. Menurutnya, hal tersebut berkaitan dengan metode pembuatan.

Pedagang payung dan jas hujan di Pasar Asemka mengaku saat ini permintaan terhadap jas hujan tinggi, Jumat (23/1). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

"Tapi kalau untuk bahan terjamin tidak rembes, itu harus nyarinya kita yang press. Kalau press kan namanya dia enggak ada untuk masuk celah jalan air ke dalam tuh enggak ada dia. Kalau jahitan, jadi ada dia masuk jalan airnya itu dari jahitan. Dikit-dikit lama-kelamaan kan rembes jadinya. Kalau press-an enggak," jelas Roni.

Sebagai penutup, Roni memberikan tips memilih jas hujan yang berkualitas. Ia menyarankan pembeli untuk memilih bahan karet.

"Parasut tapi nyarinya yang press-an. Tapi kebanyakannya jarang sih, jarang pres kalau parasut. Jadi nyari-nyarinya sejenis karet nyarinya. Bahan karet. Nah itu bahan karet terjamin itu, enggak bakal tembus," tutupnya.