Pesan untuk Anak Muda yang Masih Suka Nongkrong di Kala Pandemi COVID-19

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas yang mengenakan kostum berbentuk virus corona membawa poster saat sosialisasi penggunaan masker di kawasan Sarinah, Jakarta. Foto: Wahyu Putro A/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Petugas yang mengenakan kostum berbentuk virus corona membawa poster saat sosialisasi penggunaan masker di kawasan Sarinah, Jakarta. Foto: Wahyu Putro A/Antara Foto

Saat ini tidak ada pihak yang bisa memastikan kapan pandemi COVID-19 akan berakhir, termasuk Satgas Penanganan COVID-19. Namun, masyarakat, termasuk kalangan anak muda, tetap bisa menjalani kehidupan secara produktif dan optimal dengan cara beradaptasi dan menjalankan prinsip-prinsip protokol kesehatan.

Lantas, bagaimana dengan anak-anak muda yang masih suka nongkrong? Relawan Satgas Penanganan COVID-19 Nasional, Savero Karamiveta Dwipayana, memberikan sejumlah pesan kepada anak-anak muda pada Webinar Pendidikan Karakter (Pendikar) Universitas Bung Hatta di Kota Padang, Sumatera Barat, Jumat (23/10).

“Hanya dengan beradaptasi kita bisa menjalani semuanya dengan tetap mengedepankan produktivitas. Pandemi COVID-19 memang membatasi hampir semua kegiatan kita. Akan tetapi kalau kita melakukan optimalisasi dari apa pun kegiatan produktif dan positif yang kita lakukan, maka kita tetap akan bisa menjalani semuanya dengan baik,” kata pria yang akrab disapa Ero ini.

Relawan Satgas Penanganan COVID-19 Nasional, Savero Karamiveta Dwipayana pada Webinar Pendidikan Karakter (Pendikar) Universitas Bung Hatta di Kota Padang Sumatera Barat, Jumat (23/10/2020). Foto: Dok. Istimewa

Webinar dengan tema ‘Kecerdasan Komunikasi dan Hati Jadi Kunci Kesuksesan dan Kebahagiaan' ini diikuti sekitar 1.600 mahasiswa baru serta mahasiswa senior, dan dosen Universitas Bung Hatta.

Selain Ero, pembicara dalam webinar ini adalah pakar komunikasi dan motivator nasional, Dr Aqua Dwipayana, yang juga merupakan ayah Ero. Webinar dibuka oleh Rektor Universitas Bung Hatta Prof Dr Tafdil Husni.

Ero mengingatkan mahasiswa dan generasi muda untuk senantiasa terus optimal dalam setiap hal, termasuk saat berkegiatan di kala pandemi COVID-19.

“Bagaimana kita bisa tetap berkiprah sama seperti ketika tidak ada pandemi, tapi tentu tanpa aktivitas tatap muka langsung dan juga mengedepankan protokol kesehatan. Istilahnya adalah optimalisasi dengan adaptasi,” kata peraih penghargaan Mahasiswa Anugerah Pegiat Gerakan Kemanusiaan dan Pemberdayaan Masyarakat dari Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad tersebut.

"Siapa yang tidak bisa beradaptasi akan terlindas dan tergilas. Adaptasi kebiasaan baru adalah hal utama," imbuhnya.

Karyawan menggunakan pelindung wajah dan masker saat melakukan aktivitas di pusat perkantoran, kawasan SCBD, Jakarta, Senin (8/6/2020). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Ero yang sejak awal pandemi COVID-19 bergabung dengan Satgas Penanganan COVID-19 Nasional atas ajakan Letjen TNI Doni Monardo tampil impresif.

Mahasiswa yang sejak SMA sudah aktif berorganisasi dan berkiprah dalam banyak kegiatan sosial tersebut mengawali pemaparan dengan menyampaikan data-data terkait pandemi COVID-19 yang sampai saat ini trennya masih tinggi di Indonesia.

Menurut Ero yang mengutip data termutakhir Satgas Penanganan COVID-19 Nasional, angka penambahan kasus masih terus tinggi. Hal itu menyebabkan kasus COVID-19 di Indonesia kini melampaui angka 300 ribu orang, terhitung sejak kasus pertama diumumkan Presiden Jokowi pada 2 Maret 2020 lalu.

“Angka penderita aktif artinya yang saat ini masih positif juga tinggi yakni 63.000 orang. Sedangkan angka penambahan kasus per hari mencapai lebih dari 4.000. Tentu saja ini harus menjadi perhatian kita semua,” ujar Ero.

Warga menggunakan masker beraktivitas di Kawasan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (13/3). Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Pada situasi demikian, ia mengamati banyak anak muda yang sulit mengadaptasi kebiasaan baru karena masih terjebak pada kebiasaan lama. Misalnya saja kesenangan nongkrong bersama teman-teman sesama mahasiswa atau anak muda.

“Masih banyak yang tidak peduli dengan masih tingginya COVID-19, banyak juga orang-orang yang merasa kok COVID-19 lama, enggak beres-beres. Tapi dirinya sendiri yang ngomong itu dia tetap nongkrong, berkumpul bersama teman-temannya dalam kerumunan,” ungkap Ero.

Menurut Ero, hal tersebut akan berdampak pada penyelesaian pandemi COVID-19. Menurutnya pandemi akan berlarut-larut apabila seseorang tidak taat menerapkan protokol kesehatan.

"Kadang itu yang agak susah untuk disosialisasi dan diedukasi, bahwa COVID-19 ini enggak akan selesai-selesai kalau memang dari diri kita sendiri tidak taat pada protokol kesehatan," ucap mahasiswa semester VII di Fikom Unpad tersebut.

Peran Anak Muda Atasi Pandemi COVID-19

com-Ilustrasi Nongkrong Foto: Shutterstock

Ero menegaskan menghadapi pandemi COVID-19 harus dimulai dari diri sendiri. Dalam pandangannya, banyak hal yang dapat dilakukan anak muda untuk berkontribusi. Hal yang paling mudah adalah melawan hoaks atau berita bohong, misalnya di lingkup keluarga.

“Se-simple menjadi orang yang melawan hoaks di grup keluarga. Kan anak muda kita sering buka search engine, buka Google segala macam, kita bisa cepat nyari fakta tentang isu yang berkembang dari grup keluarga,” tutur dia.

Lantas, sebagai mahasiswa apa yang bisa dilakukan? Menurut Ero, kolaborasi adalah kunci. “Bukan lagi kompetisi. Karena kita bukan superhuman yang bisa melakukan semua hal sendiri. Di sinilah perlunya kolaborasi dan kerjasama. Gambarannya ibarat puzzle bagaimana setiap bagian saling mengisi dan menutup bolong masing-masing,” tegas Ero.

Mengasah Kemampuan Komunikasi Secara Komprehensif

com-Ilustrasi anak muda Foto: Shutterstock

Sementara itu pada paparannya, Dr Aqua Dwipayana, mengungkapkan untuk bisa menggapai keberhasilan dalam kehidupan, seseorang tidak hanya bisa mengandalkan pada kecerdasan berpikir.

Keberhasilan dan kebahagiaan dalam hidup hanya bisa diperoleh lewat kecerdasan komunikasi dan kecerdasan hati. Oleh karena itu, setiap generasi muda dituntut mengasah kemampuan komunikasi secara komprehensif tanpa harus belajar secara formal.

Pada kesempatan itu, Aqua menekankan para mahasiswa harus menjadi insan yang pandai bersyukur. Terutama mereka sudah menjadi bagian dari Universitas Bung Hatta yang memiliki kredibilitas kuat dan menghasilkan banyak prestasi.

“Semua kesuksesan itu kini berpulang kepada adik-adik mahasiswa sendiri. Mulai sekarang harus bisa mengelola diri. Dari semester I hingga IV optimalkan diri Anda di kampus untuk menuntut pengetahuan sebanyak mungkin. Nah, dari semester V ke atas sebaliknya harus semakin sering berinteraksi dengan pihak eksternal dengan aktif di berbagai organisasi atau bahkan industri sehingga menjadi pengalaman yang penting dan sering ditanyakan oleh perusahaan,” urai Aqua.

Penulis buku super best seller "The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi" ini kemudian menjabarkan jenis-jenis mahasiswa yang diwakili oleh beberapa sebutan. Ada istilah mahasiswa “kupu-kupu”, yang merupakan singkatan dari kuliah-pulang kuliah-pulang.

Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana. Foto: Savero Karamieveta

Banyak orang beranggapan bahwa mahasiswa tipe ini kurang berkembang karena aktivitasnya cenderung monoton dan kurang bersosialisasi dengan teman di dalam ataupun luar kampus. Ada juga kutu kupret, kunang-kunang, dan lain-lain. “Semua tinggal Anda yang memilih yang terpenting pikirkan semua bagi masa depan Anda sendiri,” ujar Dr Aqua menegaskan.

Ia juga menguraikan tentang pentingnya kecerdasan komunikasi dan kebersihan hati yang harus dijaga sejak dini. Cara mencapai efektivitas komunikasi dapat dijalankan dengan rumus REACH Plus AC.

Hal ini mengacu pada lima aspek yakni Respect atau perhatian yaitu di mana saja, kapan pun, kepada siapa pun selalu menghormati jangan meremehkan. Kemudian, Empati atau bisa menempatkan diri yaitu bagaimana merasakan apa yang dirasakan orang lain dengan melayani dengan optimal dan standar tidak ada perbedaan.

“Selanjutnya audible yaitu bisa dipahami atau dimengerti. Kemudian, clarity yaitu menggunakan bahasa yang sederhana dalam berkomunikasi. Terakhir, humble atau rendah hati, tidak ada yang perlu disombongkan. Semuanya kemudian dilengkapi dengan huruf ‘A’ dan "yakni Action atau tindakan nyata dan cepat serta "C" Consistensy atau konsisten,” jelas Aqua.

Di akhir webinar Aqua menekankan siapa pun harus menjaga kebersihan hati, berkomunikasi yang baik dengan semua orang, dan selalu berpikir positif. “Jadilah teladan dalam partisipasi dan kontribusi, tinggalkan ego agar menjadi ‘hero’. Anda punya ide apa pun untuk kebaikan jangan ragu menyampaikannya dan tidak perlu takut gagal,” tegas Aqua.

Infografik Yang Muda yang Cegah Corona. Foto: kumparan

----------------------------------

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona

embed from external kumparan