Pesan Wahiduddin Adams usai Purnabakti dari MK: Tetap Pegang Etik & Jaga Marwah
·waktu baca 2 menit

Mantan Hakim Konstitusi Wahiduddin Adams meluncurkan buku saat purnatugas sebagai hakim konstitusi. Wahiduddin meluncurkan dua buah buku yang berjudul 'Dalam Pusaran Kehidupan dan Supremasi Konstitusi' dan buku kedua yang berjudul 'Membiasakan yang Benar'.
Dalam momen tersebut, Wahiduddin berpesan kepada para hakim MK yang masih bertugas agar memegang teguh etik dan menjaga marwah lembaga.
“Belajar dari pengalaman-pengalaman dan kita tetap pegang etik dan peraturan perundang-undangan karena di sini syaratnya tadi negarawan, mudah-mudahan dapat semuanya menjaga marwah, muruah, dan harkat martabat di institusi yang kita banggakan ini,” demikian pesan Wahiduddin kepada para hakim MK saat ditemui wartawan di Gedung MK, Jakarta, Kamis (18/1).
Adapun terkait bukunya itu, Wahiduddin membeberkan pengalamannya 10 tahun menjadi Hakim Konstitusi. Di dalamnya termasuk membahas soal etik, meski tidak banyak.
Dia berharap bukunya itu bisa menjadi rujukan untuk membiasakan hal yang benar. “Tapi ternyata itu tadi, membiasakan yang benar paling penting, daripada mengatakan ini sudah biasa. Oleh sebab itu, karena sudah biasa, kita anggap sebagai sebuah kebenaran,” ungkapnya.
"Ya mudah-mudahan itu menjadi inspirasi untuk implementasinya. Bukan hanya kita jadikan jargon atau semacam mantra-mantra gitu ya," sambungnya.
Dalam momen yang sama, Ketua MK Suhartoyo, dalam sambutannya juga menyinggung buku dari Wahiduddin Adams. Ia menilai, buku yang ditulis oleh Wahiduddin itu bisa menjadi sebuah rujukan.
“Ketika kemudian membiasakan sesuatu yang benar, itu sesuatu yang pasti sudah teruji kebenarannya. Quote itu yang sebenarnya selalu saya teringat terus ketika kemudian di hari-hari kemudian ketika ada di MK ini,” ujar Suhartoyo.
Selain buku dari Wahiduddin Adams, eks Hakim Konstitusi lainnya yakni Manahan M.P Sitompul juga merilis hasil karya terbarunya yang diberi judul 'Ora Et Labora'.
Selain itu, Hakim Konstitusi yang baru dilantik, yakni Arsul Sani juga ikut merilis karyanya dengan judul 'Dialektika Kontra-terorisme di Indonesia'.
“Pagi ini saya bisa menyimpulkan bahwa kawan-kawan para Yang Mulia yang hobi menulis ini adalah orang-orang yang hebat. Artinya orang yang mau menuangkan tulisan, ide, pikiran, dan gagasan ke dalam sebuah keabadian. Itu catatan penting pagi hari ini menurut saya,” tutup Suhartoyo.
