Pesawat Antariksa Jepang Bawa Pulang Sampel Debu untuk Buktikan Asal-Usul Planet

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) Kapsul Hayabusa2 membawa sampel ekstensif pertama dari asteroid yang menyala saat memasuki atmosfer bumi. Foto: Kyodo/via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) Kapsul Hayabusa2 membawa sampel ekstensif pertama dari asteroid yang menyala saat memasuki atmosfer bumi. Foto: Kyodo/via REUTERS

Setelah misi enam tahun dalam mengungkapkan asal-usul planet dan air, Jepang mengambil kapsul debu asteroid dari pedalaman terpencil Australia.

Mengutip Reuters, sebuah kapsul Hayabusa2 tak berawak, membawa sampel debu ekstensif pertama dari asteroid. Sampel tersebut kemudian diterbangkan dengan helikopter dari pedalaman Australia ke fasilitas penelitian domestik Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA).

"Pesawat itu mendarat di asteroid dua kali, dan kedua kalinya menciptakan kawah buatan dan mengumpulkan beberapa puing. Saya berharap ini akan menjelaskan bagaimana tata surya terbentuk dan bagaimana air dibawa ke Bumi," kata presiden badan tersebut, Hiroshi Yamakawa pada konferensi pers.

Ia juga menambahkan bahwa kapsul tersebut kemungkinan mengandung beberapa gas yang akan diekstraksi di Australia.

Pesawat kapsul yang diluncurkan pada 2014 dari Pusat Antariksa Tanegashima Jepang itu melakukan perjalanan selama empat tahun ke asteroid Ryugu, tempatnya mengumpulkan sampel dan pulang pada November 2019.

Saat itu, penonton berkumpul di teater dekat Tokyo, Jepang untuk melihat kepulangannya. Mereka mengenakan topeng dan menjaga jarak satu sama lain sebagai tindakan pencegahan terhadap penyebaran virus corona.

Asteroid selama ini diyakini terbentuk saat fajar tata surya. Para ilmuwan mengatakan sampel tersebut mungkin mengandung bahan organik yang bisa berkontribusi pada kehidupan di Bumi.

"Apa yang sebenarnya kami lakukan di sini adalah mencoba mengambil sampel batuan murni yang belum tersinari matahari," kata ahli astrofisika Lisa Harvey-Smith.

Pengambilan kapsul itu juga menyoroti kerja sama teknis yang erat antara Jepang dan Australia.

"Pekerjaan kami mendukung JAXA tidak akan selesai sampai kami melihat sampelnya, dengan selamat meninggalkan Australia dan kembali ke Jepang," Megan Clark, kepala Badan Antariksa Australia, mengatakan pada konferensi pers.

Pesawat Hayabusa2 mengorbit di atas asteroid selama beberapa bulan untuk memetakan permukaannya sebelum mendarat. Setelah Hayabusa2 menurunkan kapsulnya, kapsul itu berubah arah dan kembali ke luar angkasa.