Pesawat N250 Karya BJ Habibie Dimuseumkan di Yogyakarta

kumparanNEWSverified-green

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pesawat buatan BJ Habibie yaitu N250-100 yang pertama kali terbang di 1995. Foto: Resya Firmansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pesawat buatan BJ Habibie yaitu N250-100 yang pertama kali terbang di 1995. Foto: Resya Firmansyah/kumparan

Pesawat rancangan putra-putri tanah air, N250 tidak akan terbang lagi. Pesawat yang jadi jawaban Indonesia atas kemampuan industri dirgantara ini akhirnya di grounded dan akan masuk museum pusat dirgantara di Yogyakarta.

Hal itu disampaikan oleh akun twitter resmi TNI AU, @_TNIAU.

Kadispen TNI AU, Marsma Fajar Adriyanto memberikan sejarah singkat pengembangan pesawat ciptaan Presiden je-3 Indonesia BJ Habibie ini. Mulai dari rancangan hingga memiliki ratusan jam terbang.

X post embed

Tahun 1987, Pengembangan Pesawat

Pengembangan pesawat N250 digawangi oleh PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (PT IPTN, kini menjadi PTDI) pada tahun 1987.

"Pada saat itu, IPTN semakin meningkatkan jumlah tenaga kerjanya terutama para insinyur. Proses rancang bangun ini melibatkan kurang lebih 4.000 insinyur yang di antaranya lebih dari 35 sarjana S2 dan 100 sarjana S3," kata Fajar dalam keterangan tertulisnya, Rabu (19/8).

Dalam rancangannya, N250 menjadi salah satu pesawat yang akan menggunakan berbagai teknologi mutakhir, salah satunya menggunakan mesin turboprop.

Untuk kelengkapan kabin, N250 juga mendapat beberapa perangkat canggih pada zamannya, antara lain fly by wire system, full glass cockpit with engine instrument and crew alerting system (EICAS), engine control with full autorithy digital engine control (FADEC), electrical power system with variable speed constant frequency (VSCF) generator. Instrumen ini biasa digunakan pada pesawat tempur kala itu.

Dengan seabrek perangkat di atas, N250 bisa terbang lebih cepat dibanding beberapa pesawat buatan luar negeri seperti ATR 72 (Prancis), De Havilland-Q 400 (Kanada) dan MA60 (Cina).

Pada tahun 1988, sekitar 30 insinyur IPTN, berangkat ke California, Amerika Serikat. Mereka melanjutkan pengembangan satelit palapa di Hughes Aerosystem. Sementara itu, rancangan N250 yang jadi penerus CN235 juga terus berlangsung.

kumparan post embed

Tahun 1989, Penampilan Perdana N250 di Paris Air Show

Industri dirgantara Indonesia mengagetkan dunia. Pada gelaran ini, BJ Habibie memperkenalkan N250 ke kalangan Internasional. Dengan publikasi tersebut maka para pesaing N-250 begitu was-was, ditambah dengan N250 menerapkan begitu banyak teknologi mutakhir serta sejumlah perusahaan penerbangan lokal telah memesan pesawat canggih tersebut

Tahun 1992, Tahap Produksi N250

N250 memasuki tahap produksi ditandai dengan menekan spindle mesin CNC (computer numerical control machine) untuk melakukan pemotongan pertama material untuk bagian sayap di hanggar Fabrikasi (Aerostructure) oleh Direktur Utama IPTN B.J. Habibie pada Agustus 1992. Komponen N-250 yang pertama dibuat yaitu bagian sayap kiri atas berbahan baku aluminium alloy.

Pesawat N250 Gatotkaca rancangan Habibie yang masih tersimpan di PT Dirgantara Indonesia (DI) Bandung, Jawa Barat. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Tahun 1994, Kelahiran N250 Gatot Koco

Bisa dibilang, tahun ini merupakan hari bahagia bagi industri penerbangan tanah air. N250 yang menjadi kebanggaan bangsa akhirnya selesai. Pesawat berkapasitas 50 penumpang ini ditarik (roll out) dari hanggar oleh 50 karyawan PT IPTN. Pesawat itu pun dinamai Gatot Koco oleh Presiden Soeharto kala itu.

Setelah itu beliau memberi nama tiga prototipe N250 berikutnya yang akan dibangun dengan kapasitas 70 penumpang yaitu Krincingwesi, Koconegoro dan Putut Guritno, dan Krincingwesi sudah sempat dibangun dan diujiterbangkan

Tahun 1995, Gatot Koco Terbang Perdana di Usia Emas Indonesia

Tepat pada peringatan 50 tahun kemerdekaan Indonesia, N250 Gatot Koco terbang perdana. Acara ini dihadiri langsung oleh Presiden Soeharto, Ibu Tien Soeharto, dan Wakil Presiden Try Sutrisno. Rombongan kenegaraan tersebut mengawasi acara terbang perdana itu di menara pengendali.

Presiden juga berkomunikasi langsung dengan pilot N250, Kapten Pilot Erwin. Presiden menanyakan tentang fungsi dan kompartemen terbang kepada sang Pilot.

N250 terbang sekitar 56 menit, dan diawaki oleh chief test pilot Erwin Danuwinata dan co-test pilot Sumarwoto serta flight test engineers Hindawan Haryo Wibowo dan Yuarez Riadi. Pesawat akhirnya mendarat selamat di Lanud Husein Sastranegara, Bandung.

Lalu, peristiwa itu juga membuat Soeharto meresmikan bahwa tanggal 10 Agustus 1995 ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Teknik Nasional (HARTEKNAS).

Sebelumnya, pada Juni 1995, BJ Habibie menandatangani Declaration of Intent dengan Dick Campton selaku perwakilan dari Gubernur Alabama, Amerika Serikat. Hal tersebut menyepakati tentang minat IPTN mendirikan pabrik perakitan pesawat N250 di kota Mobile, Alabama.

Pilot Penerbang Gatok Kaca N250 Ester Gayatri di Kediaman Habibie. Foto: Rafyq Alkandy Ahmad /kumparan

Rencananya, N250 bisa dirakit satu sampai tiga pesawat per minggu oleh American Regional Aircraft Industry (AMRAI) di kota tersebut.

Selain di Amerika Serikat perakitan N250 juga akan dilaksanakan di Jerman. Pada 13 Juni 1995 Surat Kesepakatan Bersama (SKB) ditandatangani oleh Menteri Ekonomi, Teknologi dan Perhubungan Nierdersachsen Jerman, DR. Fisher. Dalam penunjukannya Aircraft Services Lemwerder (ASL) sebagai agen tunggal N250 untuk wilayah penjualan Eropa dan IPTN memiliki 25,11 % saham di perusahaan ini.

Khusus untuk Eropa, IPTN akan memfokuskan penjualan pesawat N250 berkapasitas 70 penumpang. Rencananya IPTN akan mendirikan pabrik perakitan di kota Lemwerder apabila ASL berhasil menjual 18 unit N250 sebagai titik penjualan.

Mockup kokpit pesawat N250 yang dipamerkan dalam Orbit Habibie Festival di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (17/10/2019). Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

Tahun 1996, Penerbangan Perdana N250 Krincing Wesi

Setahun setelah Gatot Koco terbang, Krincing Wesi menyusul. Pesawat ini mengudara pada gelaran Indonesia Air Show yang digelar di Bandara Soekarno Hatta. Berbeda dengan Gatot Koco, Krincing Wesi bisa mengangkut 70 penumpang.

Tahun 1997 N250 dan CN235 Pamer Kekuatan di Paris Air Show

N250 Gatot Koco terbang perdana ke luar Indonesia. Kali ini, tujuannya adalah Paris. Pesawat yang dipiloti oleh Kolonel Penerbang (purn) Chris Sukardjono dan Letkol Penerbang Sumarwoto berhasil menempuh jarak 13.500 kilometer dari Bandung ke Paris.

Pesawat ini terbang bersama CN 235 dan menempuh rute Bandung, Bangkok, Calcuta, Bombay, Muskat, Riyadh. Alexandria, Brindisi, hingga tiba di Le Bourget, Paris. Perjalanan ini memakan waktu 30 jam.

Jarak tempuh tersebut menjadi perhitungan bagi N250 di dunia internasional, dan jawaban Indonesia atas industri dirgantara dunia. Pulangnya, N250 menempuh rute berbeda.

Pesawat singgah ke Turki, Mesir, Uni Emirat Arab, Pakistan, Thailand, Vietnam, Filipina dan Brunei Darussalam sebelum kembali ke Bandung. Kedua pilot ini merasa sangat bangga dan terharu bisa menerbangkan pesawat buatan dalam negeri.

Ragam jenis pesawat milik PT Dirgantara Indonesia di Hanggar Rotary Wing, Kawasan Produksi II PTDI, Bandung. Foto: Elsa Toruan/kumparan

Tahun 1999, Dampak Buruk dari Krisis Moneter

Krisis moneter memberikan kemunduran signifikan bagi industri penerbangan tanah air. Meski Prototipe N250 PA 1 Gatot Koco dan PA 2 Krincing Wesi terus melakukan uji terbang, namun mereka menggunakan dana dari PT IPTN sendiri. Pemerintah, hanya mendanai pembangunan fasilitas Uji Terowongan Angin (Wind Tunnel Test) Transonik di LAGG Puspiptek Serpong.

Kondisi IPTN pun memburuk. Ditambah lagi dengan LoI IMF dan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 1998 juga mengakibatkan berhentinya program N-250 dan N-2130 serta batalnya beberapa proyek terkontrak, karena harga material melonjak tinggi. Dampak lanjutan dari krisis moneter tersebut adalah pendapatan IPTN yang merosot tajam dan sebagian karyawan IPTN kehilangan beban kerja. Sementara itu sebagian karyawan IPTN melakukan beberapa kali aksi demo.

Hal ini patut disayangkan, pasalnya N250 telah terbukti sesuai dengan design requirement and objectives (DR&O).

Pesawat N250 Gatotkaca rancangan Habibie yang masih tersimpan di PT Dirgantara Indonesia (DI) Bandung, Jawa Barat. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Tahun 2000, Dampak Krisis Moneter yang Berlanjut

Pada 2 Maret 2000 Pemerintah mengeluarkan keputusan Presiden (Kepres) Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2000 tentang Pencabutan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 1980 tentang Larangan Pemasukan dan Pemberian Izin Pengoperasian Pesawat Terbang. Hal tersebut berdampak pada berakhirnya proteksi negara terhadap produk-produk IPTN.

Pada tahun ini, Presiden Abdurrahman Wahid mengganti nama PT IPTN menjadi PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Perombakan organisasi dilakukan dengan membentuk unit bisnis baru, untuk mendongkrak pendapatan perusahaan. Sayangnya, hal ini tidak dapat mendongkrak pengembangan N250. Di tahun 2000 ini juga terjadi terjadi empat kali aksi demo besar karyawan pada masa pelaksanaan program pensiun APS tahun ini.

Tahun 2020, N250 Gatot Koco dan Krincing Wesi di Grounded

Akhir kisah dari pesawat kebanggan Indonesia. Dua pesawat ini terpaksa harus dilarang terbang sampai waktu yang ditentukan. Hal ini juga diperparah dengan berhentinya proses produksi prototipe N250 PA 3, Koco Negoro yang sudah seperempat jadi.

Secara total, N250 PA 1 Gatot Koco dan N250 PA 2 Krincing Wesi telah menempuh 850 jam dari 1700 jam uji terbang yang ditetapkan untuk sertifikasi pesawat.

Infografik Pesawat N250 Gatotkaca. Foto: Maulana Saputra/kumparan