Pesawat Saudia Terbakar di Bandara Riyadh, Diduga Kena Proyektil Serangan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ledakan. Foto: yenwen/Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ledakan. Foto: yenwen/Getty Images

Sebuah pesawat milik maskapai nasional Arab Saudi, Saudia, mengalami kerusakan parah setelah terbakar saat sedang berada di area terminal Bandara Riyadh, Kamis (8/10).

Dilansir Reuters, tiga sumber yang mengetahui kejadian tersebut mengatakan pesawat mengalami kerusakan berat. Mereka menduga kerusakan pada badan pesawat berkaitan dengan serpihan atau bahkan hantaman langsung proyektil.

Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan kebakaran maupun dari mana proyektil atau serpihan tersebut berasal. Pemerintah Arab Saudi hingga kini juga belum memberikan penjelasan resmi mengenai insiden tersebut.

Sumber-sumber tersebut mengatakan pesawat diduga sedang dalam kondisi kosong dari penumpang ketika kejadian berlangsung. Namun, mereka belum dapat memastikan apakah ada korban luka akibat insiden tersebut.

Asap membumbung tinggi di Bandara King Khalid, Riyadh, Arab Saudi pada Kamis (8/10). Asap itu diduga berasal dari pesawat penumpang yang terkena serangan. Foto: social media via REUTERS

Kantor media pemerintah Arab Saudi, otoritas penerbangan sipil, maupun Saudia belum merespons permintaan komentar terkait kejadian ini.

Insiden tersebut terjadi di tengah situasi keamanan regional yang masih sensitif.

Namun, belum ada konfirmasi resmi yang memastikan pesawat tersebut terkena langsung rudal Houthi. Pemerintah Arab Saudi, otoritas penerbangan sipil, dan Saudia belum memberikan keterangan mengenai penyebab kebakaran maupun kemungkinan korban dari insiden tersebut.

Insiden itu terjadi pada hari ketika Houthi mengeklaim melancarkan serangan rudal balistik ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan serangan tersebut mengenai sasaran dan mengganggu aktivitas penerbangan. Tapi, klaim itu belum dikonfirmasi pemerintah Arab Saudi.