Peserta Popkab Sleman Merasa Dicurangi Panitia, Dispora Akan Tanya Penyelenggara

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ghiyats Gajaksahda alias Egi, peserta Popkab Sleman. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ghiyats Gajaksahda alias Egi, peserta Popkab Sleman. Foto: Dok. Pribadi

Dispora Kabupaten Sleman merespons curhatan orang tua Ghiyats Gajaksahda terkait anaknya diduga dicurangi panitia dalam cabang olahraga renang 100 meter.

Kepala Dispora Kabupaten Sleman Agung Armawanta mengatakan, akan memanggil kedua belah pihak yakni panitia dan orang tua untuk mengklarifikasi.

"Biar terang benderang semua," kata Agung melalui sambungan telepon, Rabu (29/11).

Agung menjelaskan dalam perlombaan ini, setiap line memiliki time keeper. Baik di start maupun di finis. Dia berharap kasus itu akan tuntas.

"Saya berasumsi, artinya gini kan nomernya banyak, yang lain juga tidak ada komplain dengan time keeper itu. Mudah-mudahan dan logikanya mestinya semua mestinya sudah diamati dikalibrasi (alatnya) sebelumnya," ujarnya.

"Mudah-mudahan besok jelas semua, yang jelas kita dengarkan dulu nanti seperti apa (dari masing-masing pihak)," sambungnya.

Curhatan Orang Tua

Yanuar, ayah dari Egi, menjelaskan soal kronologi insiden ini. Ia mengatakan bahwa saat perlombaan yang digelar pada 26 November lalu itu, anaknya tidak didiskualifikasi.

''Anak saya Egi selama perlombaan saya videoin terus. Seharusnya dia juara dua, anak saya yang di tengah itu seharusnya juara dua,'' kata Yanuar kepada kumparan, Rabu (29/11).

''Itu berjalan kan. Kalau misalnya ada diskualifikasi biasanya ada buku acara atau diumumkan, ada berita acara, misalnya diskualifikasi untuk nomor sekian. Nah, ini tidak ada di berita acara, artinya tidak ada diskualifikasi, kami yakin Egi juara dua, tapi pas pengumuman kok anak saya tidak disebutkan,'' lanjutnya.

Yanuar merasa dirinya memiliki bukti yang cukup kuat dengan video yang dia ambil saat Egi bertanding. Namun, panitia tidak mau melihat barang bukti tersebut.

''Saya komplain ke panitia, kok nama anak saya tidak ada. Dan mereka bilang itu sudah keputusan panitia. Saya punya videonya, karena ini tadinya anak saya juara dua, ini saya ada videonya,'' ucap Yanuar.

''Panitia berkelit, berargumen sudah tidak bisa. Video yang dari orang tua itu tidak bisa menjadi komplain. Kemudian, yang sudah diumumkan [hasil perlombaan] tidak bisa diganggu gugat.''

''Panitia tidak mau melihat videonya, panitia saya minta melihat videonya, mereka tidak mau, ya sudah.'' ungkapnya.

Egi, kata Yanuar, tak kuasa menahan tangisnya usai dinyatakan gagal menjadi runner-up. Ia bahkan menceritakan bahwa Egi hampir saja finis sebagai yang tercepat.

''Nangis, nangis anaknya. Jadi, dia sudah tahu kalau dia juara 2, dilihat dari videonya. Sebenarnya mau juara 1, tapi hampir [menang] di akhir, dia lemah, mungkin capek enggak kuat,'' ucap Yanuar.

''Jadinya, dia disusul sama yang juara 1, itu bedanya cuma selisih beberapa waktu, enggak terlalu jauh,'' tandasnya.