Pesisir Pantai Selatan Bali Banjir Sampah Plastik Setiap Tahun

Tak hanya ramai oleh pedagang dan turis yang sedang pelesir, gundukan sampah pun terlihat hampir di sepanjang Pantai Kuta, Bali.
Musim 'banjir sampah' memang bukan sesuatu yang baru lagi bagi masyarakat di pesisir Pantai Kuta. Fenomena ini terjadi setiap tahun, bahkan menurut masyarakat setempat, ini sudah terjadi sejak zaman baheula. Masalah sampah mencapai puncaknya saat musim hujan datang, karena angin mendorong sampah dari sungai ke pantai.
Cak Mul, seorang pedagang rujak tepi Pantai Kuta mengungkapkan bahwa fenomena ini memang sudah pasti terjadi setiap tahun. Itulah mengapa pada masa-masa ini ia bersama para pedagang selalu memiliki rutinitas untuk ikut membersihkan sampah-sampah tersebut.

“Sehari bisa bolak-balik turun bersihkan sampah. Ya, yang complain biasanya tamu (wisatawan-red) karena tidak bisa rileks di pantai. Tapi ini kan memang sudah terjadi setiap tahun,” kata pria asal Jember yang sudah berjualan sejak tahun 1986 tersebut.
Selasa (6/2), tampak petugas Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung membersihkan pantai dari sampah kiriman ini. Tak hanya terjadi di Pantai Kuta, namun hal serupa juga terjadi hampir di pantai kawasan selatan Bali, termasuk pantai di wilayah Canggu dan Kedonganan.
Volume Sampah Meningkat
Dwipayana, Koordinator Reaksi Cepat DLHK Badung, menyampaikan bahwa terjadi peningkatan volume sampah jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada bulan November 2016 hingga April 2017 volume maksimal sampah dari pantai-pantai di kawasan selatan yang dibawa ke TPA Suwung berjumlah 3 ribu ton. Sementara baru memasuki Februari 2018, volume sampah sudah 3 ribu ton.

Ia khawatir, kali ini volume sampah bisa menyamai kondisi pada tahun 2014 yang mencapai 5 ribu ton, ditambah kondisi cuaca buruk akhir-akhir ini.
“Yang tahun ini baru Februari, sudah 3 ribu ton yang dibawa ke TPA Suwung. Kalau tahun 2017, maksimal sampai selesai musimnya itu mentok di 3 ribu ton. Ini perkiraan baru akan selesai awal April, sementara yang di bawah ini masih banyak yang belum dibawa ke TPA,” ujar Dwipayana saat ditemui kumparan (kumparan.com).
Perbandingan sampah organik dan anorganik sendiri cukup kentara. Ia menyampaikan, khususnya pada sampah-sampah plastik, jumlahnya di luar perkiraan dan tak masuk akal. Ia memperkirakan perbandingan 2:1 antara sampah plastik dan kayu yang selama ini telah dikumpulkan pihak DLHK Badung.

Selain sampah-sampah bawaan dari sungai, ia juga mengkhawatirkan adanya oknum yang membuang sampah di tengah laut.
“Kalau plastik biasanya dari loloan (sungai), kalau kayu-kayu kemungkinan kebanyakan dari daerah Tabanan. Tapi kemarin ini kami sempat menemukan topi-topi SD dari Jawa terbawa ke sini. Yang tidak masuk akal itu jumlah sampah plastik, banyak sekali jika dibandingkan dengan sampah kayu,” tambahnya.
Ia tidak memungkiri banyaknya protes, khususnya dari wisatawan yang baru datang dan mendapati area pantai dipenuhi sampah. Namun, menurutnya ini sudah menjadi fenomena yang pasti terjadi setiap tahunnya. Hanya saja memang solusi belum didapatkan untuk menangani sampah-sampah kiriman tersebut.
Selain mengerahkan 700 personel DLHK tiap harinya yang turun untuk membersihkan sampah, Dwipayana menyampaikan bahwa dari tahun ke tahun kerja sama masyarakat untuk membersihkan sampah sudah lebih baik. Termasuk para wisatawan dan komunitas peduli sampah di Bali.
Hal serupa disampaikan oleh Wayan Sirna, Ketua Satgas Pantai Desa Adat Kuta. Kerja sama juga dilakukan bersama para pedagang di sepanjang Pantai Kuta. Tapi tidak dapat dipungkiri, kurangnya kesadaran masyarakat khususnya penduduk desa yang membuang sampah ke sungai yang bermuara ke laut.
“Kalau sampah memang sudah bagian dari Pantai Kuta, selesai kalau angin barat ini sudah berhenti. Kami bekerja sama dengan DLHK dan melibatkan pedagang di sepanjang pantai. Ini kan sampah dari mana-mana, termasuk dari sungai. Ya memang mungkin kesadaran masyarakatnya di desa masih kurang untuk itu, masih ada dari mereka yang buang sampah ke sungai,” kata Sirna.
