Petani di Kota Denpasar Terapkan Energi Terbarukan Buat Kelola Kebun
ยทwaktu baca 3 menit

Kebun Kalpataru yang terletak di tengah Kota Denpasar, Bali, tepatnya di Jalan Sedap Malam menerapkan energi terbarukan dalam pengelolaan lahan. Tujuannya mendukung teknik bercocok tanam yang berkelanjutan demi masa depan lingkungan alam.
"Kami tidak mengerti ke depan karena pembebanan listrik yang menggunakan tenaga diesel atau tenaga uap itu menggunakan bahan fosil yang jumlahnya terbatas kalau digunakan terus maka lambat laun akan habis sehingga harus ada alternatif lain," kata Teknisi Kebun Kalpataru Anak Agung Putu Darmayasa kepada Kumparan, Jumat (22/8).
Kebun Kalpataru menanam sejumlah tanaman dan buah seperti cabe, terong, kangkung, bayam, durian, alpukat dan lain sebagainya. Luas perkebunan mencapai 0,4 hektare.
Kebun Kalpataru menggunakan dua jenis sumber energi, yaitu, biogas dan panel surya. Penggunaan biogas sudah diterapkan sejak tahun 2022 dan panel surya sejak tahun 2023 lalu.
Bahan utama dalam biogas ini menggunakan kotoran dari lima ekor sapi yang dipelihara di dalam kebun. Setiap hari sekitar 10 kilogram kotoran sapi dimasukkan ke dalam biodigester. Kebun Kalpataru memasang pipa-pipa di sepanjang kebun menyalurkan gas metana dari hasil fermentasi kotoran sapi ke kompor gas di dapur kebun.
Kompor gas berbahan bakar gas metana biogas dimanfaatkan merebus jamu premium yang dijual ke sejumlah restoran di Bali. Yakni, jahe, kunyit dan kayu manis. Kebun Kalpataru berencana memperluas penggunaan biogas di dapur memasak makanan yang dikonsumsi sehari-hari agar lebih hemat.
"Kalau tanpa biogas kami memakai 4 tabung gas melon selama 4 hari untuk masak jamu dan makanan sehari-hari, dalam sebulan minimal sebulan mengeluarkan Rp 140 ribu, sekarang lebih hemat. Kalau mengandalkan gas sering langka, sekarang kita malah punya banyak sumber gas," kata bapak usia 58 tahun ini.
Kebun Kalpataru juga memanfaatkan limbah sisa produksi biogas dan urine sapi sebagai pupuk di perkebunan. Urine sapi dengan campuran cairan Biosaka N Level 1.
Manfaat menggunakan pupuk organik ini menjadikan tanah lebih subur, tanaman lebih sehat dan tingkat produktif lebih tinggi dibandingkan menggunakan pupuk kimia. Apalagi, lahan Kebun Kalpataru berkarakter tanah merah hingga berpasir.
Kebun Kalpataru bahkan kini tak perlu pusing memikirkan biaya membeli pupuk yang semakin mahal dan menyusun jadwal serta komposisi pupuk agar tanaman tidak rusak atau gagal panen.
"Beberapa tanaman sempat rusak karena hujan asam, ini sudah mulai pulih lagi. Tanaman alpukat yang sudah mulai belajar berbuah, kemudian ada tanaman limau itu sudah berproduksi, kemudian ada tanaman jambu air itu sudah 60% berproduksi," katanya.
Sedangkan, Kebun Kalpataru menggunakan pompa air tenaga surya untuk mengairi kebun. Kebun Kalpataru memiliki sekitar 12 panel surya berkapasitas 3.000 watt. Konsumsi listrik untuk satu kali proses pengairan Kebun sekitar 700 sampai 1.200 watt.
Kebun Kalpataru menyediakan baterai menyimpan energi sinar matahari sebagai cadangan listrik, apabila lampu padam atau musim kemarau.
Menurut Darmayasa, penggunaan energi terbarukan untuk teknik pertanian dan perkebunan masih jarang ditemukan di Bali karena membutuhkan modal besar dan keuletan merawat teknologi.
Kebun Kalpataru setidaknya mengocek kantong lebih dari Rp 25 juta untuk mendirikan panel surya dan peralatan lainnya. Namun, dalam perjalanannya, biaya bercocok tanam lebih murah karena tak perlu membeli pupuk dan membayar listrik untuk mengairi perkebunan.
Dia berharap semakin banyak anak muda yang menjadi petani dan mengembangkan penggunaan energi terbarukan untuk memperluas ruang terbuka hijau di Kota Denpasar.
"Kota Denpasar di mana-mana sudah gedung, kalau tidak ada yang mempertahankan sawah, kebun, pertanian ya kasihan generasi masa depan. Hidup hirup polusi tanpa ada udara bersih," katanya.
Kebun Kalpataru sendiri dikelola secara mandiri dan mempekerjakan dua orang petani. Kebun Kalpataru juga menerima mahasiswa magang atau pelajar lain yang ingin belajar cocok tanam dengan metode ramah lingkungan.
